LAHAT – Di balik riuhnya sorak-sorai di lapangan hijau Kabupaten Lahat, muncul satu nama yang mulai mencuri perhatian. Ia adalah Dicky Pratama, seorang remaja kelahiran 16 Mei 2012 asal Jalan Srinanti, Gunung Gajah. Dengan postur menjulang 170 cm di usia yang baru menginjak 14 tahun, siswa SMP Negeri 2 Lahat ini bukan sekadar pelajar biasa; ia adalah “tembok” pertahanan masa depan yang tengah ditempa.
Ketertarikan Dicky pada si kulit bundar berawal saat ia berusia delapan tahun. Berbeda dengan banyak anak yang terinspirasi oleh bintang dunia di televisi, Dicky justru mengenal sepak bola melalui ajakan teman-temannya di lingkungan rumah. Dari sekadar bermain di gang sempit, ia menemukan bahwa hatinya tertambat pada posisi yang paling krusial dalam pertahanan, yakni Center Back.
“Saya melihat minat dan bakat saya memang ada di sana (sepak bola). Menjadi bek tengah memberi saya tanggung jawab besar untuk menjaga keamanan tim,” ujar Dicky dengan nada bicara yang dewasa melampaui usianya.
Sangat jarang anak muda mengidolakan pemain bertahan, namun Dicky berbeda. Ia sangat mengagumi Rizky Ridho, bek andalan Persija dan Timnas Indonesia. Gaya main Ridho yang tenang dan disiplin menjadi rujukan utama Dicky setiap kali ia mengikat tali sepatunya untuk masuk ke lapangan.
Perjalanan Dicky tidak selalu mulus. Sejak memulai debut kompetisi di kelas 4 SD, ia telah mencicipi manisnya juara dan pahitnya kegagalan. Salah satu momen yang paling membekas di ingatannya adalah saat berlaga di Piala Gubernur. Kekalahan di turnamen bergengsi tersebut sempat menggoyahkan rasa percaya dirinya.
“Tantangan terbesar sebagai pemain muda adalah rasa kurang percaya diri dan performa yang tidak konsisten setelah membuat kesalahan fatal,” akunya jujur.
Namun, bagi penyuka mata pelajaran PJOK ini, menyerah tidak pernah ada dalam kamusnya. Baginya, disiplin adalah harga mati. Ia berlatih tiga kali seminggu, meski harus bergelut dengan manajemen waktu yang ketat antara tugas sekolah dan jadwal latihan yang seringkali mepet.
“Bagi saya, disiplin adalah kunci sukses dan bagian dari pembentukan karakter. Sepak bola mengajarkan saya tentang semangat pantang menyerah dan kerja sama tim.”
Di balik ketangguhannya di lapangan, ada dukungan penuh dari orang tua yang menjadi bahan bakar semangatnya. Dicky mengaku orang tuanya mendukung 100 persen pilihannya menjadi pesepak bola profesional. Padahal, ia menyadari ada pengorbanan besar yang harus dibayar, yaitu waktu istirahat yang berkurang drastis dan risiko cedera fisik jangka panjang.
Setiap kali melangkah masuk ke lapangan, Dicky tak menampik adanya rasa nervous. Namun, ia selalu punya cara untuk mengatasinya. “Saya selalu meyakinkan diri sendiri agar bisa menghasilkan pertandingan yang baik. Jika bermain buruk, saya langsung mengevaluasi diri agar ke depannya tidak mengulangi kesalahan yang sama,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai masa depan, mata Dicky berbinar. Targetnya dalam lima tahun ke depan sangat jelas: menjadi pemain yang lebih profesional, spesifik, dan terukur. Meski mengidolakan Rizky Ridho yang bermain di Persija, Dicky memiliki mimpi besar untuk berseragam Persib Bandung di level klub, dan tentu saja, mengenakan lambang Garuda di dada.
Sebagai anak asli Bumi Seganti Setungguan, Dicky menitipkan pesan motivasi bagi rekan-rekan sebayanya di Lahat.
“Tetap semangat latihan. Kita harus bisa membawa nama Lahat ke berbagai ajang juara,” pungkasnya penuh optimisme.
Dari Gunung Gajah untuk Indonesia, Dicky Pratama sedang meniti jalan sunyi seorang bek tengah. Jalan yang penuh benturan dan keringat, namun menjanjikan kebanggaan bagi siapapun yang berani bermimpi setinggi langit.









