Lahat — Kalau ada yang bilang hubungan media dan aparat itu kaku, mungkin mereka belum pernah duduk santai di ruang Kajari Lahat. Selasa siang itu, suasananya jauh dari tegang. Lebih mirip obrolan warung kopi, hanya bedanya ini pakai meja kerja dan agenda resmi. Selasa (31/03).
Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lahat datang bukan buat cari perkara, tapi justru memastikan semuanya tetap baik-baik saja. Dipimpin langsung oleh Muchtarim, lengkap dengan jajaran pengurus, mereka sowan ke Kajari Lahat, Teuku Lufthansyah A.P., S.H., M.H. Tujuannya sederhana, yakni silaturahmi, tapi versi yang sedikit lebih formal.
Awalnya basa-basi. Maklum, beginilah budaya kita, yang penting hangat dulu, baru masuk ke inti. Muchtarim lalu memperkenalkan satu per satu pengurus yang ikut. Semacam, “ini loh tim kami, bukan kaleng-kaleng.”
Setelah suasana cair, barulah masuk ke topik utama terkait pelantikan pengurus SMSI Lahat periode 2026–2029 yang akan digelar 2 April nanti di Pendopoan Rumah Dinas Bupati.
Undangannya juga disampaikan dengan gaya khas orang Indonesia, tidak memaksa, tapi penuh harap.
“Kami berharap Bapak Kajari bisa hadir,” kira-kira begitu maksudnya. Terjemahan bebasnya: kalau datang, kami senang sekali.
Tapi audiensi ini jelas bukan sekadar soal undangan. Ada misi yang lebih “halus tapi serius”: menjaga hubungan baik. Karena semua orang tahu, media dan kejaksaan itu seperti dua sisi koin yaitu beda fungsi, tapi saling berhubungan.
Di sisi lain meja, Kajari Lahat tampak santai tapi tetap berwibawa. Didampingi Kasubsi Intelijen, Novita S.H., ia menyambut baik kunjungan ini. Tidak ada kesan menjaga jarak, justru lebih ke “ya, kita ini kan sama-sama kerja untuk daerah.”
Ia bahkan secara terbuka memberi sinyal: komunikasi itu penting, dan pintu Kejari tidak tertutup.
“Silakan saja kalau mau berkomunikasi,” kurang lebih begitu pesannya. Artinya jelas, jangan cuma datang kalau ada acara, tapi juga kalau ada hal yang perlu dibicarakan.
Karena pada akhirnya, yang sedang dijaga bukan cuma hubungan antar lembaga, tapi juga kepercayaan publik. Dan itu, seperti kita tahu, jauh lebih mahal daripada sekadar formalitas acara pelantikan.
Jadi, audiensi siang itu mungkin terlihat sederhana. Tidak ada gebrakan besar, tidak ada keputusan dramatis. Tapi justru di situlah poinnya.
Kadang, yang paling penting bukan apa yang dibahas, tapi fakta bahwa semua pihak masih mau duduk satu meja melalui ngobrol, saling dengar, dan sepakat untuk tetap berjalan seirama.
Sisanya? Tinggal menunggu hari pelantikan. Dan tentu saja, apakah undangan tadi benar-benar dihadiri.









