Catatan Hendro Juniarto
Lahat – Bagian terpenting mengenai perekonomian di setiap daerah secara umum, di kabupaten Lahat secara khusus, maka tidak bisa kita sangkal komoditas sektor SDA, merupakan faktor penunjang utama di sektor penghasilan Lahat hari ini, mengingat kabupaten Lahat bukan merupakan kota wisata apalagi kuliner, selain Batu bara, tentunya tidak kalah pentingnya kita ulas ke belakang sebelum adanya batu bara, Lahat juga merupakan lumbung di provinsi Sumatera selatan dan sudah menjadi rahasia umum yakni, Perkebunan kelapa sawit, terkhusus di wilayah Kikim area, yang terhitung entah sejak tahun berapa, per hari ini kebun kelapa sawit entah itu perkebunan milik perorangan, entah itu milik prusahaan hari ini bak jamur yang semakin hari semakin meluas ntah tak terhingga luasan hektarnya
Semenjak di pecahnya beberapa IUP PTBA mengenai batu bara di kabupaten Lahat pergolakan dan pembicaraan tentang sektor perkebunan seolah di kesampingkan dan tidak begitu menarik mungkin di anggap sebagian tokoh penting dan para elit politik di kabupaten Lahat. karena mungkin jika di kalkulasikan sedikit kalau di bandingkan pajak yang di hasilkan dari batu bara, akan tetapi kita tidak bisa melupakan dampak dari eksploitasi yang berlebihan disektor pertambangan batu bara ini, begitu banyak dampak negatif dan faktor penghambat kelancaran keran ekonomi yang di ciptakan dari aktifitas tambang tersebut, artinya kita tidak bisa hanya berfokus pada hasil saja tanpa melupakan dampak negatif dari suatu persoalan, dari hal ini bisa kita pertimbangkan manfaat dan dampak tambang di bandingkan dngan perkebunan.
Dari luasan hektar lahan perkebunan kelapa sawit, yang ada di kabupaten Lahat sekarang apakah pernah kita hitung bahkan pemeritah sendiri tidak pernah terfikir, harusnya berapa pajak bagi hasil yang bersumber dari TBS (tandan buah segar) serta pajak yang di hasilkan dari CPO (crude palm oil) yang di hasilkan dari 4 PKS (pabrik kelapa sawit) di kabupaten Lahat perkebunan yang luasnya tak terhingga; akan tetapi Cuma ada 4 PKS di kabupaten Lahat, secara logika saja dari ke empat pabrik tersebut Cuma ada satu pabrik yang kapasitas olahnya 80ton/jam selebihnya kapasitas 30 sampai 60 ton/jam. Dan bisa di pastikan 4 pabrik tersebut tidak mampu mengolahseluruh TBS yang ada di Kabupaten Lahat logikanya kemana TBS yang tidak di olah ke 4 PKS ini kemudian CPO yang di hasilkan di kemanakan!!!
Kabupaten Lahat merupakan wajah sumsel di mata luar mengenai sumber daya alam namun tidak kalah pentingnya kita juga memikirkan nasip kabupaten Lahat, kedepan jika terus-terusan di gali sumberdaya alam nya, dan kemungkinan wajah Sumsel kedepan bisa menjadi suram jika tidak di tanggulangi atau di fikirkan potensi-potensi lain selain batu bara, hadirnya ratusan bahkan ribuan hektar kelapa sawit di tanah seganti setungguan, yang hari ini seolah tidak begitu di pedulikan bahkan terkesan di kesampingkan menjadi pemicu, kaum mudah hari ini mulai berfikir tentunya mengajak pemerintah kabupaten lahat untuk menggalakan, dan memikirkan seluruh lini sektor penghasilan di kabupaten Lahat, dan tanpa sadar setiap malamnya ketika masyarakat kabupaten Lahat tertidur lelap puluhan bahkan ratusan truck pengangkut TBS yang tidak kita ketahui arahnya kemana dan terkesan adanya pembiaran dari pemerintah kabupaten Lahat bahwa tanpa sadar hasil ratusan bahkan ribuan hektar Kebun kita di olah di kabupaten di Luar Lahat sudah barang pasti pajak bagi hasil yang di hasilkan TBS-TBS tersebut mengurangi persentase dari pajak yang seharusnya mas uk ke kabupaten Lahat belum lagi kita meluas membicarakan brondolan, limbah pabrik yang semakin hari semakin melonjak nilai komersialisasinya tentu semua ini tidak bisa di biarkan begitu saja.
Keberhasilan daerah lain mencuri potensi di kabupaten lahat menjadi pemicu kaum muda untuk memberitahukan persoalan ini ke mata publik, bahwa telah sejak lama tanpa sadar potensi yang kita miliki di curi secara tidak langsung oleh kabupaten dan kota lain yang kian hari kian menjamur jumlah PKS nya, bukan luasan kebunnya sudah barang pasti untuk menghasil kan CPO yang banyak harus membeli dengan harga yang cukup mahal di kabupaten yang mempunyai kebun yang cukup luas, Kabupaten Lahat menjadi sasaran empuk kabupaten kota yang hari ini banyak PKS tapi tidak cukup bnyak kebun, belum lagi kualitas dan kadar rendemen oil yang di hasilkan dari TBS di tanah seganti setungguan cukup tinggi dan mumpuni untuk memperoleh minyak yang banyak,
Tangan besi penguasa hari ini di uji dan kami butuhkan untuk menjawab segala persoalan mengenai TBS dan CPO yang perhari ini terus berbondong-bondong di angkut ke kabupaten kota di luar Lahat ratusan truck setiap malamnya sudah bisa kita logikakan berapa banyak kerugian jika kita hitung, tarik mundur 10 tahun ke belakang belum lagi kita hitung sejak di buka dan masuknya perkebunan kelapa sawit di kabupaten Lahat.
Sebelum kita menghitung nilai kerugian dan mengkaji beberapa aturan mengenai hal ini setidaknya melalui beberapa paragraf tulisan di atas sudah cukup untuk menjelaskan ke masyarakat kabupaten Lahat yang hari ini mungkin masih awam mengenai permasalahan yang terjadi mengenai TBS di kabupaten Lahat hari ini, terkhusus petani kelapa sawit, akan tercerdaskan bahwa ketika hal ini di gaungkan dan pemeritah menggalakkan, untuk membahas serius hal ini kemungkinan akan berpengaruh pada harga jual TBS dari kebun masyarakat, tidak ada lagi penjualan tbs ramp by ramp yang betul adalah ramb by pabrik sehingga harga di bawah tidak di tekan dengan banyaknya potongan, dan pastinya akan meningkatkan PAD kabupaten Lahat.




