Oleh: Darmawan, Wartawan
LAHAT, SUMSEL — Kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Ia dibutuhkan sebagai alat kontrol, pengingat, sekaligus ruang untuk memperbaiki kekurangan. Namun, tidak semua kritik lahir dari kepedulian. Ada kritik yang benar-benar disampaikan demi perbaikan, tetapi ada pula yang muncul karena kepentingan, kekecewaan, bahkan rasa kehilangan terhadap posisi yang pernah dimiliki.
“Tidak semua kritik lahir dari kepedulian. Ada juga yang muncul karena kursi yang dulu diduduki kini ditempati orang lain.”
Kalimat tersebut patut menjadi bahan renungan ketika melihat dinamika di tengah masyarakat maupun dalam lingkungan pemerintahan dan organisasi.
Ketika seseorang masih berada di dalam lingkaran kekuasaan, berbagai kebijakan terkadang dianggap wajar. Namun, ketika posisi itu berpindah tangan dan orang lain yang mendudukinya, sudut pandang pun bisa berubah. Hal yang sebelumnya dianggap biasa tiba-tiba dipersoalkan. Kebijakan yang dahulu tidak menjadi masalah, kini dipandang sebagai kesalahan.
Di sinilah publik perlu cerdas membedakan antara kritik yang lahir dari kepedulian dan kritik yang lahir dari kepentingan.
Kritik yang konstruktif biasanya disertai alasan, data, serta menawarkan solusi. Tujuannya bukan menjatuhkan seseorang, melainkan memperbaiki keadaan. Sebaliknya, kritik yang dibangun atas dasar sakit hati cenderung menyerang pribadi, memperbesar kesalahan, dan mengabaikan fakta yang sebenarnya.
Namun demikian, bukan berarti setiap kritik dari mantan pejabat, mantan pengurus, atau pihak yang pernah berada dalam suatu posisi harus dianggap sebagai bentuk iri hati. Bisa saja kritik tersebut memang benar dan perlu diperhatikan.
Karena itu, yang harus dinilai bukan siapa yang menyampaikan kritik, tetapi apa isi kritiknya, apa dasarnya, dan untuk kepentingan siapa kritik tersebut disampaikan.
Publik juga tidak boleh mudah terjebak pada perang narasi. Dalam era media sosial, sebuah pernyataan dapat menyebar jauh lebih cepat daripada proses untuk memeriksa kebenarannya. Kritik yang dikemas dengan kalimat tajam dapat terlihat meyakinkan, meski belum tentu berdiri di atas fakta.
Begitu pula sebaliknya. Pihak yang dikritik tidak seharusnya langsung membungkam kritik hanya karena merasa terganggu. Kritik yang benar tetap harus dijawab dengan argumentasi dan fakta, bukan dengan serangan balik.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Kursi dapat berganti, kekuasaan dapat berpindah, dan orang yang hari ini berada di atas bisa saja besok berada di luar lingkaran kekuasaan.
Karena itu, jangan menjadikan kursi sebagai ukuran kebenaran.
Sebab ketika kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan publik, kritik bisa kehilangan maknanya. Ia bukan lagi suara kepedulian, melainkan sekadar suara dari seseorang yang belum selesai menerima kenyataan bahwa kursinya telah diduduki orang lain.
Dan bagi siapa pun yang sedang memegang kursi kekuasaan, barangkali ada satu hal yang layak diingat:
Jangan takut pada kritik. Takutlah jika tidak ada lagi yang berani mengkritik.
— Darmawan, Wartawan
















