Kopi Lahat Masih Kurang Perhatian

Catatan Soufie Retorika

wartabianglala.com – Naik turunnya ekonomi di masa Pandemi Covid membuat banyak lini mengalami kehancuran dan kegagalan. Masyarakat menjerit sebab hasil pertanian dan perkebunan pernah tidak menentu.Terkadang sayuran yang saat tiba masa panen mengalami anjlok. Sehingga petani membutuhkan pengendali harga namun dibaarengi dengan produk yang berkualitas.

Kabupaten Lahat, Bumi Seganti Setungguan memiliki potensi perkebunan sekitar 60 ribu hektar, kini kondisinya terus mengalami penggurangan setiap tahunnya oleh banyak hal. Begitu juga perkebunan kopi yang ada, terus mengalami penurunan. Dari data statistik yang ada, dan setelah beberapa tahun berkeliling di 24 kecamatan yang ada. Paling tidak penulis melihat potensi lahan kopi robusta cukup besar yakni sekitar 70-80 persen luas dari keseluruhan perkebunan kopi. Sementara 5-10 persen sendiri lahan kopi arabika dan 20 persennya merupakan lahan kopi liberika.

Hal yang menarik banyak dijumpai saat berjumpa petani kopi di perkebunan yang hampir turun temurun. Masyarakat hingga kini masih belum banyak mengetahui bahwa ada tiga jenis kopi yang ditanam di Bumi Seganti Setungguan. Yakni kopi Arabika, Robusta dan Liberika, dan ketiga jenis ini mempunyai pasar masing-masing hingga ke manca negara sejak jaman dulu.

Kalimat “Sejak jaman dahulu”, pasti terdengar aneh, pun ketika penulis membaca jurnal-jurnal dari Belanda dan beberapa foto tentang perdagangan kopi jaman kolonial. Nama Lahat sudah terkenal sebagai daerah penghasil kopi sejak jaman kolonial Belanda. Jaman pemerintahan Orde Baru berbagai replika, yang kini tinggal sisa-sisa kerangka yang berhamburan pembangunan kebun kopi beserta cikal bakal usaha pemroses kopi di Jarai.

Lahat dengan kontur tanah yang berbukit-bukit dengan julukan bukit barisan di bagian barat sumatera ini, memukau dengan pemandangan indah bukit yang berlapis-lapis. Ada beberapa daerah yang memiliki ketinggian sekitar 1000 meter diatas permukaan laut,(MDPL) jadi potensi perkebunan kopi arabika, yakni di Kota Agung, Jarai, Muara Payang, Tanjung Sakti Pumi dan Tanjung Sakti Pumu. Untuk daerah yang memiliki ketinggian sedang memang terdapat di hampir semua kecamatan,sehingga lahan cocok bagi kopi robusta dan liberika. Lahan subur di ketinggian rendah dibawah 100 MDPL berpotensi untuk kopi liberika, sayang mereka tidak banyak yang menanam kopi jenis liberika ini.

Kopi Liberika dianggap sebelah mata, dan kemampuan petani mengolahnya seadanya. Padahal di pasaran kopi saat ini liberika mulai dilirik, jika pengolahannya baik.

Masa panen petani kopi di Lahat sudah di mulai sejak bulan Februari dan Maret, istilah mereka buah awal, sementara di bulai April, Mei, Juni merupakan puncak dari panen. Buah akhir di dapat hingga September dan Oktober. Masa panen Liberika sekitar Bulan Juni hingga akhir tahun. Sayang fase tersebut tidak bisa berlangsung baik. Berbagai kendala terjadi, dari para maling di kebun kopi, kondisi kebun dengan kemiringan yang cukup sulit memanen, jarak, dan perawatan lahan yang kurang maksimal,padahal lahan hanya butuh 2 kali pemupukan setahun, rekayasa pemupukan organik pun bisa meningkatkan hasil panen dan lebih murah biayanya.

Kebun kopi hanya di datangi saat masa berbuah saja, padahal kenyataannya batang kopi butuh perawatan, dahan ditebang, rumput disiangi, dan diberikan pupuk. Penggunaan pupuk organic yang dibuat sendiri juga tidak menarik buat petani, hingga terkadang menggunakan pupuk kimia berlebihan, pestisida yang tak terkendali. Sehingga pohon menjadi tidak sehat, sebab tanah yang sudah rusak.

Maling yang saat masa paceklik, menghabisi lahan-lahan kopi dengan buah merah dan hijau. Saat pemilik memanen kebun mereka sudah habis buah kopinya. Kondisi ini biasanya petani membuat rumah pondok kebun berkelompok,sehingga bisa dijaga bersama.

Kemiringan lahan kopi juga menjadi kendala saat perawatan dan memanen, sehingga membuat petani merawat seadanya saja,jelang panen. Fase sebelum berbunga padahal batang kopi juga butuh perawatan.

Kendala ini yang harusnya melibatkan banyak pihak untuk urun rembuk bersama, merangkum kelompok tani, memberikan pembinaan,petani pun mau membuka diri dan berkomitmen untuk meniingkatkan kualitas biji kopi. Sehingga mereka tidak hanya menikmati panen tahunan seadanya.

(Soufie Retorika)

Pos terkait