wartabianglala.com, Lahat – Peluit belum ditiup, tapi tawa sudah lebih dulu pecah di pinggir lapangan. Sepatu-sepatu bola saling disandarkan, sebagian pemain meregangkan kaki, sebagian lain sibuk bercanda, baik tentang pekerjaan, cuaca, atau sekadar menertawakan perut yang tak lagi ramping seperti masa SMA. Di sinilah “Mabol Yok!” menemukan rumahnya. Bukan di papan skor. Bukan pada piala. Tapi pada pertemuan.
Di Kabupaten Lahat, di tengah menjamurnya klub-klub sepak bola pembinaan yang berorientasi turnamen dan prestasi, ada sekelompok orang yang memilih jalan berbeda. Mereka datang ke lapangan bukan untuk menang, melainkan untuk senang. Mereka tidak membawa ambisi, hanya sepatu bola dan niat bersilaturahmi. Komunitas itu bernama Mabol Yok!, singkatan dari Main Bola Yokk!, sebuah ajakan sederhana yang belakangan menjelma menjadi ruang kebersamaan lintas usia, profesi, dan latar belakang.
Andika Pramadita, inisiator sekaligus admin Mabol Yok!, masih mengingat jelas kegelisahan yang melahirkan komunitas ini. Baginya, Mabol Yok! bukan ide besar yang dirancang lama, melainkan jawaban atas kebutuhan yang nyata.

“Di Lahat ini hampir semua tim bola adalah tim pembinaan untuk turnamen,” ujarnya, “Sementara banyak teman-teman yang hobi main bola, tapi bingung mau menyalurkan hobinya ke mana. Mereka hanya ingin main, tanpa beban.”
Dari keresahan itulah Mabol Yok! lahir. Sebuah wadah bagi siapa pun yang ingin bermain sepak bola dengan satu syarat utama: harus fun. Tidak ada seleksi kemampuan, tidak ada senioritas, tidak ada tekanan menang-kalah.
Nama “Mabol Yok!” sendiri dipilih bukan tanpa makna. Andika menyebutnya sebagai sebuah ajakan terbuka. Ajakan untuk berkumpul, bergerak, dan tertawa bersama.
“Mabol Yok! itu artinya Main Bola Yokk! Sebuah ajakan untuk siapa pun. Mau tua, muda, laki-laki, perempuan, yang penting fun,” katanya.

Komunitas ini resmi terbentuk pada 8 September 2025, dengan agenda bermain pertama digelar enam hari kemudian, 14 September 2025. Sejak saat itu, respons positif mengalir. Jumlah anggota bertambah, agenda rutin berjalan, dan antusiasme tak surut.
Di Mabol Yok!, lapangan menjadi ruang yang adil. Jabatan, status sosial, dan latar belakang pekerjaan dibiarkan tertinggal di pinggir garis putih. Yang tersisa hanya pemain bernomor punggung, keringat, dan tawa.
Anggi K Wibowo, pegawai Kantor Pengawas Pemilu, bergabung sejak awal terbentuk. Bagi Anggi, Mabol Yok! adalah jawaban dari kerinduan sederhana: silaturahmi sambil berkeringat.
“Yang pasti fun,” ujarnya singkat. “Senang bisa kumpul bareng kawan lama dan kenal kawan baru.”

Dampaknya pun terasa nyata. Bukan hanya pada fisik, tetapi juga emosi.
“Fisik lebih bugar, emosi juga lebih stabil,” kata Anggi. “Sepak bola cuma medianya. Yang utama itu silaturahmi dan persaudaraan.”
Hal senada dirasakan Aidil Fitri, pegawai pemerintahan di Kabupaten Lahat. Meski baru bergabung sekitar tiga bulan, ia langsung merasakan kehangatan komunitas ini.
“Suasananya sangat seru, sangat berbahagia, penuh kehangatan,” ujarnya. “Fisik dan kesehatan saya semakin joss.”

Aidil menyebut Mabol Yok! sebagai tempat menyalurkan hobi sekaligus menjaga stamina dan semangat hidup. Baginya, momen mencetak gol memang berkesan, tetapi yang lebih penting adalah rasa akrab yang tumbuh di luar lapangan.
Seiring waktu, Mabol Yok! tumbuh dan bertransformasi. Dari sekadar janjian lewat grup chat, kini komunitas ini memiliki jadwal rutin, jersey kebanggaan, dan identitas bersama.
Jhon Hendrix, salah satu anggota senior, menyebut perjalanan itu sebagai proses alamiah sebuah komunitas.
“Awalnya cuma cari keringat,” katanya. “Sekarang sudah lebih terstruktur. Ada jadwal, ada jersey. Siapa pun boleh ikut, asal izin istri,” tambahnya sambil tertawa.

Meski demikian, esensi fun football tetap dijaga. Tidak ada ambisi berlebihan. Tidak ada perubahan signifikan menuju arah kompetisi.
“Kami memang lebih ke fun,” ujar Jhon. “Kebersamaan kami kuat walau latar belakang tim dan klub berbeda-beda.”
Pasang surut tetap ada. Kesibukan pekerjaan, cuaca yang tak menentu, hingga urusan rumah tangga kerap menjadi tantangan. Namun justru di situlah kekuatan komunitas diuji.
“Yang membuat saya bertahan bukan lagi sekadar mengejar bola,” kata Jhon. “Tapi rasa memiliki. Ini sudah seperti keluarga besar.”
Bagi Andra Juarsyah, anggota paling senior, kekompakan dijaga melalui hal-hal sederhana. Salah satunya adalah jersey.
“Biar kompak, kita pakai satu seragam,” ujarnya. “Di lapangan, kita tak perlu membaca nama di punggung jersey. Kita sudah tahu, kita satu tim.”
Momen paling membahagiakan, menurut Andra, adalah rasa bahagia saat bermain dan hasil dokumentasi yang selalu hadir di setiap agenda. Foto-foto itu menjadi arsip kenangan, penanda bahwa mereka pernah tertawa bersama di satu lapangan yang sama.

Dokumentasi memang menjadi bonus yang sengaja dijaga oleh Mabol Yok!. Bukan untuk pencitraan, tetapi sebagai cara merawat ingatan kolektif.
Yang menarik, Mabol Yok! tidak berhenti pada aktivitas olahraga. Solidaritas yang tumbuh di lapangan menjalar ke ruang sosial.
Jhon Hendrix menceritakan bagaimana komunitas ini terlibat dalam penggalangan dana dan donasi untuk keluarga terdampak musibah di Aceh dan Sumatera Barat.
“Selain aktif di sepak bola, kami juga aktif di kegiatan sosial,” katanya. “Ini keluarga besar. Kalau satu kena musibah, yang lain ikut bergerak.”
Pandangan ini diperkuat oleh pemerhati sepak bola Kabupaten Lahat, Jhoni F Chaniago. Menurutnya, komunitas seperti Mabol Yok! memiliki manfaat sosial yang besar.

“Silaturahmi terjaga, jaringan pergaulan terbentuk,” ujarnya. “Dari komunitas bisa lahir ide-ide positif untuk kegiatan sosial.”
Baginya, prestasi bukan lagi tujuan utama. Yang tersisa adalah semangat, rasa kekeluargaan, dan menjaga kesehatan agar tetap prima.
Tokoh pemuda Kabupaten Lahat, Hefra Lahaldi, melihat Mabol Yok! dengan kacamata satire yang segar.
“Hak untuk sehat dan berserikat dijamin negara,” katanya. “Mabol Yok! ini contoh sederhana. Tak perlu anggaran besar, sudah bisa bersaing minimal dari gaya,” ujarnya berseloroh.
Ia menyebut Mabol Yok! sebagai komunitas yang mampu menghapus “susah dan lara” hanya dengan berkumpul. Bahkan, katanya, berbagi donasi di grup WhatsApp pun bagian dari pola hidup sehat.
“Semoga menjadi bagian sederhana yang membangun kebahagiaan di tengah krisis kepercayaan terhadap PSSI,” tutupnya dengan senyum.

Bagi Andika Pramadita, tantangan terbesar bukanlah membentuk komunitas, melainkan menjaganya tetap hidup.
“Membuat komunitas tumbuh itu susah,” katanya. “Tapi kami akan usahakan Mabol Yok! tetap ada, dengan support dari para member.”
Harapannya sederhana namun bermakna: Mabol Yok! tidak sekadar menjadi wadah bermain, tetapi ruang kebersamaan yang terus tumbuh dan solid.
Di lapangan itu, peluit akhirnya ditiup. Bola menggelinding. Nafas tersengal. Tawa kembali pecah. Menang atau kalah tak lagi penting. Yang penting, mereka pulang dengan tubuh lelah, hati ringan, dan perasaan telah pulang ke rumah yang sama.
Di sanalah Mabol Yok! menemukan maknanya, yaitu sepak bola sebagai alasan untuk bersua, tertawa, dan menjadi keluarga.









