Catatan Hefra Lahaldi di Hari Ayah

“Jika engkau seorang ayah, belum tentu engkau menjadi guru. Namun, jika engkau seorang guru maka engkau adalah ayah sesungguh” (Pepatah Jepang)

Duhai..Alangkah beratnya untuk mengambil kesemua hak atas doa dan pinta dari anak-anak kita sebagaimana yang diungkap oleh imam Al-Ghazali.“sungguh, yang berhak engkau doakan pertama kali adalah guru mu.” Ujar sang imam. “orang tuamu hanya melahirkanmu. Sedangkan gurumu adalah orang mengenalkan dirimu pada tuhanmu.”

Suatu ketika seorang ahli ilmu dilayangkan sebuah tanya kepadanya. “Penghormatan dirimu kepada gurumu sungguh melebihi penghormatan dirimu terhadap ayah kandungmu.” Maka sang ahli ilmu itu menjawab.

“Karena ayahku adalah faktor sebab bagi kebahagiaan kehidupanku didunia yang fana, sementara keberadaan guruku adalah orang yang mendidik dan membimbingku yang dengannya menjadi sebab kebahagian bagi kehidupan yang abadi di surga.”

Sungguh menjadi ayah adalah pemegang kemudi atas arah tuju dalam perjalanan hidup keluarga. Maka, persaksian beban tugas ini oleh anak, istri dan keluarga kita adalah hal yang paling bermakna bagi kita. Karena, sesungguhnya terhadap wanita yang dinikahi dan anak-anak yang dilahirkan dari rahim istri. Mereka kesemua bertitah memberi perintah kepada sang pengemudi. “bawalah kami semua kesurga”

Sedang mereka diluar sana hanya sebatas penikmat dan pengagum sekilas. Ini yang sering dibahas guru-guru kita. Kenapa terkadang bisa saja seorang motivator mampu mempengaruhi audiensnya, relasi mereka. Namun, terkadang tidak menjadi baik dimata keluarga mereka. Anak dan istri mereka. Atau para ayah yang sukses dalam karir kerjanya.

Menjadi teladan bagi mitra dan partner kerja dengan segala pujian yang mendera. Juga bagaimana sang suami yang menjadi idola diluar sana atas pengaguman orang lain terhadap segala pesona, yang sejatinya istri yang paling berhak atas pesona itu dan anak-anak nyalah yang berhak atas keteladanan dan keidolaan.

Mestilah bagi sang pengemudi untuk menyandarkan setiap kuasa yang dilakukan dalam penyadaran arah tujuan bagi keluarga adalah kepada Allah semata. Karena sejatinya adalah apa yang dilakukan kesemuanya semata ikhtiar yang dimaksimalkan. Hidayah bukan hak milik sang pengemudi (ayah). Adalah kisah Nuh dan Luth cukup menjadi penyadar bagi kita bahwa sang kemudi tak punya kuasa penuh atas hasil usahanya. Bahterah Nuh yang mengangkut para mereka yang beriman kepada Allah tak dibersamai oleh keluarganya, anak dan istrinya. Mereka semua adalah nabi. Sekali lagi, peran kebaikan memang harus terus dimaksimalkan. Dan peran itu menjadikan kita sebagai syarat untuk tidak berlindung terhadap dua nama nabi yang agung Nuh dan Luth..Aaahhh bahkan mereka yang dari golongan nabi dan rasul saja tak mampu membawa anak dan istrinya menjadi bagian dari ketakwaan. Bahkan keluarga mereka tertap saja durhaka.

Tetaplah..! luangkan waktu yang berharga terhadap keluarga kita. Luangkanlah bimbingan dan pengajaran pada mereka anak-anak kita yang rasulullah sifatkan sebagai wewangi surga. Inilah wewangian surga yang dengannya seorang Amirul Mukminin Umar bin Khatab tak segan memecat gubernurnya. Perihal keras hati dan kaku diri dalam membersamai anak-anaknya. “Apakah engkau melakukannya wahai Umar, sedangkan jabatanmu adalah khalifah.?” Tanya sang gubernur tatkala melihat Umar mencium anaknya.

“Jika kau tak sayang pada mereka.” Jawab Umar. “Bagaimana engkau menyayangi rakyatmu.”

Muawiyyah pernah berbaring dilantai istana sedang diatas perutnya dua orang anak bermain menindih. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya letak jawabnya disandarkan kepada sabda baginda “Siapa yang memiliki anak kecil hendaklah ia bercanda dan bermain bagi mereka”

Dari hadits diatas. Menurut Ibnu Hajjar al-Asqalani mengajak anak-anak bercanda bentuknya bukan lagi sebuah keringanan yang sedapatnya saja dilakukan. Tapi ia lebih menjadi sunnah yang mesti dilakukan. Tidaklah mesti kesebuah taman gratisan atau kewahana yang mewah bermodal wahh. Cukup dirumah saja dengan memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Atau bahkan setiap anggota tubuh kita menjadi wahana bermain baginya. Sesabda baginda “sungguh penunggangnya adalah penghulu pemuda didunia dan disurga.” Ketika Hasan dan Husein menaik punggung rasulullah. Mari hadirkan sunnah dirumah bahagia kita bersama mereka wewangi surga.

Tentu saja dalam pemenuhan hak dan kewajiban bagi mereka keluarga ada keseimbangan. Akan ada sebuah pergulatan dalam diri kita. Tentang cinta dan marah, hawa nafsu dan cara membimbing mereka. Saya selalu katakan. Ketika kita menjadi marah dan kecewa atas keinginan yang tak terpenuhi oleh orang tua kita. Maka akumulasikan kesemua rasa kecewa itu dan kali sepuluh. Itulah rasa kecewa yang dirasakan seorang ayah ketika tak mampu memberikan hal yang terbaik bagi anaknya.

Ayah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Tugas sang ayah juga memilihkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Kata terbaik sengaja dicetak tebal miring. Karena kita meyakini belum adanya kesamaan persepsi antara orang tua dan sekolah tentang makna terbaik ini. Hal ini tidak menghalagi nantinya peran kita sebagai guru bagi keluarga yang mesti ditiru oleh anak-anak kita. Generasi salaf berlaku sepeti itu. Imam Ahmad menitipkan anaknya belajar kepada Yahya bin Ma’in untuk belajar hadits. Bukankan imam Ahmad adalah seorang muhadits besar pada zamannya. Dalam satu riwayat Abu Hanifah pernah menghadiahkan kepada seorang guru sebesar 70 dinar yang telah mengajarkan anaknya hafal surah al-Fatihah.

Sesekali. Ajaklah anak-anakmu dalam setiap kerjamu. Agar ia mampu mengambil keteladanan darimu, dari setiap tindakan mu.
Abdul Muthalib mempunyai sebuah tempat duduk yang tidak boleh orang lain berada disitu selain dirinya. Singgasana itu adalah tempat baginya untuk memutuskan setiap perkara yang penting lagi besar

Pewarisan nilai-nilai adab kebenaran dan kebajikan kepada mereka keturunan kita adalah yang paling utama. Mewariskan seharta benda dan tumpukkan kekayaan yang melimpah sama sekali hal yang tidak cukup. Dirham dan dinarmu tak akan mampu menjaga mereka dalam kehidupan didunia ini apatah lagi untuk akhiratnya. Sungguh nilai ketakwaan kita menjadi panutan yang patut menghantar mereka mewariskan nilai-nilai kebajikan yang kan terus membawa keberkahan pada generasi-generasi selanjutnya.

Mari mengambil hikmah dari sang ahlinya. Kepada seorang lelaki baya yang bahkan bukan dari golongan nabi dan rasul. Inilah sepenuh hikmah dari seorang lelaki biasa yang dengannya al-Qur’an merekam kisahnya begitu bermakna.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Apa yang telah menjadikanmu mencapai kedudukan seperti ini?”

“aku tahan pandanganku,”Jawab Luqman. “ aku menjaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku perduli terhadap tetangga. Dan aku tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagiku.”

Sungguh terabadi kisah luqman dalam al-qur’an atas hikmah ilmu dan kebijaksanaan. Pada ayah yang kurasa tak memiliki ilmu nan layak bermutu. Kami dengar dan jaga pada setiap nasihatmu. “jangan tinggalkan shalat, jangan membawa sesuatu yang bukan milikmu kerumah, dan jangan pernah bertopang dagu.”

Sungguh ayah.. dirimu lah guru itu. Engkaulah kemudi arah tuju yang sedari awal kami semua titahkan kepadamu “Bawalah kami semua kesurga” pada bahtera yang telah lama engkau siapkan.

Selamat Hari Ayah 12 November 2021!

Pos terkait