Jeritan Pilu Ibu Ama di Sudut Kota Lahat

Cerpen Novita

Hujan turun deras sore itu, seolah langit sedang meluapkan segala keluh kesahnya. Aku memeluk erat tas hitam berisi sisa dagangan baju yang kutenteng sejak pagi. Enam tahun menjalani profesi ini berkeliling dari kampung ke kampung sejak suamiku pergi untuk selamanya. Hampir tiga tahun pula aku belajar berdamai dengan sunyi.

Travel yang kutumpangi dari Simpang Asam melaju pelan di jalan yang licin. Jam di ponselku menunjukkan pukul 17.30 WIB. “Alhamdulillah, semoga sampai rumah sebelum malam gelap,” batinku. Namun harapan itu sirna ketika travel berhenti di Desa Jati. Sopir menerima panggilan, katanya ada tiga penumpang tambahan yang perlu dijemput.

“Waduh, bisa lama ini,” gumamku. Tak mungkin aku menunggu hujan-hujanan tanpa kepastian. Aku memilih turun di belakang Bank BRI Cabang Lahat, tepat di depan Apotik Banglap. Syukurlah setidaknya bajuku masih kering.

Di tengah rintik hujan yang mulai menipis, aku melihat seorang nenek duduk menyandar pada dinding toko yang sudah tutup. Wajahnya tirus, keriputnya dalam, dan tatapannya seperti menyimpan ratusan cerita yang tak pernah sempat dibagikan.

“Dari mana, Mbak?” sapanya tiba-tiba.

Aku tersenyum, meski lelah. “Dari Kota Agung, Bu.”

“Boleh dak ibu numpang duduk di dekat sini? Mau pulang, tapi jauh.”
“Silakan, Bu…” jawabnya sambil mendekat.

Aku menatapnya lebih teliti. Usianya 55 tahun , namun raut wajahnya menua lebih cepat dari semestinya.

“Ibu tinggal di mana?” tanyaku.

“Talang Jawa Selatan,” jawabnya sambil menarik napas panjang, seakan nama itu membawa beban besar di pundaknya.

Aku lalu bertanya pelan, “Ibu sudah makan?”

Ia tersenyum getir. “Belum… dari pagi belum makan. Minum sudah. Hidup macam ini, Mbak… kadang dapat, kadang dak.”

Jawabannya menusuk dadaku. “Ibu tinggal di sini sudah lama?”

“Hampir setahun. Pagi minta-minta, sore mulung kardus. Kalo beruntung, bisa beli sesuap nasi.”

Aku mengangguk, menahan hangat di mata.

Dengan suara yang lebih pelan, ia melanjutkan, “Dulu ibu punya rumah. Suami masih hidup, anak-anak masih ada. Tapi hidup susah, Mbak… ekonomi menghimpit, satu per satu semua hilang dari tangan ibu.” Matanya berkaca-kaca. “Kini tinggal di emperan. Kakak ibu sesekali menjenguk, ambil barang bekas yang ibu kumpul. Selain itu… dak ada.”

Ia mengusap air matanya yang jatuh.

“Bantuan? Dak pernah dapat. Kalo dapat, ibu dak akan hidup mengemis begini. Kadang kelaparan, kadang kehujanan. Tapi apa boleh buat… hidup harus dijalani.”

Aku menggenggam jemariku sendiri, menahan haru. “Bu… saya juga janda. Ditinggal suami wafat.”

Ia menatapku lama, lalu berkata lirih, “Mbak masih enak… masih punya anak buat menghibur. Ibu? Tinggal kenangan.”

Kata-katanya membuatku tak mampu berkata-kata. Untuk beberapa saat kami hanya diam, tenggelam dalam kesedihan masing-masing. Hujan yang tinggal gerimis terasa seperti ikut menangis bersama kami.

Setelah obrolan panjang yang penuh air mata dan simpati, aku bersiap pergi.

“Bu Ama,” panggilku lembut. “Ibu mau rompi ini? Buat kenang-kenangan.”

Wajahnya langsung berbinar. “Mau, Mbak… mau sekali.”

Aku melepas rompi dan menyampirkannya ke pundaknya yang Gemuk . Lalu dari tasku, aku mengeluarkan sedikit pemberian.

“Maaf, Bu… cuma ini yang bisa kuberikan.”

Ia menggenggam tanganku dengan erat. “Ya Allah… mudah-mudahan rezeki Mbak Novi dan anak-anak dilapangkan,” doanya tulus, tulus sekali hingga suaranya bergetar.

Aku tersenyum kecil. “Semoga ibu sehat selalu. Kapan-kapan kita jumpa lagi, ya.”

“InsyaAllah, Mbak… hati-hati di jalan,” katanya sambil menatapku pergi.

Aku melangkah menuju mobil yang kutemukan akhirnya lewat. Di balik kaca jendela, kulihat sosoknya masih berdiri, rompi pemberian ku melekat di tubuh ringkihnya—seperti selembar kehangatan kecil yang semoga mampu menahan dingin hidupnya, walau hanya sedikit.

Di sudut Kota Lahat itu, aku meninggalkan seorang perempuan yang telah kehilangan banyak hal, namun tetap menggenggam harapan tipis agar esok lebih baik dari hari ini.

Kota Raya, 6 Desember 2025, di tengah banjir masih sempat menuntaskan cerita kehidupan yang penuh nestapa.

Pos terkait