Buah Manis, Macetnya Pahit di Depan Balai Yasa Lahat

Lahat — Ada yang lebih padat dari isi kepala pas akhir bulan: Jalan Prof Dr Emil Salim, tepat di depan Balai Yasa Lahat. Bukan karena pembangunan, bukan pula karena festival. Tapi karena buah-buahan yang mendadak merasa lebih layak jualan di jalan ketimbang di pasar.

Sabtu (04/04), pemandangan yang itu-itu lagi kembali tersaji. Deretan pedagang buah berjajar manis di bahu jalan, bahkan sebagian naik level, langsung menguasai badan jalan. Ada yang pakai mobil, ada juga yang cukup dengan niat dan terpal seadanya. Intinya satu: yang penting dagangan kelihatan, urusan macet belakangan.

Masalahnya, pembeli juga tak mau kalah. Mereka berhenti seenaknya, parkir dengan gaya “sebentar kok”, yang ternyata cukup untuk bikin arus lalu lintas tersendat seperti sinyal di pelosok. Jalan yang harusnya jadi ruang publik, berubah fungsi jadi pasar tumpah edisi permanen.

Sulaiman, salah satu pengendara yang tiap hari jadi korban situasi ini, sudah di tahap lelah yang tidak bisa disembuhkan dengan vitamin C dari jeruk yang dijual di pinggir jalan itu.

“Manfaatkan saja lokasi pasar buah itu untuk berdagang, jadi tidak perlu lagi sampai makan bahu jalan. Selain bikin jalan kotor, juga sering macet,” katanya, dengan nada yang mungkin sudah lebih sering dipakai buat mengeluh ketimbang bercanda.

Ironisnya, pemerintah bukan tidak bergerak. Penertiban sudah seperti agenda rutin—datang, tertib sebentar, lalu kembali ke setelan awal: pedagang muncul lagi, bahu jalan kembali jadi lapak. Siklus yang lebih konsisten daripada resolusi tahun baru.

Padahal, solusi juga bukan barang langka. Pemkab Lahat sudah menyediakan pasar buah khusus di sisi kanan Pasar Lematang. Tempat yang secara konsep ideal: pedagang bisa jualan, pembeli bisa belanja, jalan tetap jadi jalan. Tapi entah kenapa, lokasi itu kalah pamor dengan bahu jalan yang gratis tapi bikin sesak.

Yang jadi pertanyaan sederhana: ini sebenarnya soal kurang tempat, atau memang lebih enak melanggar aturan?

Sementara itu, visi “menata kota membangun desa” terdengar makin seperti slogan yang bagus di spanduk, tapi tersendat di lapangan. Sebab kalau menata kota saja masih kalah sama lapak dadakan, mungkin yang perlu ditata dulu bukan kotanya—tapi niat semua pihak yang terlibat.

Warga jelas tidak minta banyak. Cuma ingin jalan tetap jadi jalan, bukan etalase buah dadakan. Karena pada akhirnya, yang mereka beli bukan cuma buah, tapi juga bonus macet yang rasanya jelas tidak manis.

Pos terkait