“Tentang Hujan, Gol, dan Cinta yang Tetap Membumi”
Lahat – Di satu titik tenang di Talang Kabu, Kelurahan Pagar Agung, Kecamatan Lahat, ada kisah sederhana tentang sepak bola yang tumbuh. Kisah itu milik Boni Poernawan, seorang guru yang lebih akrab disapa Mas Bond. Bagi Mas Bond, sepak bola bukan sekadar permainan 90 menit, bukan pula hanya soal skor atau trofi. Ia adalah ruang belajar tentang mental, disiplin, kebersamaan, dan cara menikmati hidup apa adanya.
Mas Bond mengenal sepak bola sejak kecil di sebuh desa kecil di Kabupaten Musi Rawas. Tak ada stadion megah, tak ada sepatu mahal, apalagi jersey orisinal. Yang ada hanyalah lapangan kampung, bola seadanya, dan hujan yang turun tanpa permisi.
“Bermain bola sambil hujan-hujanan,” kenangnya singkat, tapi penuh makna.
Di sanalah cinta itu tumbuh. Lingkungan rumah menjadi sekolah pertamanya, teman-teman sebaya menjadi pelatih tanpa lisensi, dan hujan menjadi saksi awal ketertarikannya pada si kulit bundar. Sepak bola datang bukan melalui layar televisi atau siaran radio, melainkan lewat kaki-kaki kecil yang berlari tanpa beban.
Bagi Mas Bond, masa kecil itu adalah fondasi. Ia menikmati sepak bola dengan bermain langsung di kampung, merasakan jatuh bangun di tanah, belajar bangkit setelah terjatuh, dan memahami bahwa permainan ini selalu menuntut kerja sama.
Seiring waktu, sepak bola Mas Bond berkembang. Ia mulai mengenal klub-klub besar dunia, hingga akhirnya hatinya berlabuh pada satu nama: Real Madrid.
“Sejak 15 tahun yang lalu,” ujarnya ketika ditanya sejak kapan ia menjadi pendukung Los Blancos.
Ada satu alasan yang membuat Real Madrid begitu istimewa di matanya: Cristiano Ronaldo. Sosok CR7 bukan hanya pemain idola, tetapi simbol mental juara yang ia kagumi.
“Skill dan mental juara,” katanya tegas saat ditanya apa yang paling ia kagumi dari Cristiano Ronaldo.
Bagi Mas Bond, CR7 bukan sekadar pencetak gol. Ia adalah contoh bagaimana kerja keras, disiplin, dan keyakinan pada diri sendiri bisa mengantarkan seseorang ke puncak dunia. Tak heran jika gaya bermain Mas Bond di lapangan pun sedikit banyak terinspirasi oleh sang idola.
“Iya. Siiiuuu!” katanya sambil tertawa, menirukan selebrasi khas Ronaldo.
Sebagai pendukung, Mas Bond tidak selalu begadang setiap pertandingan. Kesibukan dan usia membuatnya lebih selektif. Namun, untuk laga-laga penting, ia tetap rela menahan kantuk.
Ada satu momen yang tak akan pernah ia lupakan: ketika Real Madrid menjuarai Liga Champions ke-15.
“Itu momen paling bahagia,” ucapnya.
Tak ada air mata kesedihan dalam kisah sepak bolanya. Yang ada adalah kegembiraan, rasa bangga, dan kepuasan melihat klub yang ia dukung menorehkan sejarah. Sepak bola, baginya, adalah sumber bahagia, bukan sumber luka.
Sebagai seorang guru, Mas Bond melihat sepak bola dari sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak hanya bicara soal teknik atau taktik, tetapi juga nilai-nilai yang lahir dari permainan ini.
“Kekompakan dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan besar,” ujarnya ketika ditanya pelajaran hidup dari sepak bola.
Sepak bola mengajarkannya tentang disiplin, tentang menerima kalah dan menang, serta tentang pentingnya peran setiap individu dalam tim. Nilai-nilai itu ia bawa ke kehidupan sehari-hari, termasuk dalam profesinya sebagai pendidik.
Menurut Mas Bond, sepak bola juga berperan dalam menjaga mental dan kesehatan, sekaligus melatih cara berpikir taktis. Ia tidak pernah menjadikan sepak bola sebagai pelarian dari masalah, tetapi sebagai sarana menjaga keseimbangan hidup.
Di lapangan, Mas Bond paling menikmati peran sebagai second striker. Alasannya sederhana dan jujur.
“Biar keren kayak Ronaldo,” katanya sambil tersenyum.
Ia menyukai sensasi mencetak gol dan menggiring bola, momen ketika kerja keras terbayar oleh sorak kecil teman-teman. Namun di balik semua itu, ada satu kenangan yang hingga kini masih tersimpan rapi: hampir ikut turnamen bergengsi di Jakarta.
Meski tak pernah benar-benar terwujud, kenangan itu menjadi bukti bahwa sepak bola pernah membawanya sangat dekat dengan mimpi besar. Dan bagi Mas Bond, mimpi yang nyaris tercapai tetaplah mimpi yang berharga.
Waktu berjalan, usia bertambah, kesibukan pun meningkat. Cara Mas Bond menikmati sepak bola ikut berubah. Ia tak lagi bermain sesering dulu, kini sekali dalam seminggu sudah cukup untuk menjaga kebugaran dan kebahagiaan.
Saat ini, ia aktif bermain bersama komunitas Mabol Yuk!. Bagi Mas Bond, bermain bersama komunitas bukan sekadar olahraga.
“3 S: Seru, Sehat, dan Silaturahmi,” katanya mantap.
Ada sesuatu yang tak tergantikan dari bermain langsung di lapangan: guyonan. Tawa, candaan, dan kebersamaan itulah yang membuat sepak bola terasa lebih hidup dibanding hanya menonton di layar kaca.
Jika suatu hari nanti ia tak lagi mampu bermain, satu hal yang paling akan ia rindukan adalah bermain bola bersama teman-teman. Bukan soal gol, bukan soal posisi, tetapi soal kebersamaan.
Jika sepak bola harus digambarkan dalam satu kata, Mas Bond memilih: “Nikmat.”
Menurutnya, sepak bola tak pernah benar-benar lepas dari hidup banyak orang karena di sanalah tempat melepaskan penat dan mengekspresikan kegembiraan. Ia adalah bahasa universal yang bisa menyatukan siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa, dari kampung hingga kota besar.
Namun di balik kecintaannya pada sepak bola, Mas Bond tetap menempatkan nilai spiritual di atas segalanya. Pesannya untuk generasi muda sederhana, tapi dalam:
“Cinta bola boleh, asal cintanya jangan melebihi cinta kepada Yang Maha Kuasa.”
Kisah Mas Bond bukanlah kisah pesepak bola profesional, bukan pula cerita tentang piala dan kontrak besar. Ini adalah kisah tentang bagaimana sepak bola hadir sebagai teman hidup, mengajarkan disiplin, menghadirkan kebahagiaan, dan menjaga silaturahmi.
Dari hujan di lapangan kampung hingga selebrasi “Siiiuuu!” di lapangan Mabol Yuk!, sepak bola terus mengalir dalam hidup Mas Bond. Dan mungkin, di situlah letak keindahannya: ketika sebuah permainan sederhana mampu memberi makna yang begitu dalam, tanpa pernah meminta lebih dari sekadar cinta yang tulus dan tetap membumi.









