PALEMBANG — Kemampuan berbicara di depan publik menjadi salah satu kompetensi penting bagi pegiat literasi dalam menyampaikan gagasan, menggerakkan masyarakat, sekaligus membangun jejaring. Hal tersebut menjadi fokus dalam Lokakarya Penguatan Literasi untuk Pegiat Literasi yang digelar Yayasan Rumah Literasi Abi Afgan di Gramedia World KM 7 Palembang. (02/08).
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Fasilitasi Bagi Komunitas Literasi Tahun 2026 tersebut didanai melalui Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Sastra Tahun 2026. Lokakarya berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 17.00 WIB dan diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari 20 komunitas literasi di Sumatera Selatan.
Menghadirkan Reky Prima sebagai narasumber utama, lokakarya mengangkat materi Public Speaking. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai teknik berbicara di depan umum, tetapi juga diajak mempraktikkan cara menyampaikan gagasan secara efektif, percaya diri, dan menarik.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan yang diwakili Nofita Aggraini, Ph.D., CPS., CPMC, salah seorang pejabat Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan.
Dalam sambutannya, Nofita mengapresiasi langkah Yayasan Rumah Literasi Abi Afgan yang konsisten menghadirkan program penguatan kapasitas bagi komunitas literasi.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan program membaca dan menulis. Para pegiat literasi juga perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar gagasan dan gerakan yang mereka bangun dapat diterima lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap lokakarya tersebut dapat melahirkan pegiat literasi yang semakin kompeten, kreatif, dan mampu menjadi agen perubahan dalam mengembangkan budaya literasi di Sumatera Selatan.
Sementara itu, narasumber Reky Prima menekankan bahwa kemampuan public speaking merupakan bagian penting dari kerja-kerja literasi. Menurutnya, pegiat literasi tidak hanya dituntut mampu menyusun dan menjalankan program, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan gagasan dengan baik.
“Pegiat literasi harus mampu berbicara dengan percaya diri. Ketika kita memiliki gagasan yang baik, tetapi tidak mampu menyampaikannya dengan menarik, gagasan itu akan sulit sampai kepada masyarakat,” kata Reky.
Ia menjelaskan, seorang pegiat literasi kerap berhadapan dengan berbagai kalangan dan forum. Karena itu, kemampuan menyampaikan ide, memotivasi peserta, membangun jejaring, hingga menjadi inspirasi bagi masyarakat menjadi keterampilan yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas literasi.
Dalam lokakarya tersebut, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik mengenai teknik dasar public speaking, membangun kepercayaan diri, mengelola bahasa tubuh, mengatur intonasi dan artikulasi, hingga menyusun materi agar lebih menarik dan mudah dipahami.

Suasana lokakarya berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi, mengikuti praktik berbicara di depan forum, serta berbagi pengalaman mengenai dinamika pengembangan gerakan literasi di daerah masing-masing.
Bagi peserta, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi momentum untuk memperluas jejaring dan bertukar pengalaman antarkomunitas literasi di Sumatera Selatan.
Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga peningkatan kapasitas pegiat literasi tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan menjadi proses pembelajaran yang terus tumbuh.
Melalui Lokakarya Penguatan Literasi untuk Pegiat Literasi, Yayasan Rumah Literasi Abi Afgan menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas komunitas literasi. Dukungan Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Sastra Tahun 2026 diharapkan semakin memperkuat posisi komunitas literasi sebagai mitra strategis dalam menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat.
























