Lahat — Di negeri +62, Jumat itu bukan cuma soal khutbah dan gorengan hangat. Di Lahat, Jumat mendadak naik level jadi “Jumat Keramat”, bukan karena mistis, tapi karena isu pelantikan eselon II yang lagi wara-wiri kayak broadcast WhatsApp keluarga.
Setelah lama dinanti, dengan sabar level nunggu paket gratis ongkir, kabar soal reshuffle pejabat di lingkungan Pemkab Lahat kembali menyeruak. Katanya sih, pelantikan bakal digelar hari Jumat. Entah Jumat ini, Jumat depan, atau Jumat yang masih wacana, yang jelas, aura-aura “keramat”-nya sudah keburu terasa.
Obrolan soal siapa naik, siapa geser, dan siapa tiba-tiba “rehat sejenak dari panggung” jadi bahan gibah paling premium di kalangan ASN. Dari ruang kantor sampai warung kopi, nama-nama beterbangan lebih cepat dari gosip artis cerai. Ada yang disebut bakal promosi, ada juga yang konon siap-siap pindah kursi, entah lebih empuk atau malah makin panas.
Masalahnya, sampai detik ini, belum ada juga suara resmi dari Pemkab Lahat. Jadi ya, semua masih level “katanya”, “dengar-dengar”, dan “info A1 dari grup sebelah”. Salah satu ASN, yang memilih anonim demi keamanan karier dan ketenangan hidup, ngaku kalau mereka juga masih nunggu kepastian.
“Isunya sih sudah rame, tapi kita nunggu undangan resmi. Biasanya kalau sudah fix, baru ada panggilan,” ujarnya, dengan nada antara pasrah dan penuh harap.
Sebenarnya, mutasi dan pelantikan pejabat itu hal biasa dalam dunia birokrasi, semacam update sistem biar nggak lemot. Tujuannya jelas: penyegaran, peningkatan kinerja, dan siapa tahu bisa bikin pelayanan publik lebih ngebut dari biasanya (meski ini masih sering jadi cita-cita daripada realita).
Di sisi lain, masyarakat cuma punya satu harapan sederhana tapi berat: kalau memang jadi dilantik, ya tolonglah, transparan, profesional, dan berbasis kompetensi. Jangan sampai kursi jabatan lebih ditentukan oleh “siapa kenal siapa” ketimbang “siapa bisa apa”.
Pengamat lokal juga ikut nimbrung, mengingatkan kalau momen pelantikan ini bukan sekadar seremoni pakai jas rapi dan foto-foto formal. Ini soal arah kebijakan daerah ke depan. Salah taruh orang, ya siap-siap saja kebijakan jadi kayak sinetron: panjang, berliku, dan kadang nggak jelas ujungnya.
Sementara itu, Kepala BKSDM Lahat, Merliansyah, mencoba jadi penenang di tengah badai spekulasi. Saat dikonfirmasi, beliau menegaskan bahwa sampai sekarang belum ada instruksi dari pimpinan. Artinya? Ya… masih tahap “tenang, ini baru pemanasan”.
Jadi, Jumat Keramat ini pada akhirnya lebih mirip Jumat penuh tanda tanya. Apakah benar bakal ada pelantikan? Atau ini cuma episode lain dari sinetron birokrasi yang judulnya: “Segera Tayang, Tapi Nggak Tahu Kapan”?
Yang jelas, para ASN Lahat sekarang lagi berada di fase paling absurd dalam karier: kerja jalan terus, tapi pikiran sibuk mikir, besok masih duduk di kursi yang sama, atau sudah pindah ruangan?






