LAHAT — Sebuah langkah strategis demi menjaga keluhuran nilai tradisi dan membentuk karakter generasi muda berbasis kearifan lokal tengah digagas di Bumi Seganti Setungguan. Dua tokoh sentral pendidikan dan kebudayaan, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lahat, Dr. Hasperi Susanto, S.Pd., M.M., bersama Ketua Dewan Kesenian Lahat (DKL), Bakrun Satia Darma (BSD), secara visioner mendorong agar seni dan kebudayaan daerah Kabupaten Lahat secara resmi masuk ke dalam kurikulum sekolah sebagai mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).
Sinergi kedua tokoh ini dinilai sebagai angin segar sekaligus manifesto penting dalam menyelamatkan identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi.
Ketua PGRI Lahat, Hasperi Susanto, menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak boleh melepaskan diri dari akar kebudayaan tempat siswa itu tumbuh. Menurutnya, mengintegrasikan seni dan budaya Lahat ke dalam sistem formal persekolahan adalah sebuah keniscayaan untuk membangun manusia yang berkarakter.
“Kebudayaan adalah akar dari pendidikan. Tanpa fondasi budaya yang kokoh, intelektualitas yang kita tanamkan pada generasi muda akan kehilangan arah dan jiwanya. Memasukkan seni dan budaya daerah ke dalam muatan lokal bukan sekadar upaya preventif agar tradisi kita tidak punah, melainkan investasi strategis untuk membentuk budi pekerti, memperhalus rasa, dan menumbuhkan rasa bangga (sense of belonging) terhadap tanah kelahiran,” ujar Hasperi Susanto. Kamis (04/06/2026).
Ia menambahkan, manfaat sekunder dari kebijakan ini adalah terciptanya ekosistem sekolah yang lebih kreatif dan humanis, di mana nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kesantunan, dan filosofi hidup masyarakat Lahat dapat diinternalisasi secara aplikatif oleh peserta didik sejak dini.
Diwawancarai terpisah, Ketua Dewan Kesenian Lahat, Bakrun Satia Darma, yang akrab disapa BSD, menyambut baik dan memperkuat gagasan tersebut. Menurut BSD, pelestarian budaya harus bergerak lebih dalam ke wilayah substansial dan struktural, tidak sekadar mengandalkan ajang seremonial atau perlombaan tahunan.
“Ajang festival dan perlombaan memang penting sebagai ruang apresiasi, namun gerakan dari dasar, yaitu memasukkan seni dan budaya daerah ke dalam kurikulum sekolah, jauh lebih krusial dan mendesak. Melalui jalur formal ini, kita tidak hanya sekadar merawat ingatan kolektif, tetapi secara aktif sedang menciptakan produk kebudayaan baru dan menjaring bibit-bibit seniman muda yang potensial sejak dini,” tegas BSD.
BSD meyakini, jika lembaga pendidikan dan pegiat seni berjalan beriringan secara terstruktur melalui muatan lokal, Kabupaten Lahat tidak akan pernah kehabisan regenerasi pelaku seni yang akan membawa nama daerah ke kancah yang lebih luas.
Gagasan besar dari dua nakhoda organisasi ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk regulasi yang konkret oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat. Publik pun menaruh harapan besar agar kurikulum Muatan Lokal berbasis seni budaya ini dapat segera terealisasi demi masa depan kebudayaan Bumi Seganti Setungguan yang tetap lestari di tangan generasi penerus.










