• Kriminal
  • Hukum & Politik
  • Otomotif & Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Pemerintahan
  • Ormas & Komunitas
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Essay
  • Opini
Selasa, April 21, 2026
  • Login
  • Register
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
  • Profile
No Result
View All Result
Warta Bianglala
Advertisement
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
  • Profile
No Result
View All Result
Warta Bianglala
No Result
View All Result
Home Kabar Hari Ini

Disebut “Bupati Pauk”, Bupati Lahat Respon: “Dia Tidak Paham”

admin by admin
11 April 2026
in Kabar Hari Ini, Lahat, Parlemen - DPR, Pemerintahan
0 0
0
Disebut “Bupati Pauk”, Bupati Lahat Respon: “Dia Tidak Paham”
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Lahat – Lahat lagi-lagi menyajikan satu hal yang tak pernah habis, yakni drama kecil dengan gema panjang. Kali ini dari forum yang mestinya serius, reses tahap II DPRD Kabupaten Lahat dapil VI tahun sidang 2026, yang entah bagaimana berubah jadi panggung sindiran.

Adalah Harlin Kurniawansyah, anggota DPRD dari Fraksi NasDem, yang mendadak viral. Bukan karena gebrakan kebijakan, tapi karena satu kata yang dilempar dengan ringan, tapi jatuhnya berat: “Bupati pauk.”

Pauk yang dimaknai sebagai kolam, mendadak jadi metafora. Tapi seperti banyak metafora di dunia politik, ia sering kali lebih dekat ke emosi ketimbang substansi.

Dalam forum itu, Harlin tampak gusar. Ia menyoroti anggaran Rp13 miliar untuk Tebat Kota Raya yang disebutnya “langsung di enjuk”. Sementara itu, Puskesmas Pajar Bulan, menurutnya, justru seperti lupa disentuh.

“Yang urgen ini Puskesmas kami lengah ngawale,” ujarnya.

Keluhan itu sah. Bahkan wajar. Tapi kemudian arah kalimatnya berbelok, dari kritik menjadi sindiran.

“Die sibuk nak ke pauk saje.”

Dan seperti biasa, di era serba rekam, kalimat itu tak berhenti di ruangan. Ia menyeberang ke TikTok lewat akun @suhu.pengobatan, lalu menjelma jadi konsumsi publik. Dari situ, kata “pauk” tak lagi sekadar istilah, ia berubah jadi bahan perdebatan.

Harlin juga menyinggung pembagian anggaran kesehatan yang dinilai lebih banyak mengalir ke Kikim dan Merapi.

“Kite maklum saje, kepala e jeme situ,” katanya, setengah menyindir, setengah menyerah.

Di luar gedung dewan, warga mulai angkat suara. Ade, warga Jarai, mengingatkan hal sederhana yang kadang dilupakan saat emosi naik.

“Kami maklum mungkin kecewa, tapi jangan sampai bilang bupati pauk. Itu tidak etis,” katanya.

Lalu, bagaimana respons orang yang disindir?

Ketika dikonfirmasi, Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, tidak memilih jalan panjang. Ia justru menjawab pendek, tapi cukup untuk memantik tafsir.

“Dia tidak paham!”

Selesai? Ternyata belum. Kalimat itu kemudian punya ekor dan di situlah perspektif mulai berubah arah.

“Kurang paham anak ini. Tebat itu akan berdampak besar kepada tenaga kerja dan produktivitas ikan untuk peningkatan PAD dan kesejahteraan rakyat. Potensi tebat kita luar biasa, tapi ikan kita malah dari mana? Lubuk Linggau. Ironis,” ujarnya.

Di sini, “pauk” yang semula terdengar seperti ejekan, pelan-pelan bergeser jadi konsep. Tebat bukan lagi sekadar kolam diam, tapi ruang ekonomi yang belum dimaksimalkan.

“Karena itu, potensi besar budaya ikan kita akan menambah produktivitas ikan kita untuk kemajuan rakyat Kabupaten Lahat,” lanjutnya.

Ada semacam benturan klasik di sini: antara yang ingin cepat terlihat hasilnya, dan yang percaya bahwa hasil besar butuh waktu dan arah.

Puskesmas jelas penting, tak ada yang menyangkal. Tapi menertawakan tebat sebagai “pauk” mungkin terlalu tergesa-gesa. Sebab di balik air yang tampak tenang itu, ada potensi yang tak kecil: lapangan kerja, produksi ikan, hingga PAD yang selama ini justru “bocor” ke daerah lain.

Ironisnya, kita selama ini makan ikan dari luar, padahal kolam sendiri luas terbentang. Jadi, mungkin masalahnya bukan pada “pauk”-nya. Tapi pada cara melihatnya.

Dan di Lahat hari ini, perdebatan bukan cuma soal siapa yang bicara, tapi siapa yang benar-benar paham apa yang sedang dibicarakan.

Warta Video

Arsip

  • sosial
  • Pendidikan
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • TNI & Polri
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Essay
  • Seni & Budaya
  • Opini
  • Profile
  • Indeks
  • Kode Etik
  • Karir
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber
  • SmartSlider
  • Profile

© 2026 by Ricko Hazadi

No Result
View All Result
  • Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional

© 2026 by Ricko Hazadi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?