LAIKA; PUISI-PUISI WENDY FERMANA

Ilustrasi : Unsplash/James Graham
Ilustrasi : Unsplash/James Graham

PELARUNGAN SURGA

Setelah ia tanggalkan semua
ikan terbang menghambur
ke dalam keranjang bambu
perahu berlayar menjauh
seolah tanpa kemudi.

Tubuhnya masih di sana,
meski resi telah menggandeng
masa depannya
agar lepas dari garis tangan

segenap napas
beralih dan pergi ke loka lain.

Tuah waktu biarlah lepas
masing-masing
dan peristirahatan ini
lekas-lekas berloncatan

segar yang terapung di segara.

2013-2020

 

SERANGKAIAN SANDIWARA

Padamu kami belum padam
bulan arit itu gantung di samawi
isyarat itu datangkah kemari?

Misalkan matahari musim ini meleleh
membentuk perkakas pertukangan
padamu kami belum padam.

Periuk nasi kami tanak ujung dan tepi hari
api bukan lagi dendam
api ini nyala berbahagia

api yang disembunyikan
dinyalakan dalam serangkaian sandiwara
pada babak menjebak mata.

Pahala yang terbungkus larangan
suara yang dikeluarkan
suara yang didengarkan

padamu kami belum padam
hanya untuk mengejar jeda itu
yang tak selalu singgah.

Pancaindra menghentikan ibadah
pada hitungan cerah dan kelam

padamkah api yang ditanam
di segumpal darah itu?
Menunggumu yang berkabar
akan menunaikan perhitungan.

2013-2020

 

KUDA

Sebentang sabana dan kuda liar
meringkik pada musim lapar.
“Kejar, kejar betina, ini musim kawin.”
Seekor jantan menghentak kaki
dan betina pun lari.

Matahari ditelan langit biru laut.
“Kejar maut diam-diam dan rajam.”
Biji mata mengair
larutan tubuh hampir tumpah.

Penunggang mencambuk kuda.
“Lari, lari, kejar betina.”
Pagar batu dan kayu bergetar.

Kuda berputar
di lintasan
berkejaran.

Papan nilai
berganti angka
di pasir terakhir.

Kuda liar berkejaran
menjawab arti kebebasan.

Di padang rumput
ini musim kawin.

2013-2020

 

MAWAR MEKAR DI NYALA MINYAK

Di kejauhan, dari mata-mata pengetahuan
kita intip selongsong terompet
yang kau sebut ruang kembang.

Hanya ada satu kembang di langit kota
mesiu yang ledak di lapis langit rendah
pada malam anak-anak kangen buat bahagia.

2016-2020

 

 

LAIKA

 

Di batas ini kita berpisah, Manisku?

 

Tapi kau akan lengkapi konstelasi

jadi segaris bintang di sana,

hingga sebenarnya tak ada kata berpisah

kita cuma menjauh, Laika

aku lekat, kau tamasya ke semesta pekat.

 

Tapi aku bisa menunjuk

tempatmu tergantung dan melayang

seperti aku tahu kau menunggu

selalu di ambang pintu

kala petang.

 

Pergilah, Laika, dengan bahagia

logam ini bukan batas

pun kotak yang mengandang,

sebab kau akan memandang

lebih luas ke yang tak terbatas

memandangku, memandangmu,

memandang gugus bintang.

 

Menyalaklah, Laika, dan tertawa

sebab kecemasan akan meleleh

dan kita akan menoleh

semesta ini bahagia.

 

2014-2020

 

Wendy Fermana
lahir di Palembang, 10 November 1994. Ia menulis buku Kawan Lama (Teras Budaya Jakarta, 2017) dan Ratu Bagus Kuning (Balai Bahasa Sumatera Selatan, 2017). Saat ini, ia bergiat di Komunitas Kota Kata dan berkhidmat sebagai pengajar Bahasa Indonesia di MTs Negeri 1 Lubuklinggau. Ia dapat disapa di instagram @anamref.

Pos terkait