Syair dalam Salawat Dulang

Oleh: Indra Intisa (Ompi)

Salawat dulang merupakan salah satu budaya Indonesia yang terdapat di Sumatera Barat. Salawat dulang termasuk sastra lisan Minangkabau yang bernafaskan islam, yaitu berupa pertunjukkan yang biasanya terdiri dua orang membacakan hafalan teks atau menyesuaikan kondisi, kemudian diiringi tabuhan dulang (nampan kuningan) berdiameter kisaran 65 cm. Nama lain dari salawat dulang adalah salawat talang. Biasanya perbedaan ini merujuk kepada dialek di beberapa daerah.

Banyak cerita mengatakan bahwa salawat dulang berawal dari banyaknya ahli agama Islam Minang yang belajar agama ke Aceh, seperti Syech Burhanuddin. Syech Burhanuddin dikenal sebagai ulama sufi pengamal (Mursyid) Tarekat Shatariyah di daerah Minangkabau, Sumatra Barat. Ia diperkirakan lahir pada awal abad ke-17 (1646-1692M). Di Aceh ia sempat belajar (menuntut ilmu) kepada Syeh Abdul Rauf Singkel. Kemudian pulang ke Minangkabau tahun 1689M dan mulai menyebarkan agama Islam di Minangkabau dari daerah Ulakan, Pariaman.

Konon, pada saat berdakwah, Syeh Burhanuddin teringat pada kesenian Aceh yang fungsinya untuk menghibur sekaligus menyampaikan dakwah, yaitu tim rebana. Syeh Burhanuddin pun kemudian mengambil talam atau dulang yang biasa digunakan untuk makan dan menabuhnya sambil mendendangkan syair-syair dakwah. Ada juga yang menyebutkan bahwa salawat dulang ini berasal dari daerah Tanah Datar. Di daerah ini salawat dulang dikembangkan oleh kelompok Tarekat Syatariah sebagai salah satu cara untuk mendiskusikan pelajaran yang mereka terima. Oleh karena itu, teks salawat dulang itu lebih cenderung berisi ajaran tasawuf.

Pertunjukan salawat dulang biasanya diadakan pada malam hari selepas Salat Isya, yaitu kira-kira mulai pukul 21.00 hingga beberapa saat menjelang Salat Subuh. Pertunjukan diadakan dalam rangka memperingati hari-hari besar agama Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, Nuzul Quran, dan tahun baru Hijriah. Kadang, salawat dulang juga ditampilkan dalam rangka alek nagari, yaitu satu perayaan di sebuah nagari dalam rangka mengumpulkan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana umum di nagari tersebut.

Dalam pertunjukkan salawat dulang, biasanya dua pendendang duduk berdekatan dan menabuh dulang bersamaan. Keduanya dapat berdendang bersamaan atau saling menyambung larik dalam syair. Pendendang umumnya laki-laki.

Karena salawat dulang merupakan sastra lisan, maka teks yang didendangkan tersebut bentuknya berupa syair yang telah dihafalkan. Syair tersebut memiliki ciri sbb:

1. Larik yang berima sama tidak tentu, ada yang 3 larik, 5 larik atau 15 larik. Seperti pada kutipan salawat dulang berikut:

Mano sagalo nan mudo-mudo (a)
Di dalam Alquran ado tarkato (a)
Wā aqimmu şallat itu lah dek katonyo (a)
Di surek Albaqarah liek nan lah nyato (a)
Supayo kito nak lakeh picayo (a)
Wā aqimmu şallat sudahlah tarang (b)
Itulah firman dari Tuhan yang manang (b)
Dirikan dek kamu akan sambayang (b)
Limo wakatu malam jo siang (b)

Coba kita simak penggalan syairnya di atas, terdapat dua bagian rima yang berbeda. Yaitu, pada 5 larik pertama berima sama a-a-a-a-a. Sedangkan pada 4 larik setelahnya berima berbeda b-b-b-b.

2. Sebagaimana puisi lama lainnya, biasanya teks salawat dulang berkisar antara 4—8 kata dalam satu larik. Ditambah dengan bunyi-bunyi penyisip yang berfungsi untuk memperbagus irama pendendangan teks, seperti nde…, yo lai, dan dek lai sebagaimana onomatope, layaknya tiruan-tiruan bunyi untuk memberikan efek magis tertentu.

3. Jika dalam salawat dulang terdapat teks yang berbahasa Arab, maka Bahasa Arab yang ada dalam teks tersebut banyak yang sudah mendapat pengaruh dari bahasa Minangkabau. Jadi, bahasa Arab tersebut tidak selalu sama dengan bahasa Arab yang sebenarnya, terutama dari pelisanan dan maknanya—menyesuaikan pembacaan bahasa Minangkabau.

Teks salawat dulang ini terbagi atas 5 bagian, yaitu: Katubah (khotbah yang terdiri dari imbauan katubah, dan katubah), lagu batang, yamolai, lagu cancang, dan penutup. Bagian-bagian tersebut ada yang tekstual (teks yang harus dihafal dan bentuknya baku) dan ada yang kontekstual (teks itu isinya tergantung situasi dan kondisi pertunjukan).

Biasanya lagu-lagu daerah dipakai sebagai irama pendendangan dari salawat dulang ini. Salah dua irama yang sering dipakai dalam pendendangan salawat dulang ini adalah irama lagu-lagu tradisional daerah Minangkabau, seperti “Ratok Lawang” dan “Singkarak Manangih. Isi teks salawat dulang itu lebih cenderung berisi ajaran tasawuf, merujuk kepada asal-usulnya, Tarekat Syatariah. Tetapi, isinya bisa juga membahas masalah yang berhubungan dengan syariat. Terkait hal ini, teks atau syair dalam salwat dulang tidak bisa dikarang oleh sembarang orang, tentunya orang yang mengerti masalah agam, atau bisa juga orang biasa yang belajar melalui guru mengaji, sukang salawat senior, atau pada pengarang teks. Lalu dihapalkan untuk dipertunjukkan pada masyarakat.

Salawat dulang terus berkembang sebagai sarana penyampaian dakwah. Hal ini mengingatkan kita akan Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam dengan memakai sarana kesenian dan kebudayaan, seperti melalui wayang kulit. Model dakwah melalui pendekatan lewat kesenian dan kearifan lokal ini tentu lebih mudah diterima oleh masyarakat layaknya salawat dulang—melalui pertunjukan di tengah masyarakat.

Syair-syair yang terdapat dalam salawat dulang tentu saja tidak sama bentuk dan susunan bakunya dengan syair yang dibakukan—merujuk KBBI, atau buku-buku dasar Sastra Indonesia. Seperti aturan syair harus terdiri dari 4 larik dalam satu bait, berima a-a-a-a. Tentu saja merujuk kepada makna yang luas, sebagaimana syair disebut dalam Alquran—kebiasaan orang-orang Arab terdahulu mengarang dan membaca syair—tetapi umumnya bersajak, berima akhiran tertentu. Rima-rima bisa saja terus memakai pola a-a-a, dst., atau berganti di tengah untuk menyesuaikan kondisi dan situasi tertentu—sesuai keinginan penulis syairnya.

Menariknya, syair-syair dalam salawat dulang masih merujuk kepada syair-syair nasihat, bernapaskan agama (islam), bahkan lebih spesifik kepada ajarang tasawuf pada kondisi tertentu, yang mengingatkan kita terhadap aliran-aliran sufistik dalam dunia perpuisian. Anehnya, di Indonesia, tokoh penyair sufistik lebih disematkan kepada Hamzah Fansuri, sekalipun beberapa ada yang menyangkal. Agaknya merujuk kepada syair-syair yang ia tulis, terkesan bernapaskan tasawuf, merujuk kepada—karena ia memang termasuk salam satu sastrawan dan ulama sufi. Atau, Abdul Hadi, sebagai salah satu penyair modern yang membawa ruh sufistik (sufisme) di Indonesia. Agaknya benar pula, jika hanya merujuk kepada ketokohan, tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap syair-syair dalam salawat dulang, atau merujuk kepada tokoh (pembawanya) Syech Burhanuddin, ulama sufi pengamal (Mursyid) Tarekat Shatariyah.

Boleh jadi, telaah terhadap sastra lisan, sebagaimana halnya pantun, jarang merujuk kepada isi batin (teks) yang dibuat, karena kebanyakan telaah lebih sering membahas secara umum jenis karyanya itu sendiri. Seharusnya, syair dalam salawat dulang tentu berbeda dengan puisi lama seperti halnya pantun, yang isi, pesan, dan amanatnya dinamis—tidak hanya merujuk nasihat, tetapi bisa pula berisi candaan, sindiran, teka-teki, hiburan, dsb. Atau bisa pula, telaah seperti ini tidak begitu berkembang atau menarik minat banyak orang untuk membahasnya di muka umum sebagaimana puisi lama lainnya, seolah dibaca dan diminati secara khusus oleh orang tertentu saja.

Biodata Penulis

Indra Intisa yang sering dikenal dengan Ompi sudah menulis sejak kecil. Selain menulis, juga suka bermain musik dan menulis lagu-lagu. Menulis buku-buku puisi, cerpen, novel, dan esai-esai. Beberapa karyanya pernah terbit di Koran: Media Indonesia, Utusan Borneo (Malaysia), Riau Pos, Tanjung Pinangpos, Lampung Post, Haluan, Pontianak Pos, Koran Padang, Floressastra dan beberapa media online seperti Kawaca.com, Islampos.com, Sastra-Indonesia.com, dst.

Pos terkait