Menciutnya Jantung Merah Tua – Cerpen Karya Hidayatul Ulum

Menciutnya Jantung Merah Tua
Oleh Hidayatul Ulum

 

“Kamu minta hadiah apa?”

“Sebatang pohon pisang.”

“Apa? Pohon pisang?”

“Ya. Kau keberatan?”

“Ah, tentu saja tidak. Hanya saja … tidakkah kamu meminta hal lain? Emas atau cincin permata, mungkin?” Matanya menelusuri taman, tangannya menunjuk-nunjuk bunga bakung, sederet bunga kamboja, dan beberapa pot tanaman lidah buaya. “Tanaman di rumahmu juga sudah banyak.” Aku melihat wajahnya tiba-tiba memucat.

“Bilang saja kalau tidak mau memenuhinya.”
Hening. Aku menatap lurus pada lelaki yang menggaruk-garuk kepala plontosnya di seberangku. Apa yang membuat kepalanya gatal? Aku tidak melihat kemungkinan ada kutu di sana.

“Aku mau,” katanya kemudian. “Aku akan membawakan sebatang pohon pisang pada kunjunganku berikutnya.”

“Bagus! Jumat sore, bagaimana?”

“Waduh, aku ada jadwal rapat penting bersama klien sore itu.”

“Kalau begitu kau tidak perlu datang. Kirim saja dengan kurir,” kataku datar.

“Kamu tidak suka bertemu denganku ya?” Aku tidak menjawab. “Ngomong-ngomong, kenapa ingin pohon pisang?”

“Sekarang jarang ada orang yang menanam pohon itu. Aku ingin memilikinya,” ucapku penuh damba.

Tangannya sibuk mengetik di layar gawai dengan cepat, lalu menunjukkan padaku foto tanaman monstera. “Bagaimana kalau kubawakan tanaman ini saja? Cantik dan sedang tren.”

“Aku tidak tertarik.”

“Kenapa? Seleramu aneh sekali dengan memilih pohon pisang!”

Seketika udara terasa lebih panas bagiku. Bukan karena kemarau sedang menghembuskan napasnya, tetapi lebih karena percakapan ini membuatku muak. Aku merasa terhina. Lelaki yang beberapa hari lalu mengajukan lamaran itu telah menghina seleraku. Rasanya aku ingin berkata kasar. Gigi-gigiku bergemeretak menahan marah. Namun, aku tidak bisa melakukannya. Ibu akan mendengar.

***

Laki-laki yang menemuiku sudah pulang. Saat akan kembali ke kamar, aku melihat Ibu duduk lesehan di lantai sementara Bapak memijat kepalanya sambil mencoba menenangkan, begitulah setidaknya yang terlihat. Televisi menayangkan acara sinetron.

“Itu Pak, coba tanya putri semata wayangmu itu, kenapa sih harus pohon pisang yang diminta?” ucap Ibu sambil melirik padaku. Nada suaranya kentara sekali sedang kesal. Ibu telah mendengar permintaanku, permintaan yang seketika menjadi duri di dalam daging. Menusuk dan mengganggu pikiran.

Bapak tidak bereaksi apa-apa. Dibiarkannya aku mengambil remote televisi dan mengganti saluran. Acara sinetron berganti menjadi acara berita gosip. Pembawa acara yang bibirnya semerah saga sedang memberitakan seorang artis yang diterpa kabar miring. “Biduk rumah tangga artis X terancam kandas meski baru seumur jagung!” katanya menggebu-gebu.

“Permintaanmu unik.” Bapak tiba-tiba berkata. Tangannya terjulur melewati pundak Ibu dan mengepalkannya dengan jempol menghadap ke atas.

Aku tersenyum, tetapi seketika itu pula Ibu beringsut menjauh, menyingkirkan tangan bapak dari pundaknya. “Jangan membuatnya besar kepala, Pak!”

“Kalau anak kita tidak suka, ya tidak apa-apa. Tidak perlu dipaksakan,” kata Bapak. Ibu langsung menoleh secepat kilat.

“Apa maksud Bapak? Perjodohannya akan dibatalkan? Beras berkarung-karung sudah masuk dapur kita. Masa mau dibatalkan?”

“Ibu menukarku dengan karung-karung beras?” protesku.

“Kamu itu barang dagangan. Sudah ada lelaki yang melirikmu. Keluarganya pun setuju. Tidak boleh ditolak! Pokoknya perjodohan ini tidak boleh batal!” Suara Ibu meninggi, disusul suara tawa pembawa acara berita gosip yang membahana. Tawa itu membuatku tersinggung.

***

Lelaki plontos kembali berkunjung. Dia memang datang pada hari Jumat, tapi pukul 21:00! Sepertinya rapat dengan para kliennya memang sungguh-sungguh penting. Apa aku kecewa? Iya! Aku kecewa karena dia datang dengan tangan kosong. Aku kecewa karena dia tidak membawa pohon pisangku. Dikirim dengan kurir pun tidak.

“Hai, cantik!”

“Eh, ada fellas,” sahutku datar. Lelaki plontos itu justru tersenyum-senyum, tersipu-sipu.

“Kenapa?”

“Apa itu panggilan kesayangan untukku?”

“Hah?”

Fellas. Seharusnya kau memanggilku Vilas, kan.” Aku sengaja begitu karena malas menyebut namamu!

“Mana pohon pisang yang kuminta?”

“Oh, anu … penjual bibitnya tutup!”
Alasan, kataku dalam hati. “Sudah hampir larut malam, pulanglah.”

“Oke. Kalau begitu, besok pagi ya kubawakan pohon pisangnya.”

Mataku langsung berbinar. Pikiranku sudah berlari ke masa depan saat pohon pisangku tumbuh besar di halaman. Daun-daunnya bisa kupetik sebagai bungkus pepes. Pelepahnya bisa dimainkan anak-anakku seperti yang kulakukan semasa kecil dulu. Jika berbuah dan masak, aku akan menikmati lezat daging buahnya sambil menikmati kicau merdu burung-burung. Aku tidak akan keberatan berbagi buah pisang milikku pada mereka. Dan aku tidak sabar memetik jantungnya yang merah tua, lalu mengolahnya sesuai selera. Ah, betapa menyenangkannya punya pohon pisang!

“Kamu senyum-senyum sendiri. Mikirin apa sih?”

Kepo! “It’s not your business, fellas. Bawakan saja pohon pisang besok pagi, kita bicara lagi setelahnya,” kataku ketus.

Aku beranjak menuju kamar. Saat melintasi ruang keluarga, kulihat Ibu dan Bapak duduk bersantai. Televisi tidak menyala. Pembicaraanku dengan lelaki plontos pasti sudah mereka dengar. Aku menyapa mereka singkat, lalu memasuki kamar. Pintu kututup.

“Maaf ya Nak Vilas, maaf, putriku selalu jual mahal kepadamu.” Aku mendengar suara Ibu yang memelas maaf. Aku jual mahal? Hell no!

“Lebih baik besok bawakan saja pohon pisang permintaannya. Saya kasihan melihat Nak Vilas diperlakukan dengan ketus, padahal keluarga Nak Vilas sudah baik kepada kami, bahkan sampai mengirim berkarung-karung beras.”

“Ibu tidak perlu meminta maaf. Saya yakin hati Aca akan terbuka untuk saya. Masalahnya adalah … ” Jeda lama. Aku penasaran. Kutempelkan telingaku pada daun pintu.

“Ada masalah apa, Nak Vilas? Ceritakan saja.”

“Saya mengidap dendrofobia, rasa takut berlebihan kepada pohon. Dalam kasus saya, tidak semua pohon. Saya hanya fobia terhadap pohon pisang.” Hening malam membuat suara Vilas yang tercekat terdengar makin jelas.

“Benarkah? Bagaimana bisa begitu?”

“Dua tahun lalu, saya kemah di hutan bersama seorang teman. Saat itu saya melihat hantu pocong di samping pohon pisang. Berhari-hari hantu itu mengusik saya dalam mimpi, membuat saya sakit berhari-hari, hingga berminggu-minggu. Pohon pisang membuat saya trauma dan ketakutan setengah mati hingga sekarang.” Omong kosong, batinku.

“Oh, Nak Vilas! Betapa malangnya dirimu! Jika begitu, tak perlulah Nak Vilas membawa pohon pisang besok.”

“Saya berjanji akan tetap membawanya, Bu. Saya akan melawan rasa takut ini demi Aca. Sebagai lelaki sejati, pantang bagi saya untuk mengingkari janji.”

Gelenyar rasa aneh memenuhi hatiku. Cepat-cepat aku meringkuk di bawah selimut, memejamkan mata, dan berupaya keras mengosongkan pikiran. Namun, pikiranku justru menerbitkan angan-angan atas hari esok.
Kubayangkan pohon pisangku tergolek di dalam bagasi mobil Vilas. Siap untuk diserahkan kepadaku. Aku akan bersorak saat pohon pisang—muda dengan daun hijau menggoda—yang kudambakan melintas di halaman dalam gendongan Vilas. Pohon pisang itu mungkin terbungkus bekas karung beras atau plastik pada bagian akar. Rasa bangga akan menyesaki dadaku karena akhirnya aku punya pohon pisang! Jantungku akan mengembang dan membesar, sebesar jantung pisang yang merah tua!

Lalu berikutnya apa?

Ada kemungkinan Bapak dan Ibu akan memuji-muji Vilas dan membesarkan kepala plontosnya. Kemudian tentu saja, perjodohan akan tetap berlanjut.

Ah, tapi tidak apa-apa, sih! Jika Vilas membawakan pohon pisang permintaanku, dia pasti lelaki baik. Dia selalu memanggilku dengan sebutan ‘kamu’, bukan ‘kau’. Meski dia tidak memahami seleraku, meski basa-basinya menyebalkan, dia pantang menyerah untuk mendekatiku. Dan yang terpenting, dapur Ibuku akan selalu penuh karung-karung beras karena barang dagangannya telah laku.

Eh, apa aku baru saja menerimanya?

***

Saat pintu kamarku diketuk keras-keras, aku mengerjap-ngerjapkan mata dan melihat jam dinding menunjuk pukul 06: 30. Ketika pintu kubuka, tangan Bapak terulur dengan gawai di tangannya menampilkan pesan WhatsApp. Pesan itu berbunyi: Saya tdk dtg hari ini. Tdk jg bsk dan seterusnya. Sy dlm perjalanan ketika tubuh saya terguncang hebat. Ada hantu pocong di bagasi mobil di dekat pohon pisang yg sy bawa. Perjodohan ini tdk bs berlanjut. Maaf.

Aku menganggukkan kepala pelan pada Bapak sebelum menutup pintu. Jantung merah tua yang sempat mengembang bahagia semalam, kini telah menciut di dalam dadaku. Apa aku patah hati? Entahlah. “Lelaki pengecut!” rutukku.

******

Hidayatul Ulum, lahir di Kediri, 17 Maret 1999. Karya antologi cerpennya pernah diterbitkan Penerbit Perahu Litera dengan judul “Single Pantofel” pada tahun 2017. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, Jurusan Sastra Indonesia. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail dayadenanthera@gmail.com atau akun Instagram @hida_adenanthera.

Pos terkait