Puisi Allya Novellya: Seminggu Layu

Seminggu Layu

Karya: Allya Novellya

Semingguku akan layu, tak ada lagi pupuk.
Sementara kelopakku gugur, ditengah-tengahnya merekah. Memerah.
Tiada lagi mawar indah berwarna.
Hanya sisa bangkai bunga yang membusuk namun tetap berduri.

Semingguku layu dan jatuh.
Tak dapat di genggam, tidak pula menyatu dengan dasar.
Ia tertopang duri-duri yang tetap lancip, menusuk, dan menyakiti.
meski indah dan warnanya hilang, ia tetaplah mawar yang pernah merekah. Ia layu tapi tak benar-benar tumbang.

Semingguku layu dan tumbuh kembali
Meski gugur, hilang warna, dan jatuh.
Akar tak benar-benar berhenti.
Ia tetap masuk, mengikat di bagian paling bawah. Tak terlihat. Layaknya doa-doa yang keluar dari hati tanpa kau minta dan ketahui.
Layaknya doa dalam ketikan panjang yang selalu kukirim di pagi, malam, dan kapanpun aku ingin hingga kau kehabisan akal dari huruf mana harus kau susun memulai untuk membalasnya.

Semingguku layu tapi tetap tumbuh
Tidak ada pupuk, tidak juga dengan lebah.
Ia hanyalah bangkai mawar yang kehilangan warna dan ditinggalkan.
Akarnya merambat, meluas dan kuat.
Meski tak berdiri, ia tetap berduri.
Ia tetap tumbuh,
Tetap hidup dalam keinginan untuk merekah.
Semingguku layu tapi tetap tumbuh,
Ia akan rimbun, dan merona kembali dari darah yang keluar sebab tusukan duri pada jari-jarimu.

Lahat, malam di tengah 2 maret 2026

Pos terkait