Puisi-puisi Moh. Rofqil Bazikh

Catatan Pendaki

sepasang puting yang telanjang, Sophia
kita berjalan menyusuri hutan bergaun api
melubangi jejak-jejak hijau di dekat telaga
langkahmu semakin cepat, meninggalkanku
di tempat semula kita berciuman

kemudian kau bertanya, kemana jalan
yang paling tepat untuk kita pilih kemudian
ini sudah terlampau tinggi, melihat
ke bawah hanya kutemukan bayang putih
:kabut memintal perkampungan penduduk

kita tidak akan mengeluh, Sophia, sekadar
mengucap aduh dan duduk di kening batu

alangkah tabah kaki, mengepak debu
terbang ke langit yang jauh
di sini tidak kedap suara, tetapi
kau bebas berteriak untuk luka yang fana

Yogyakarta, 2020

 

Jalan Menuju Pantai

kau sendiri yang mengatakan
jari dari pohonan sepanjang
perjalanan tidak henti-henti
menunjuk pusaran angin

kita berjalan ke barat
di samping kanan, jerambah
dari pusara
usianya semakin menua
seketika, kuingat kefanaan

;ombak berdebur tak kembali
desir angin tak kunjung rapi

alangkah bangat putaran waktu
detik-detik yang runcing
tiba-tiba saja sampai di laut
biru dan mata kita tak henti bertaut

Yogyakarta, 2020

 

Kapal Tua

bila kupulang dari perantauan
—melewati jalan biasa, ombak beriak
sisik ikan di muka laut tampak

punggung kapal ini, ibu, betapa tua
alangkah tabah lunas menerima
dan selalu pasrah membaca gerak air
setiap pagi menunggu matahari pertama
menunaikan terik di pucuk angsana

besok-besok kalau berangkat kembali
rasakan, ibu, rasakan punggung kapal ini
bunyi berderik menanggung nyeri nan ngeri
tetapi tidak ada yang mengerti

;sesungguhnya, bahasa kayu
adalah bahasa kita

bahasa ketakutan di tulang dada

Yogyakarta, 2020

 

Perempuan Kampung

pekan-pekan yang rumit, kemarahan
di kepala kita semakin hari semakin naik
tetapi, bibirmu tetap kembang angin
meruntuhkan musim kering di kening

matamu pikat, pendar dari seluruh jimat
aku berlindung di dalamnya
;seluruh retina terbuat dan benda
ketenangan sebagaimana di dunia

meski jauh, selalu kupersiapkan
dan terus kubusungkan lekuk dada
takut-takut kau menggelar tangis
yang tak pernah kita duga

ini hari-hari yang rumit
setiap detik,
detak kita semakin sempit

Yogyakarta, 2020

 

Solitude

warna dinding rumah kita sedang bercalit
sementara tubuhmu tidak kutemukan
sepanjang ranjang dari ruang depan
sampai belakang

sepotong pigura, yang merekam
wajah kita. di sana, kau menatap
mataku, kubalas memasuki matamu

tetapi sesungguhnya, tatapan kita
tidak pernah bertemu

halaman rumah kita mulai disetubuhi
ujung rumput setengah kuning
aku menatapnya sepanjang pagi

sampai beranjak nama-nama hari

Yogyakarta, 2020


 

Tentang Penyair

Moh. Rofqil Bazikh merupakan mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis puisi di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Merapi, Rakyat Sultra, Bali Pos, Harian Bhirawa, Duta Masyarakat, Lampung News, Analisa, Pos Bali, Banjarmasin Post, Malang Post, Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Cakra Bangsa, BMR Fox, Radar Jombang, Rakyat Sumbar, Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews, Mbludus.com, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir, Ideide.id, Asyikasyik.com, dll.

 

Pos terkait