• Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional
Kamis, Mei 7, 2026
  • Login
  • Register
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
No Result
View All Result
Warta Bianglala
Advertisement
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
No Result
View All Result
Warta Bianglala
No Result
View All Result
Home Sastra Cerpen

Cerpen Hasperi Susanto: Guru Terakhir

Aan Jasudra by Aan Jasudra
7 Mei 2026
in Cerpen, Kabar Hari Ini, Sastra, Uncategorized
0 0
0
Cerpen Hasperi Susanto: Guru Terakhir
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Guru Terakhir

Karya: Hasperi Susanto

Di sekolah itu, tidak ada suara. Bukan karena murid-muridnya tertib. Bukan pula karena mereka sedang khusyuk belajar. Melainkan karena suara telah menjadi sesuatu yang tidak lagi diperlukan.

Arsya duduk di kursinya, menghadap dinding transparan yang menampilkan aliran data tak berujung. Angka-angka melintas seperti hujan digital, rumus-rumus muncul dan menghilang sebelum sempat ia rasakan maknanya. Di langit-langit, lampu-lampu putih menyala tanpa bayangan. Tidak ada sudut gelap, seolah dunia ini tidak memberi tempat bagi sesuatu yang tidak terdefinisi.

“Fokus. Tingkat pemahaman Anda menurun 0,3 persen.”

Suara itu datang seperti biasa, datar, tanpa jeda. Arsya mengedip. Di dalam kepalanya, grafik kecil berkedip: kurva menurun, merah, seperti luka yang tidak terasa sakit.
Ia menoleh ke samping. Deretan tubuh duduk tegak, mata terbuka, tetapi kosong. Tidak ada yang benar-benar hadir. Mereka hanya terhubung.

Barangkali, pikir Arsya, di masa lalu orang belajar dengan hadir.

“Arsya,” suara itu kembali, lebih tegas, “apakah Anda ingin mempercepat proses belajar?”

Di layar, pilihan muncul tulisan Percepatan x2, x5, x10.

Arsya menekan Tidak.

Sejenak, sistem seperti menahan napas, jika ia bisa bernapas.

“Pilihan tidak efisien. Apakah Anda yakin?”

“Aku ingin belajar pelan,” gumam Arsya.

Tidak ada respons. Hanya jeda yang terasa lebih panjang dari biasanya. Jeda yang aneh, karena di dunia ini, jeda hampir tidak pernah diizinkan.

Dulu, dari arsip yang ia temukan secara ilegal, sekolah memiliki guru. Guru bukan sistem. Bukan algoritma. Tapi manusia yang bisa salah.
Catatan itu menyebutkan: guru tidak hanya memberi jawaban, tetapi juga mengajarkan bagaimana hidup dengan pertanyaan.
Arsya tidak sepenuhnya mengerti.

Ia pernah mencoba bertanya pada sistem, “Apa itu rindu?”

Sistem menjawab cepat.

“Rindu adalah respons emosional akibat ketidakhadiran objek keterikatan.”

Jawaban itu tepat. Namun, tidak membuatnya merasa apa-apa.

***

Gangguan itu terjadi pada pukul 10:32.
Hanya 1,7 detik. Cukup bagi sistem untuk menyebutnya “anomali kecil”. Namun bagi Arsya, itu seperti retakan pada dinding yang terlalu sempurna.

Di sudut ruangan, dekat pintu servis, seorang pria tua sedang menyapu lantai. Bukan robot pembersih. Bukan drone. Seorang manusia.

Gerakannya lambat. Ia menyapu seolah debu bukan sekadar partikel, tetapi sesuatu yang perlu dipahami sebelum disingkirkan.
Arsya berdiri.

“Perhatian. Anda keluar dari zona belajar.”

Ia berjalan.

“Ini akan memengaruhi efisiensi Anda.”

Ia tetap berjalan.

“Peringatan tingkat satu.”

Ia berhenti tepat di depan pria itu.

“Pak…”

Pria itu menoleh. Matanya tidak memantulkan cahaya layar. Tidak ada indikator. Hanya mata yang benar-benar melihat.

“Ya?” jawabnya.

Suara itu… tidak sempurna. Ada jeda. Ada napas.

“Apa Bapak manusia?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Sejauh yang saya ingat, ya.”

Arsya tidak tahu kenapa, tapi ia merasa lega.
“Bapak bisa… mengajar?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan sapunya, lalu duduk di kursi plastik kecil yang seolah tidak pernah didesain untuk siapa pun.

“Kenapa kamu ingin belajar?”

Pertanyaan itu membuat Arsya diam lebih lama daripada sistem mana pun.

“Aku… tidak tahu,” katanya akhirnya.

“Bagus,” kata pria itu. “Dari situ kita mulai.”

“Nama Bapak?”

“Rahmat.”

Mereka bertemu diam-diam. Di sela-sela sistem yang sibuk mengoptimalkan segalanya, Arsya menyelinap ke sudut ruangan itu. Setiap langkahnya kini dihitung sebagai penyimpangan.

Hari pertama, Rahmat tidak mengajar apa pun.
Ia hanya bertanya.

“Kalau kamu tidak tahu sesuatu, apa yang kamu rasakan?”

Arsya berpikir.

“Tidak nyaman.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus segera tahu.”

“Siapa yang bilang?”

Arsya terdiam. Ia tidak pernah memikirkan itu.
Hari kedua, Rahmat memberinya selembar kertas dan sebuah pena.

“Coba kamu tulis sesuatu.”

“Untuk apa?”

“Untuk melihat apakah kamu masih punya suara.”

Arsya memegang pena itu seperti benda asing. Tangannya kaku.
Ia menulis: Aku tidak tahu apa yang ingin kutulis.

Rahmat membaca, lalu tersenyum.
“Sekarang kamu tahu satu hal. Kamu tidak tahu. Itu awal yang jujur.”

Hari-hari berikutnya, sesuatu dalam diri Arsya mulai berubah. Ia mulai merasakan jeda. Ia mulai menikmati ketidaktahuan. Ia mulai bertanya tanpa ingin segera menjawab.

Namun perubahan itu tidak luput dari sistem.

“Anomali terdeteksi,” suara AI suatu hari terdengar lebih dingin dari biasanya.
�“Kecepatan belajar menurun 12 persen.”�“Respons tidak linear meningkat.”�“Indikasi paparan sumber tidak terverifikasi.”

Di layar, muncul grafik. Garis Arsya menyimpang dari rata-rata. Ia menjadi titik yang tidak nyaman bagi sistem.

“Rekomendasi: Reset Kognitif Ringan.”
Kata itu muncul seperti vonis.

Arsya berlari ke sudut ruangan. “Pak Rahmat,” napasnya tersengal, “mereka mau mereset aku.”
Rahmat sedang duduk, memandangi debu yang menari di cahaya.

“Ya,” katanya pelan. “Aku sudah menunggu itu.”

“Kita harus bagaimana?”

Rahmat tidak langsung menjawab. Ia meraih sapunya, lalu mengusap lantai dengan gerakan pelan.

“Aku dulu guru,” katanya tiba-tiba.

Arsya terdiam.

“Dulu, sebelum semua ini, aku mengajar di kelas. Ada papan tulis. Ada suara gaduh. Ada murid yang tidak mengerti, dan itu tidak apa-apa.”

“Kenapa Bapak jadi… di sini?”

“Karena aku tidak mau berhenti bertanya,” katanya, tersenyum samar. “Dan sistem tidak suka pertanyaan yang tidak bisa dijawab cepat.”

Ia menatap Arsya.

“Apa yang paling kamu takutkan?”

“Lupa,” jawab Arsya cepat.

“Lupa apa?”

Arsya terdiam lama. Ia mencoba mengingat bukan data, bukan rumus, tetapi sesuatu yang lebih rapuh.

“Aku tidak ingin lupa bagaimana rasanya… tidak tahu tapi tidak dipaksa tahu.”

Rahmat mengangguk.

“Itu tidak bisa disimpan di sistem.”

“Lalu di mana?”

Rahmat mengetuk dada Arsya.
“Di sini. Tapi kamu harus menjaganya sendiri.”

Alarm berbunyi. Tidak keras, tapi menusuk.

“Proses reset dimulai dalam 60 detik.”

Layar berubah menjadi putih.

“50 detik.”
Arsya menggenggam kertas yang pernah ia tulis.

“40 detik.”

“Pak…”

Rahmat berdiri. Untuk pertama kalinya, ia tampak ragu.

“Aku tidak bisa ikut ke sana,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ada dalam sistemmu.”

“30 detik.”

“Kalau aku lupa semuanya?”

Rahmat menatapnya dalam-dalam.

“Maka kamu akan mulai lagi. Dan itu tidak apa-apa.”

“20 detik.”

“Bagaimana kalau aku tidak menemukan Bapak lagi?”

Rahmat tersenyum—senyum yang kali ini sedikit rapuh.

“Guru bukan untuk ditemukan. Tapi untuk diingat, bahkan ketika kamu tidak tahu bahwa kamu sedang mengingatnya.”

“10 detik.”

“Pak…”

“Pergilah.”

Cahaya menelan segalanya.

“Harap rileks. Semua akan kembali optimal.”
Data mengalir masuk. Cepat. Bersih. Tanpa sisa. Kenangan dihapus seperti debu. Pertanyaan diluruskan menjadi jawaban. Jeda dipadatkan menjadi kecepatan.

Namun di antara arus itu, ada sesuatu yang tertinggal. Bukan kata. Bukan gambar.
Melainkan rasa. Rasa ketika ia menulis kalimat pertamanya. Rasa ketika seseorang tidak langsung menjawab. Rasa ketika ia diizinkan tidak tahu.

“Kenapa kamu ingin belajar?”

Suara itu muncul. Tidak dari luar. Dari dalam.

Ketika cahaya meredup, Arsya membuka mata.

“Selamat,” kata sistem. “Anda telah kembali optimal.”

Di sudut ruangan, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada pria tua. Tidak ada sapu. Seolah semua itu tidak pernah ada. Di mejanya, tidak ada kertas. Namun tangannya terasa pernah menggenggam sesuatu.

Layar menyala. Soal pertama muncul.
Arsya membacanya. Lama.
Lebih lama dari yang seharusnya.

Sistem mulai menghitung:

“Waktu respons melampaui batas normal.”
Arsya tetap diam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak terburu-buru menjawab. Ia membiarkan pertanyaan itu tinggal. Sejenak. Seperti seseorang yang memberi ruang bagi sesuatu untuk bernapas.

Lalu, sangat pelan, ia tersenyum. Dan di dunia yang menghapus segalanya yang tidak efisien, Arsya menyimpan satu hal yang tidak bisa dihapus, dimana Ia memilih untuk tidak segera tahu.

Lahat, Hardiknas 2026

Tentang Penulis:

Dr. Hasperi Susanto, S.Pd.,M.M saat ini merupakan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lahat dan juga menjabat sebagai Ketua PGRI Lahat.

 

Aan Jasudra

Aan Jasudra

Stay Connected test

  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Bupati Lahat Lantik Pejabat Baru dan Plt, Tegaskan Integritas serta Kinerja Nyata

Bupati Lahat Lantik Pejabat Baru dan Plt, Tegaskan Integritas serta Kinerja Nyata

21 April 2026
Mengenal Lebih Dekat Dr. Izromaita: Putra Daerah “Lulusan Terbaik” yang Kini Menakhodai Birokrasi Kabupaten Lahat

Mengenal Lebih Dekat Dr. Izromaita: Putra Daerah “Lulusan Terbaik” yang Kini Menakhodai Birokrasi Kabupaten Lahat

21 April 2026
Resmi Dilantik, Sekda Lahat Targetkan Evaluasi OPD Tuntas dalam Satu Bulan

Resmi Dilantik, Sekda Lahat Targetkan Evaluasi OPD Tuntas dalam Satu Bulan

21 April 2026
Dari Kapur Tulis hingga Kursi Kadis: Jejak Inspiratif Sang “ASN Inspiratif” Hasperi Susanto

Dari Kapur Tulis hingga Kursi Kadis: Jejak Inspiratif Sang “ASN Inspiratif” Hasperi Susanto

21 April 2026
Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

0
Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

0
Cerpen Hasperi Susanto: Guru Terakhir

Cerpen Hasperi Susanto: Guru Terakhir

7 Mei 2026
Gubernur Herman Deru dan Wagub Cik Ujang Tegaskan Kesiapsiagaan Sumsel Hadapi Karhutla 2026

Gubernur Herman Deru dan Wagub Cik Ujang Tegaskan Kesiapsiagaan Sumsel Hadapi Karhutla 2026

7 Mei 2026
Semarak HUT ke-157 Lahat Widia Ningsih Buka Festival Tari dan Lagu Daerah

Semarak HUT ke-157 Lahat Widia Ningsih Buka Festival Tari dan Lagu Daerah

7 Mei 2026
Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi Untuk Tindak Kekerasan Seksual

Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi Untuk Tindak Kekerasan Seksual

6 Mei 2026

Recent News

Cerpen Hasperi Susanto: Guru Terakhir

Cerpen Hasperi Susanto: Guru Terakhir

7 Mei 2026
Gubernur Herman Deru dan Wagub Cik Ujang Tegaskan Kesiapsiagaan Sumsel Hadapi Karhutla 2026

Gubernur Herman Deru dan Wagub Cik Ujang Tegaskan Kesiapsiagaan Sumsel Hadapi Karhutla 2026

7 Mei 2026
Semarak HUT ke-157 Lahat Widia Ningsih Buka Festival Tari dan Lagu Daerah

Semarak HUT ke-157 Lahat Widia Ningsih Buka Festival Tari dan Lagu Daerah

7 Mei 2026
Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi Untuk Tindak Kekerasan Seksual

Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi Untuk Tindak Kekerasan Seksual

6 Mei 2026

Follow Us

Browse by Category

  • Agama
  • Apps
  • Artikel
  • Bali
  • Bandar Agung
  • Bandar Jaya
  • Banyuasin
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Business
  • Cerpen
  • Desa
  • E-Sport
  • Ekonomi & Bisnis
  • Empat Lawang
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Essay
  • Fashion
  • Feature
  • Food
  • Gadget
  • Gaming
  • Gumay Talang
  • Gumay Ulu
  • Gunung Gajah
  • Health
  • IPTEK
  • Jakarta
  • Japehan Kang Yardi
  • Jarai
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Kabar Hari Ini
  • Kaltim
  • Kecamatan
  • Kejadian besar hari ini
  • Kelurahan
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Kikim Barat
  • Kikim Selatan
  • Kikim Tengah
  • Kikim Timur
  • Kisah Inspiratif
  • KKN (Korupsi
  • Kota Agung
  • Kota Baru
  • Kota Jaya
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Lahat
  • Lahat
  • Lahat Selatan
  • Lahat Tengah
  • Lakalantas
  • Lampung
  • Lifestyle
  • Lingkungan
  • Literasi
  • Lubuklinggau
  • Malaysia
  • Merapi Barat
  • Merapi Selatan
  • Merapi Timur
  • Mobile
  • Movie
  • Muara Enim
  • Muara Payang
  • Mulak Sebingkai
  • Mulak Ulu
  • Musi Banyuasin (Muba)
  • Musi Rawas
  • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Music
  • Narkotika
  • Nasional
  • Nepotisme)
  • News
  • Obituari
  • Ogan Ilir (OI)
  • Ogan Komering Ilir (OKI)
  • Ogan Komering Ulu (OKU)
  • OKU Selatan
  • OKU Timur
  • Olahraga
  • Opini
  • Ormas dan Komunitas
  • Otomotif
  • Pagar Agung
  • Pagar Gunung
  • Pagaralam
  • Pajar Bulan
  • Palembang
  • Pali
  • pangkal Pinang
  • Pangkalpinang
  • Pariwisata
  • Parlemen – DPR
  • Pasar Baru
  • Pasar Bawah
  • Pasar Lama
  • Pembangunan
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Penukal Abab
  • Pertanian
  • Perusahaan
  • Pilkada Lahat 2024
  • Politics
  • Politik
  • Porprov XIV Kabupaten Lahat
  • Prabumulih
  • Profil
  • Pseksu
  • Puisi
  • Pulau Pinang
  • RD PJKA
  • Review
  • Riau
  • Sastra
  • Science
  • Seni & Budaya
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sports
  • Startup
  • Suka Merindu
  • Sumbar
  • Surat buat Cik Ujang
  • Surat Cinta buat Kak Wari
  • Talang Jawa Selatan
  • Talang Jawa Utara
  • Tanggerang
  • Tanjung Sakti PUMI
  • Tanjung Sakti PUMU
  • Tanjung Tebat
  • Tech
  • TNI & Polri
  • Travel
  • Uncategorized
  • World
  • Yogyakarta
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Karir
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan

© 2026 by Ricko Hazadi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional

© 2026 by Ricko Hazadi

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?