Lahat – Pendidikan bukan sekadar aktivitas belajar-mengajar di dalam kelas; ia adalah fondasi utama bagi sebuah negara untuk melakukan pembenahan struktural. Dalam konteks pembangunan daerah, pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk membenahi masalah kemiskinan struktural yang sering kali menjerat masyarakat bawah dalam siklus yang tidak berkesudahan. Tanpa akses pendidikan yang berkualitas, kemiskinan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, realita yang terjadi di lapangan, khususnya di Kabupaten Lahat saat ini, menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara idealisme pendidikan dan implementasinya. Alih-alih menjadi motor penggerak perubahan, dunia pendidikan kita justru tengah dihantui oleh berbagai persoalan pelik yang menuntut perhatian serius dari semua pihak, terutama pemerintah daerah.
Masalah sarana dan prasarana masih menjadi isu klasik yang belum tuntas. Di beberapa sudut Kabupaten Lahat, kita masih menemukan fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak. Bagaimana mungkin kita mengharapkan output siswa yang kompetitif jika infrastruktur pendukungnya masih tertinggal dibandingkan daerah lain? Ketimpangan fasilitas antara sekolah di pusat kota dan wilayah pelosok desa menciptakan kasta-kasta pendidikan yang tidak sehat.
Selain infrastruktur, kualitas dan distribusi tenaga pendidik juga menjadi rapor merah yang harus segera dibenahi. Fenomena penumpukan guru di wilayah perkotaan sementara sekolah di pedalaman kekurangan tenaga pengajar profesional adalah bukti nyata lemahnya tata kelola SDM pendidikan kita. Masalah ini secara langsung berdampak pada rendahnya mutu serapan ilmu pengetahuan bagi anak-anak di daerah terpencil.
Belum lagi bicara soal biaya “pendidikan gratis” yang sering kali masih dibumbui dengan berbagai pungutan liar atau biaya siluman lainnya. Bagi keluarga prasejahtera di Lahat, biaya-biaya tambahan ini menjadi beban yang sangat berat. Jika akses ekonomi masih menjadi penghalang utama bagi anak untuk bersekolah, maka narasi pendidikan sebagai pemutus rantai kemiskinan hanyalah menjadi slogan kosong di atas kertas.
Kondisi ini diperparah dengan kurikulum yang terkadang kurang relevan dengan kebutuhan dunia kerja lokal. Pendidikan di Lahat seharusnya mampu membaca potensi daerah, sehingga lulusan sekolah menengah memiliki keterampilan yang bisa langsung diaplikasikan untuk membangun ekonomi lokal, bukan sekadar menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri yang kaya akan sumber daya alam.
Dunia pendidikan di Lahat juga tidak luput dari tantangan moral dan sosial. Masalah disiplin, perundungan, hingga kurangnya integritas dalam proses birokrasi pendidikan menjadi noda yang memperlambat kemajuan. Jika integritas di dalam lembaga pendidikan saja sudah goyah, maka sulit mengharapkan lahirnya generasi pemimpin masa depan yang bersih dan visioner dari bumi “Seganti Setungguan”.
Kita perlu menyadari bahwa kemiskinan struktural hanya bisa dilawan jika sistem pendidikannya benar-benar inklusif dan berkualitas. Pemerintah Kabupaten Lahat harus berani melakukan audit menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan saat ini. Tidak boleh ada lagi pembiaran terhadap masalah-masalah sistemik yang telah lama mengakar, karena taruhannya adalah masa depan generasi muda kita.
Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, pendidik, orang tua, dan sektor swasta untuk merombak wajah pendidikan di Lahat. Investasi di bidang pendidikan tidak boleh dianggap sebagai beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang yang akan memberikan imbal hasil berupa masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan cerdas secara intelektual.
Sudah saatnya Kabupaten Lahat bangkit dan menjadikan pendidikan sebagai panglima dalam memerangi kemiskinan. Jika kita gagal membenahi masalah pendidikan hari ini, maka kita sedang mempersiapkan masa depan yang suram bagi generasi mendatang. Pembenahan harus dimulai sekarang, dengan aksi nyata, bukan sekadar janji-janji manis dalam pidato seremonial.
Tentang Penulis: VASCO DEGAMA (Ketua Komisariat GMNI UT Lahat)






