SUARA DARI BALIK PINTU KAMAR

Oleh : Adam Yudhistira

Laura menekan tombol play pada ipad-nya dan menempelkan earphone-nya ke telinga. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang, berusaha bersikap tenang. Tindakan ini membuat ia merasa lebih baik sekaligus lebih sedih. Lebih baik karena aman dari suara-suara keras itu, dan lebih sedih karena merasa diabaikan.

Setetes air mata bergulir di pipi Laura. Ia ingat, seminggu yang lalu ia dan mamanya duduk di taman kota. Ia bertanya, apakah mama akan berpisah dengan papa? Tapi mama tak menjawab. Laura justru dimarahi, karena sudah bertanya sesuatu yang tak boleh diketahui.

Jika dua orang dewasa sering bertengkar, biasanya mereka akan berpisah, begitu kata Stefani, teman sekolahnya saat ia bercerita jika mama dan papanya sering bertengkar. Saat ini Laura merasa takut pada ucapan Stefani. Ia takut ucapan Stefani menjadi kenyataan.

Sebenarnya Laura ingin bertanya, bertanya perihal penyebab pertengkaran mama dan papa, namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Mama dan papa tak pernah mau menanggapinya. Bahkan yang paling membingungkannya adalah sikap papa dan mama. Laura merasa asing di mata mereka.

Dulu, sebelum malam-malamnya diteror oleh suara itu, kehidupan terasa wajar. Seperti biasa, papa sering tidak pulang, bahkan bisa satu minggu. Kemudian seperti biasa, mama masih mengantarnya ke sekolah. Tetapi perubahan mulai muncul ketika papa pulang bersama Tante Rosana. Sejak itulah mama dan papa sering bertengkar.

Dalam pertengkaran mereka, nama Tante Rosana selalu disebut-sebut mama. Laura tak mengerti, mengapa nama perempuan itu selalu disebut. Bahkan jika mama sudah menyebut nama itu, papa akan berteriak dan mengatakan bahwa Tante Rosana lebih baik dari mama. Laura tak setuju. Menurutnya, mama lebih baik dari Tante Rosana. Di mata perempuan itu, Laura melihat seribu semut merah yang berniat menyakitinya. Seperti mama, Laura tak suka Tante Rosana.

Selama ini, Laura tak pernah menyembunyikan kesedihannya, karena mama dan papa selalu mengajarinya untuk berterus terang. Namun, sekarang Laura mendapati kenyataan yang menyakitkan; ia tidak mendapatkan itu dari mama dan papa. Mama dan papa bersikap seperti orang asing. Mereka tak pernah mau berterus terang tentang apa yang terjadi.

Biasanya, dulu, papa akan menghampirinya jika ditemui ada kesedihan di wajah Laura. Papa akan menggendongnya keluar kamar, sambil menggelitiki pinggangnya hingga Laura tertawa nyaring. Dan kalau ia sudah lelah tertawa, barulah papa akan mendudukannya di sofa. Biasanya mama juga sudah menunggu di sana, lalu mereka bertiga menyusun rencana-rencana ajaib untuk mengisi libur akhir pekan.

Saat ini Laura merindukan masa-masa itu. Ia sedang merindukan dongeng-dongeng mama. Dulu, biasanya jika ia tak bisa tidur, mama akan membacakan sebuah dongeng untuknya. Dongeng yang paling ia ingat adalah dongeng tentang puteri cantik yang terperangkap di dalam puri penyihir. Puteri cantik itu terpisah dari mama dan papanya hingga seorang peri menyelamatkannya.

Entah kenapa, sekarang Laura merasa dirinya seperti puteri cantik itu: terperangkap dan terpisah dari mama dan papa. Namun Laura tidak yakin ada peri yang akan menyelamatkannya, sebab Laura tahu, peri hanya ada di dalam dongeng mama. Tak pernah ada peri yang akan menemaninya. Di kamar ini ia menangis sendirian.

Suara-suara itu membuat Laura putus asa. Bahkan meskipun volume lagu di ipad-nya sudah dikeraskan, suara-suara itu masih saja terdengar. Dengan gerakan pelan, Laura meraih selimut dan menutupi sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, berharap dengan cara itu ia tak lagi mendengar suara-suara di luar kamarnya.

Betapa menjengkelkan situasi yang terus diulang-ulang seperti ini, pikir Laura. Situasi yang sama ketika ia dan mama berada di pantai bulan lalu. Papa yang tiba-tiba hadir mulanya membuat Laura gembira. Ia ingin mengajak papa berlomba mengumpulkan kerang, namun sikap dingin papa membuat Laura memilih mengumpulkan kerang seorang diri.

Pada saat itulah untuk pertama kalinya Laura berharap kemunculan sesosok peri. Peri yang terbang di sekitar kepalanya, mengenakan gaun putih dan sebatang tongkat wasiat. Laura berkhayal peri itu akan memutar-mutar tongkatnya, mengeluarkan kemampuan sihirnya lalu menyulap mama dan papa menjadi patung.

Sore itu, sewaktu mereka pulang ke rumah—tentu saja hanya ia dan mama yang pulang, sebab papa telah pergi usai Laura menyelamkan kepalanya ke laut untuk ke lima kalinya—Laura mendapati bekas kebiruan di pinggir bibir mama. Bekas terantuk batu, kata mama. Tapi siapa yang percaya? Mama bukanlah Nenek Christine, tetangganya yang bermata lamur itu. Mata mama lebih awas dari mata seekor elang. Laura pernah membuktikannya: ia sering tertangkap saat sedang mengendap-endap keluar jendela ketika jam tidur siang.

Beberapa hari kemudian bekas biru yang misterius itu menghilang dari wajah mama. Bersamaan dengan itu, Laura juga kehilangan papa. Papa betul-betul berubah. Perubahan itu membuat Laura takut. Udara yang terembus dari mulut papa kerap berbau busuk. Pada mata papa, Laura melihat ribuan semut merah yang dulu ia lihat ada di mata Tante Rosana.

Sebagian dirinya tidak menyalahkan perubahan papa—meski itu bukanlah hal yang diinginkannya—setidaknya masih ada mama yang tidak berubah. Tapi bagaimana jika mama juga ikut berubah? Laura ingin menangis. Pertanyaan itu membuat air matanya keluar lagi. Semakin keras suara-suara itu, semakin deras pula kejatuhan air matanya.

Hal yang paling ditakuti Laura apabila mama dan papa berpisah ialah kesepian. Tanpa mama dan papa, ia hanya gadis kecil yang berkeliaran tidak keruan di dalam rumah ini. Bagaimana jika mama dan papa betul-betul akan berpisah? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup? Pertanyaan itu membuat tenggorokan Laura tercekik dan jantungnya berdebar.

Laura mencengkram bantal sekuat tenaga. Bahu dan lengannya gemetar. Laura mengerang. Untuk sesaat ia merasa perutnya kejang, tapi untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama. Ia menahan perasaan tak nyaman itu dalam diam dan menangis tersedu-sedan.

“Peri,” bisik Laura lirih. “Bisakah kaudatang?”

Laura melihat ke arah lampu yang tergantung di langit-langit kamar. Ia mencari sosok peri yang sering didongengkan mama. Ternyata peri itu terbang di atas sana, membelakangi cahaya lampu, bayangannya begitu jelas. Sayap peri itu mengepak dan Laura menunggu ia menggerakkan tongkat wasiatnya.

“Bisakah kau membuat mama dan papa menjadi patung?” kata Laura memohon. “Untuk malam ini saja.”

Peri itu diam saja. Ia mengabaikan permintaan Laura. Bahu Laura berguncang-guncang, karena kali ini ia menangis lebih hebat dari yang pertama. Ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepala. Lampu masih menyala. Peri telah lenyap. Tentu saja tidak pernah ada peri di kamar itu. Laura tahu itu. Peri hanya dongeng yang diulang-ulang mama.

“Tapi rasanya begitu nyata,” ucapnya dengan suara serak. “Peri itu begitu nyata!”

Baginya bukan masalah dengan harapan buruk yang baru saja ia pikirkan: peri menyulap mama dan papa menjadi patung. Ia cuma berharap dengan begitu mereka akan lebih tenang. Tetapi sayangnya tak akan ada peri, tak akan ada patung, tak akan ada keajaiban untuk Laura.

Waktu telah menunjukkan pukul satu malam, Laura kembali berusaha memejamkan mata, mencoba menikmati alunan lagu di ipad-nya. Ia sama sekali tidak ingin bangun dari tidurnya apalagi menemui mama dan papa. Laura hanya ingin meringkuk di atas ranjang, mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, dan kalau bisa, ia ingin tidur.

Angin berembus pelan, menyusup dari jendela kamar yang sedikit terbuka, membuat gorden menari seperti seorang balerina. Angin menyentuh kulit Laura dan ia merasa sejuk. Setelah satu atau dua menit, Laura melepas earphone-nya. Suara-suara tadi kini berganti suara-suara benda berjatuhan dan pecah. Suara benda pecah itu cepat berganti dengan suara mama.

Ketakutan Laura semakin menjadi-jadi ketika papanya berteriak; mati! mati! mati! Teriakan papa kemudian berganti menjadi suara tangis sesenggukan. Setelah itu semuanya hening. Hening yang panjang dan suram. Waktu bergerak lamban. Suara itu menghilang. Di atas ranjang, Laura tertidur. Di dalam tidur ia bermimpi bertemu peri. (*)

 

ADAM YUDHISTIRA (1985).
Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Pos terkait