Catatan Penilaian Dewan Juri Lomba Cipta Cerpen dan Puisi wartabianglala.com 2020

Pengumuman

Dari pemaparan ringkas sebelumnya ( https://www.wartabianglala.com/2020/12/18catatan-dewan-juri-lomba-cipta-cerpen-dan-puisi-se-kabupaten-lahat-wartabianglala-com-2020/ ), saya harap para peserta dapat memahami bagaimana proses penjurian lomba Cipta Cerpen dan Puisi se-Kabupaten Lahat yang diadakan Wartabianglala.com untuk kategori SD, SMP, dan Umum ini berlangsung. Karya sastra adalah gading, gading tak ada yang tak retak. Retakan itulah bagian tidak terpisahkan dari keindahan gading. Tetapi retakan-retakan yang terlalu besar akan memecahkan gading menjadi rabuk dan tak termaknai.

Begitu kiranya dan tiba saat untuk mengatakan bahwa, inilah judul dan nama-nama pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi Wartabianglala.com 2020.

Cerpen Kategori SD

Juara 1
PANTAUAN
Karya Azfar Aufa Ashil

Juara 2
CAK INGKLING
Karya Azzahra Zalfa Rismunadi

Juara 3
BERKARANG DI LUBUK LARANGAN
Karya Ilona Falda Miskis

Juara Harapan 1
PEMIMPIN BERBUDAYA, LAHAT BERCAHAYA
Karya Sonya Valentin

Juara Harapan 2
PANORAMA TEPIAN AYEK LEMATANG
Karya Fajar Fathoni

Sekilas Pandang Ihwal Karya para Pemenang
Cerpen Kategori SD

Pantauan
Sudah bercerita dengan baik. Seorang gadis kecil dan seorang gadis yang akan disunting orang Jakarta serta ibu dihadirkan sebagai tokoh yang cukup mampu menjalankan cerita. Catatannya, dalam aturan penulisan, setiap setelah tanda baca, huruf pertama dari kata setelah tanda baca itu harus diberi spasi. Pada cerpen ini, semua bagian setelah dialog tidak berspasi. Meski demikian, cerpen ini adalah cerpen terbaik di kategori SD.

Cak Ingkling
Cerita ini akan lebih kuat dan menyenangkan para pembaca jika keterangan tentang bagaimana memainkan Cak Ingkling. Sayangnya penulis lebih memilih mendeskripsikan. Padahal deskripsi itu tidak diperlukan jika penulis dapat membawanya di dalam adegan permainan antara Zahra, Alya, dan Dara. Meski demikian, sebagai cerita, cerpen ini telah mbercerita. Tinggal bagaimana detail nuansa dan kultur perlu dibangun, tentu saja dengan perspektif anak-anak.

Berkarang di Lubuk Larangan
Di desaku ada kebiasaan yang sangat unik, yaitu bekarang. Bakarang adalah cara masyarakat melestarikan ikan di sungai dengan cara melarang masyarakatnya mengambil ikan khususnya di Lubuk Larangan. Siapa yang mengambil ikan di lubuk tersebut maka ia akan dikenai denda Rp100. Ini sudah menjadi kesepakatan bersama, bukan masalah besar kecilnya denda yang ditetapkan namun kesungguhan masyarakatlah yang diminta guna melestarikan ikan yang ada di sungai. Bukan berarti ikan di sungai tidak boleh diambil bukan. Ikan akan diambil secara bersama-sama setiap satu tahun sekali, kemudian ikan dibagi rata untuk semua masyarakat khususnya Desa Gunung Kembang.

Paragraf di atas adalah bagian dari cerpen “Berkarang di Lubuk Larangan”. Jika hanya satu bagian saja, tidak terlalu bermasalah, tapi jika banyak bagian, kiranya penulis perlu memasukkannya di dalam cerita, kejadian-kejadian agar tidak terkesan cerewet mendeskripsikan begitu banyak hal di dalam cerita. Meski demikian, konten cerpen mempunyai daya tarik, khususnya bagaimana si tokoh utama memahami tradisi di kampungnya.

Pemimpin Berbudaya, Lahat Bercahaya
Meski telah bercerita, cerpen ini terlalu klise. Tanpa kejutan. Imajinasi perlu digerakkan agar para pembaca tidak membaca sesuatu yang mudah ditebak bahkan sejak kalimat pertama.

Panorama Tepian Ayek Lematang
Sebetulnya ide cerpen ini menarik, tentang keberadaan Ayek Pematang, sebuah sungai yang ikonik di Lahat. Tetapi penggarapannya jatuh pada mendeskripsikan tempat. Akan lebih hidup jika penulis berani menghadirkan kisah-kisah. Orang-orang yang ada di sana dibangun sebagai sebuah kisah yang berlaluan. Itu akan membuat cerpen ini menarik.

Cerpen Katgori SMP

Juara 1
AKSA & LARAS
Karya Anisah Nabilah

Juara 2
PESONA KOTAKU
Karya Muhammad Kaleka Amannullah

Juara 3
NUANSA PANTAUAN
Karya Ahmad Zidane Arrizky

Sekilas Pandang Ihwal Karya para Pemenang
Cerpen Kategori SMP

Aksa & Laras
Kisah remaja dengan segala dinamikanya yang dihadirkan melalui tokoh utama Aksa dan Laras cukup baik diperjalankan. Hanya saja, perlu kiranya membatasi diri dari gairah bercerita yang tidak perlu sehingga tidak mengesankan cerpen yang berpanjang-panjang ria. Perlu dibuat lebih padat lagi agar unsur kebudayaan dapat dihadirkan secara maksimal.

Pesona Kotaku
Tokoh utama kedatangan sepupunya dari Palembang yang bernama Rio. Di situlah triger ceritanya sebelum pada akhirnya petualangan ke Placu, sebuah tempat wisata, diperjalankan. Cerpen ini dibanding dengan “Aksa & Laras”, secara teknis penulisan lebih baik, tapi dalam urusan kedinamisan cerita, di situ kekurangannya. Cerita petualangan yang semestinya penuh kejutan terkesan datar-datar saja. Meski, sekali lagi, sebagai cerita, cerpen ini telah bercerita.

Nuansa Pantauan
Penulis terlalu tergoda untuk membuat narasi-narasi ajakan, padahal ajakan untuk menjaga kebudayaan, yang dalam cerpen ini menunjukkan Pantauan sebagai budaya persedekahan dalam suatu pernikahan, cukup menjadi cerita, bukan menjadi ajakan verbal yang diselap-selipkan di dalam teks. Meski demikian, cerpen ini berpotensi menjadi cerpen yang menarik setelah dilakukan pengendapan dan perbaikan oleh penulisnya.

Cerpen Kategori Umum

Juara 1
GANTUNG AKAR
Karya Dee Hwang

Juara 2
JEMBATAN PAGAR BATU, SAKSI BISU DAMAR MERAIH CITA
Karya Ummi Dzakayfat

Juara 3
DUE BECUCONG
Karya Elvy Laili Za

Juara Harapan 1
NGANTATKA ANAK BUJANG
Karya Shangrilla Putri Aisyah

Juara Harapan 2
TANAH BUDAYA
Karya Neni Yusmita

Juara Harapan 3
PETANG-PETANG
Karya Permatasyah

Sekilas Pandang Ihwal Karya para Pemenang
Cerpen Kategori Umum

Gantung Akar
Saya berpikir begini setelah membaca cerpen “Gantung Akar”: inilah cerpen bertema kebudayaan lokal yang benar-benar dapat mengemas diri dengan baik. Bobot isi dan teknik menulis mendekati “matang”. Salut!

Jembatan Pagar Batu, Saksi Bisu Damar Meraih Cita
Kisah dalam cerpen ini sebetulnya telah selesai pada saat Bapak ditemukan tewas jadi korban si Tue, Harimau Sumatera yang meneror masyarakat karena sedang turun gunung, tapi untuk memasukkan unsur kopi sebagai bagian kultur Lahat, menjadi panjanglah ini cerita. Padahal dapat disiasati dengan memasukkan narasi kopi dalam cerita di awal dan tengah. Di akhir kiranya cukup sampai pada pesan Kakek ihwal ruko yang telah dilunasi mendiang Bapak.

Due Becucong
Sebagai cerita, cerpen ini memiliki konten cerita yang mahal. Kemengaliran cerita seperti aliran sungai yang sangat deras, enak untuk diikuti. Sayangnya, dari aspek penulisan, berantakan. Paragraf dan dialog berbaur tanpa ada jeda yang jelas. Saya membayangkan jika penulis mau lebih hati-hati dan teliti dalam menerapkan penulisan yang sesuai dengan konvensi atau setidaknya dapat dipahami konsepnya, cerpen ini akan menjadi cerpen yang luar bisa.

Ngantatka Anak Bujang
Teknik penulisan kalimat langsung tidak langsung masih bermasalah. Banyak bagian yang salah penulisannya. Penulis ini punya bakat bercerita yang kuat, karenanya perlu secara serius mendalami hal-hal teknis. Pelajari juga bagaimana plot dan alur. Ini agar tidak melulu “Bla bla bla.” kata A; “Bla bla bla”, B menanggapi. Hal lain, Guritan Jagad Besemah dengan judul “Amu Betuah Tunggulah Dusun” tidak tergambarkan secara jelas agar dapat diterima narasi bahwa pertunjukan itu dapat memaukau semua penonton. Selebihnya cerita dapat dipahami. Penyatuan unsur kebudayaan dengan kegelisahan seorang Agung dalam urusan romantikanya dapat hadir dengan cukup baik di dalam cerita ini. Catatan, penulisan poisisi narator dan tokoh masih berantakan. Bertindihan di dalam satu paragraf tanpa kemahiran menempatkan akan bermasalah. Karenanya, disarankan terlebih dahulu memisahkan saja antara narasi dan dialog.

Tanah Budaya
Perpindahan tokoh lelaki bergitar yang menyapa tokoh Adhya ke Putri, gadis yang mengajaknya menari, tidak jelas. Selebihnya cerita berjalan cukup menarik. Tinggal bagaimana mengalurkan logika cerita. Kemengalirannya sudah asyik, logikanya di beberapa bagian perlu penguatan.

Petang-Petang
Sebagai cerpen bernuansa misteri dalam bangunan tradisi, secara umum cerpen ini dapat dipahami, jelas ceritanya. Tetapi unsur-unsur tradisi, misalkan bagaimana ketika gadis misterius itu menari memunculkan aura yang mistis. Nuansa tradisi belum dihadirkan secara maksimal, misal, menghadirkan mitos-mitos masyarakat tentang penari, pandangan sosial terhadap keberadaan penari, dan semacamnya. Jika hal itu dapat digarap dengan baik, cerpen ini memiliki potensi menjadi cerpen berlatar kebudayaan yang kuat.

Puisi Kategori SD

Juara 1
MEN NAK ILOK MUMPUNG GI TUNGGAL
Karya Muhammad Rajab Al-Kautsar Syah

Juara 2
SUBHANALLAH SERELO
Shania binan azzahrah

Juara 3
ERAI ERAI
Karya Azzahra Zalfa Rimunadi

Juara Harapan 1
LEMATANG
Karya Aniendhya Aruna

Juara Harapan 2
KEMBANG KOPI
Karya Dinara Alkinan Hanania

Juara Harapan 3
MENGENAL DIA
Karya Dhiya Fairuz Kamillah

Sekilas Pandang Ihwal Karya para Pemenang
Puisi Kategori SD

Tidak banyak yang perlu saya catatkan tentang puisi-puisi pemenang kategori SD ini, karena soalannya telah saya sampaikan di muka, dalam paparan. Satu saja, anak-anak sering tergoda untuk membuat semacam kesimpulan dari puisi mereka, padahal itu tidak diperlukan. Perhatikan penggalan bait terakhir masing-masing peserta ini:


Pelancu tempatku menatapmu
Sembari bapak, ibu menikmati maksuba bersanding kopi Robusta
Bermain aku dengan anak batumu
Saat ku besar nanti ingin mendaki mu semesta
Bila kini aku hanya mampu menyentuh bentukmu di Android
Semoga kelak akupun mampu menjaga lestari mu
Dari pak Bupati hingga rakyat biasa mari menjadi solid
Hingga akhir zaman bukit Serelo tetap gagah tak jemu
Subhanallah bukit Serelo titipan sang Kuasa
Sebagai tanda bahwa kita bisa menjaganya
Kekayaan berlimpah di baliknya dan untuk kemakmuran bersama bukan hanya penguasa
Alhamdulillah aku terlahir, di bumi seganti setungguan berjanji akan jaga kelestariannya

(SUBHANALLAH SERELO, Shania binan azzahrah)

….
Erai Erai
Tari suka cita
Tarinya para pekerja keras
Tari suka cita
Lambang kearifan lokal

(ERAI ERAI, Azzahra Zalfa Rismunadi)


Lematang oh Lematang….
Teruskanlah mengalir arusmu
Tetap bening indahmu
Menyejukkan seluruh aliranmu

Lematang oh Lematang…
Ketika matahari terbenam di kaki langit barat..
Kulihat alam indah yang tak pernah kulihat sepanjang hidup ku
Terima kasih Tuhan,telah menciptakan alam seindah ini…

(LEMATANG, Aniendhya Aruna)


Semerbak, harum, mengembara
Putih memulas musim “bediding” dingin, kerut..
Menanti hasrat menatap harap
Meskin lama kutunggu panen tiba
Suguhkan kopi panas, cawan tembikar
Bersama Ayah Bunda, dalam doa

(KEMBANG KOPI, Dinara Alkinan Hanania)


Sikok, duo, tigo… perlahan, tapi pasti
Siapa tahu Dewi Fortunaku ada disini
Kujunjung langit diatas bumi yang kupijak
Karena Lahat bagian dari sejarahku, kelak…

(MENGENAL DIA, Dhiya Fairuz Kamillah)

Bagian yang saya tandai dengan warna merah adalah bagian yang, pikir saya, tidak perlu ada. Puisi sudah selesai di bagian sebelumnya. Akan lebih kuat jika tanpa bagian yang dimerahkan itu. Dalam ini ini, hanya juaa 1, “Men Nak Ilok Mumpung Gi Tunggal” karya Muhammad Rajab Al-Kautsar Syah yang selamat dari godaan. Berikut bait terakhir puisi yang saya maksud:

Dari Lembah Serelo aku dilahirkan..
Untuk Lahat aku mengabdi…
Bait ini layaknya sebuah petuah..
Petuah terakhir penutup larik..
“Janji Nunggu Kate Betaruh”

Meski demikian, saya sangat gembira membaca puisi anak-anak SD yang mengikuti perlombaan ini. Karya-karya mereka, menarik. Mereka layak untuk terus dijaga, diajak belajar bersama untuk kemudian menjadi bagian dari masa depan sastra Lahat, masa depan sastra Indonesia. Saya harus mengakui, berat menentukan juara 1, 2, 3, dan harapan-harapan, karena 6 karya terpilih itu, memiliki kualitas yang kurang lebih sama baik. Tetapi di dalam lomba harus ada yang menang, kan?

Puisi Katgori SMP

Juara 1
PACAK ULAK DI ULAK’I PACAK JANGAN DI JANGANI
Karya Shabira Khoirranisyah

Juara 2
NUANSA KOTAKU
Karya Mariyah Alqib Thiyyah

Juara 3
TEPIAN LEMATANG
Karya Parel Pangayoman

Juara Harapan 1
PESONA LAHAT
Karya Fatimah Ira Ningrum

Juara Harapan 2
SENANDIKA
Karya Diva Putri Kalila

Juara Harapan 3
ATAS NAMA CINTA DALAM BUDAYA
Karya Syafitri Damayanti

Untuk kategori SMP, rata-rata ada pada soal yang sama: terlalu banyak mendeskripsikan dan mendayakan kata sifat yang sulit diimajikan pembaca. Oh indah Lahatku, menawannya lahatku, lahatku kota yang menawan dan semacamnya. Hal-hal semacam itu dalam sebuah puisi perlu dihindari. Cara menghindarinya telah saya jabarkan dalam paparan di atas.

Puisi Kategori Umum

Juara 1
RESEP HEHANCANG TEHUNG*
Karya Okta Saputra

Juara 2
MASIH ADA KUDENGAR
; Kepada Bambang Hidayat. *
Karya Dee Hwang

Juara 3
HUMAH
Karya Mufida Guswandina

Juara Harapan 1
DI BALIK YANG TERGERUS OLEH ZAMAN
Karya Nur Aisyah

Juara Harapan 2
MUTE KAWE
Karya Novelia Putri Rianti

Juara Harapan 3
NGETAM PADI, NGANGKIT BALAM
Karya Helen Swedya

Sekilas Pandang Ihwal Karya para Pemenang
Puisi Kategori SMP

Setelah membaca karya-karya yang masuk dan menentukan para pemenangnya, saya melihat bahwa Okta Saputra dan Dee Hwang adalah dua penulis muda yang sangat layak diharapkan menjadi bagian penting kesusastraan Lahat dan bukan tidak mungkin, tergantung pada proses penempuhan mereka berdua, menjadi bagian penting bagi kesusastraan Indonesia.

Puisi “Resep Hehancang Tehung” karya Okta Saputra dapat menghadirkan nuansa kelokalan yang kuat, bukan hanya karena penautan-penautan, melainkan caranya menulis dengan nuansa ke-Melayu-an yang kental memperkuat nuansa itu. Bahasa hadir sebagai bagian tidak terpisahkan. Hal lain, keberaniannya memainkan tiporagrafi dengan pemenggalan ekstrem–yang jika tidak hati-hati amat berbahaya sebuah puisi–juga dapat ia pertanggungjawabkan.

Perhatikan penggalan puisinya berikut ini:


Bila datang laparmu,
pergilah ke ladang
Petiklah terung terakhir
yang tak sempat gugur
Lalu tanggalkan keluh kesah
untuk ditukar ikan lais
yang kini hanya hidup di
tidur lelap para nelayan

Rapi! Mengalir. Hidup. Bergairah. Terkontrol. Itulah kiranya yang saya dapatkan dari puisinya, selain bagaimana ia menawarkan sebuah dunia yang utuh di dalam puisinya terkait suatu kebudayaan tanpa mengatakan “budaya” atau “kebudayaan”.

Puisi Dee Hwang? Kekuatan lompatan imajinasinya dalam membangun puisi membuat para pembaca berlarian dari satu nuansa ke nuansa yang lain. Ia sesekali masuk dalam ruang eksternal yang semua orang dapat menangkap dan menanggapi dengan segera dan sesaat ia lompat kepada ruang diri yang dalam, tempat seorang pribadi memaknai begitu banyak hal tanpa tersentuh oleh apa pun yang berada di luar dirinya.

Berikut ini penggalan puisi berjudul “Masih Ada Kudengar; Kepada Bambang Hidayat.” yang saya maksud:


Hijau zamrud, aturan alam, dan kerja manusia pernah mencelang mata kita
Bukit barisan, kebun kopi di seberang, piluk terperangkap selemate
Sempadan tempat kursi-kursi mencuri ruang kosong
Di atas jembatan benteng ini kau berkata-kata.
“Itulah jejak-jejak yang ditinggalkan hidup,
anak-anakku, pandai-pandailah mengingat.”

Ini sore masih mengalir pertanyaan-pertanyaan.
Persis rasa penasaran,
Mengapa masa kecil serupa jalan di depan rumah kita
yang berlubang.

Memutuskan siapa pemenang di antara keduanya amat sulit. Kekuatan keduanya ada pada tempat yang berbeda. Masing-masing kuat dengan ciri khasnya sendiri. Itulah jebakan lomba dalam dunia seni, ketika secara teknis semua beres, kita akan bermain dalam wilayah non teknis. Tetapi wilayah non teknis semisal rasa dan perasaan amat sulit digenggam sebagai sesuatu yang dapat dipetanggungjawabkan. Karenanya, apa gerangan yang memungkinkan untuk menentukan juara 1 dan 2 dari dua karya yang sama baik itu. Alhasil, saya memilih Okta Saputra dengan pertimbangan, menulis puisi dengan nuansa kebudayaan tanpa tautan-tautan bahasa lokal memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Hal lain, eksperimen kebahasaan yang dilakukan Okta juga memberi tekanan tersendiri. Yang saya maksud adalah permainan tipografinya.

Tipografi dalam pengertiannya adalah seni cetak atau tata huruf, yakni teknik memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu. Umumnya guna kenyamanan membaca dengan capaian semaksimal mungkin, dalam puisi, dapat berfungsi sebagai pembentuk musikalitas dan perluasan makna. Kesalahan pemenggalan kata dan penempatan dalam puisi sangat fatal akibatnya. Karena itu, ini masuk pada wilayah eksperimen. Okta berhasil melakukannya dengan baik.

Perhatikan penggalan puisinya berikut ini

Orang-orang mengerti:
dapur tak pernah benar-
benar menyimpan dendam
selain rempah segala rupa;
garam segala ragam
Maka kerat & tumbuklah
seluruhnya sekeras orang-
orang kota menekan
amarah di jalan raya

Jika saya ubah sedikit saja, tipografi yang apik itu akan rusak. Perhatikan:


Orang-orang mengerti:
dapur tak pernah benar-benar menyimpan
dendam selain rempah segala rupa;
garam segala ragam
Maka kerat & tumbuklah
seluruhnya sekeras orang-orang kota
menekan amarah di jalan raya

Di mana letak kerusakannya? Pada bunyi. Bacalah dengan pembacaan bersuara, maka akan dirasakan bunyi yang berbeda. Hal lain, setiap larik tidak benar-benar bermakna, sebermakna ini:

Orang-orang mengerti: orang-orang telah/yang mengerti
dapur tak pernah benar- dapur tak pernah sampai pada kebenaran
benar menyimpan dendam benar menyimpan dendam

Pertimbangan lain, banyak wacana kesusastraan Indonesia, pemerian catatan kaki masih diperdebatkan posisinya, ihwal penting atau tidak penting. Keduanya memang menggunakan catatan kaki, tapi Dee Hwang lebih dominan. Di sini jangan dipahami bahwa menerakan catatan kaki dalam puisi adalah masalah. Catatan kaki dalam sebuah puisi lazim digunakan, walau seringkali ianya bukan sebagai pertaruhan dari sebuah puisi.

Bagaimana dengan karya Mufida Guswandina, yang menempati juara 3? Puisi “Humah” atau Rumah apik juga untuk dibaca. Mufida telaten menggarap puisi ini:


Sebenarnya,
Disini lebih senang,
Tiap kami datang,
Ibu jari hijau nan megah ,
menyambut kami dengan selendang
Sambil berdiri tegak menjulang
Ia berkata dengan girang
Kepada sesiapa saja yang datang,
Dikatakannya dengan lantang,
“Akulah tempat terbaik,tuk jadi tempat mu pulang!”

Melalui proses perjalanan kekaryaan yang intens, karya-karya Mufida berkemungkinan menjadi lebih cemerlang di kemudian hari. Ia memiliki bakat yang besar. Tinggal bagaimana ia menempuh pengalaman demi pengalaman estetik dalam proses kekaryaannya. Potensi itu juga dimiliki oleh para juara harapan, hanya saja yang terlebih dahulu mereka temukan adalah bentuk puisi. Sesuatu yang mereka yakini, yang menyamkankan diri mereka ketika menulis. Misalkan Helen Swedya dan Novelia Putri Rianti hendak mendalami penulisan puisi dengan pendekatan sastra Melayu, wabil khusus pemutakhiran karya sastra lama semisal pantun dan gurindam, sah-sah saja. Asalkan fokus dan benar-benar melakukan upaya inovasi yang serius. Saya berkata demikian, karena saya membaca karya mereka sepertinya hendak mengarah kesana. Perhatikan penggalan puisi keduanya berikut ini:


Rindang, terlihat pohon begitu rindang
Riuh angin berhembus kencang
Dedaunan pun mulai melayang
Ku duduk sendiri di tepi lematang
Mata terpaku jauh dipandang

(Ngetam Padi, Ngangkit Balam, Helen Swedya)


Kutaruh kinjar di tepi ladang
Ku tinggal pergi ke belakang
Ku ambil seuntai terpal
Ku jemur kau di tengah lapang

(MUTE KAWE, Novelia Putri Rianti)

Sementara itu, saya membaca “Di balik yang Tergerus oleh Zaman” karya Nur Aisyah lebih cenderung bebas sebagaimana Dee Hwang, hanya saja Nur Aisyah memerlukan pendalaman ihwal kebahasaan dan tentu saja melakukan pengembaraan estetik untuk sampai pada kemampuan memberi tawaran melalui puisi-puisinya.

Penutup
Demikian catatan ini disampaikan, semoga teman-teman senantiasa gembira.

Muhammad Rois Rinaldi
Juri Lomba Menulis Cerpen dan Puisi
Wartabianglala.com 2020

Penerima Anugerah Puisi Asia Tenggara 2014 (Numera, Dewan Bahasa & Pusaka Malaysia, 2014) dan Tokoh Sastra Asia Tenggara (HesCom Malaysia, 2015-2016)

Pos terkait