KELAM; PUISI-PUISI SEFTYAN ANDRIANTO

KELAM

Sejengkal nalar tersirat sesal
Terseok diakhir sebuah penantian
Berujung resah akan angin surga
Yang berhembus kencang di celah amarah

Ribuan langkah yang begitu terjal
Harap menjadi bulir bahagia
Namun yang tersirat hanya kata maaf
Tetap semangat jangan putus asa

Berlalu sudah hiraukan aral yang dulu
Derai air mata hanya penyumbang pilu
Tentang nasi-nasi yang telah membumi
Isak tangis mencela ambisi
Dan ampas kopi yang melahap bara api

Hantam karam terbenam
Menanam jerat
Menuai laknat

Takjub meredup
Senyap temaram
Meratap degup
Mengharap hidup

 

TERIKAT KASIH

Dalam lamunan yang tak hentinya menyapa kisah
Kita ingin bisa membaca dari sekian banyak sudut mata, sigap tubuh, sikap asa, dan rona kisah dari berbagai aspek yang mencakup bahtera hidup yang nyata

Dominasi kata dengan sendirinya mengeja setiap lingkup dan menjalar dari turunan yang kompleks
Menuntun pada sisi-sisi yang gelap, namun tak kelam
Segudang wacana perlahan hadir menyusup dalam ruang damai
Rotasi makna yang bebas memilih dan memilah apa saja yang melintas tak berbatas
Jeda diantara nada-nada yang bergetar bersama dawai-dawai kata
Bulir-bulir aksara tertuang terstruktur dalam media kata yang menggagas antara logika dan rasa
Tatap tanya dibalik harap mendulang temu dan terikat
Menuai kasih seiring langkah
Dewasa berdua
Berjuang berdampingan

 

KALAH

Jalan berjalan namun terdiam dalam lamunan yang kian kelam
Langkah melangkah tak tentu arah mencerna resah
Terlihat api terus melahap tanpa jeda dan yang tak berdaya
genangan air terbungkam lelah akan amarah

Renungan malam hanya penyeka disudut pelipis mata yang miris
Berjuta tangis tertepis kata yang meringis sadis
Pada bait-bait harap yang berbaris manis terselip tanya yang tak tergubris
Menikam jejak jejak tangis dan tawa yang telah berlalu

Kini aku termakan oleh amarahku, berjalan jauh datang tak menentu
Rotasi makna kini telah terbunuh, yang tersisa hanya menahan pilu dan malu

 

Bencana-Nya Rencana-Nya

Dinamika langkah adalah bencana bagi yang tak mampu mengolah
Prasangka trauma pematik amarah bagi yang terjajah
Cermati dengan seksama intuisi jiwa
Nikmati saja semesta merawat kita

Langit mengernyit pasif
Lalu bicara dengan suara parau meracau
Hingga menangis dengan lantang tanpa jeda
Hingga tak sadar bahwa tanah kini lebam

Aku tak salah, semesta murka bukan kehendak
Derita mereka jelas ulahnya
Memang tak semua, namun segelintir yang merasa
Nikmatilah, gerutumu tak membuat iba

Perasa pada luka yang teramini kata hanya sebatas metafora yang tak bisa di cerna mentah-Mentah oleh panca indera dan akal yang tak bernalar

Toleransi dan negosiasi, dimana yang dangkal dan berakal mengamini nurani dan menuhankan materi.
Fungsi nurani dan akal, kendali jelas hanya untuk diri sendiri dan dari diri sendiri.

Jangan cemaskan apa yang menjadi angan
Jalanilah dengan tindakan yang wajar
Jangan hakimi apa yg belum pasti
Coba introspeksi apa yg telah terjadi

 

KISAH

Ada yg menikam lebam
Ada yg tertanam dalam
Aku hanya ingin diam dalam dekapan

Ada yg menata sepi
Ada yg merawat hati
Aku hanya ingin meraih

Ada yg menyapa luka
Ada yg mengenang cita
Aku hanya ingin menengadah

Lalu hening, penuh tanya.
Kamu?
Semoga bahagia selamanya,
bersama aku yang sedari tadi penuh harap.

_______________________

Tentang Penulis

SEFTYAN ANDRIANTO, anak pertama dari empat bersaudara. Penduduk bumi nusantara yang mempunyai hobi bermusik, membaca buku, mendaki gunung atau berkegiatan di alam bebas. Penulis amatiran yang pernah melahirkan satu karya di dunia literasi yaitu buku mini catatan dokumenter hasil pengalaman pribadinya dalam berkegiatan di alam bebas pada tahun 2018.

Pos terkait