Lahat — Perpindahan itu datang nyaris tanpa gemuruh. Tak ada panggung besar, tak pula iring-iringan panjang yang menandai sebuah perpisahan. Namun bagi sebagian orang di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), nama Jeffran Azsyapputra tak sekadar lewat, ia menetap dalam ingatan, bersama jalan-jalan yang pernah dibuka dan ruang-ruang pelayanan yang pernah dibangun.
Pasca-Idulfitri tahun ini, di tengah hangatnya silaturahmi dan sisa gema takbir, sebuah kabar mengalir pelan di kalangan birokrasi: Jeffran berpindah tugas. Birokrat yang dikenal tenang dan lebih banyak bekerja daripada berbicara itu kini mengemban amanah baru sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Lahat.
Perjalanan kariernya di PALI bukan cerita singkat. Ia pernah menapaki berbagai posisi strategis, dari Dinas PUPR, Perkim, hingga Dispora. Tapi lebih dari sekadar jabatan, yang tertinggal adalah jejak kerja yang konkret. Jalan penghubung antarwilayah yang dulu sulit dilalui, akses menuju desa-desa yang perlahan terbuka, hingga fasilitas dasar seperti sanitasi dan gedung layanan publik, semuanya menjadi bagian dari kisah yang ia tinggalkan.
Di mata rekan kerja dan mitra, Jeffran bukan tipe pemimpin yang gemar tampil. Ia memilih berada di balik proses, memastikan roda pekerjaan tetap berputar.
“Beliau mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif sehingga pekerjaan bisa berjalan lancar,” ujar seorang pelaku usaha yang pernah terlibat dalam proyek pemerintah.
Di kalangan jurnalis, kesan serupa juga melekat. Jeffran dikenal tidak berjarak.
“Cukup mudah dihubungi saat dibutuhkan konfirmasi,” kata Nanang, seorang wartawan di PALI, singkat namun bermakna.
Karier Jeffran tumbuh di masa kepemimpinan mantan Bupati PALI dua periode, Heri Amalindo—figur yang ia sebut bukan sekadar atasan.
“Beliau seperti guru sekaligus orang tua bagi saya,” ucapnya, mengenang.
Saat dikonfirmasi soal kepindahannya, Jeffran tidak banyak berkomentar. Seperti biasanya, ia memilih kalimat sederhana.
“Ini amanah yang harus dijalankan. Silaturahmi dengan masyarakat PALI tentu akan tetap terjaga,” ujarnya.
Tak ada nada perpisahan yang dramatis. Yang ada justru rasa terima kasih kepada rekan kerja, masyarakat, dan semua yang pernah berjalan bersama dalam proses pembangunan daerah.
Menjelang langkah barunya di Lahat, ia hanya meninggalkan satu pesan, yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sering kali sulit dijaga dalam praktik:
“Setiap pekerjaan di pemerintahan harus dimaknai sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.”
Kini, lembaran baru itu resmi dimulai di Kabupaten Lahat. Sementara di PALI, mungkin tak semua orang mengingat tanggal kepergiannya. Tapi jalan-jalan yang terhubung, bangunan yang berdiri, dan sistem yang pernah ia tata, akan terus bercerita, dengan caranya sendiri.
Perpisahan ini memang sunyi. Namun justru di situlah maknanya: kerja yang benar-benar terasa, tak selalu perlu diumumkan dengan suara keras. (SMSI Lahat)




