Catatan Renungan by Eenk Muda
Pemimpin yang baik adalah sosok yang santun dalam berkata dan bijaksana dalam menjaga lidahnya. Seorang pemimpin yang memiliki kendali atas ucapannya menunjukkan kebijaksanaan dan ketulusan dalam memimpin. Kata-kata yang santun dan penuh empati dapat mempererat hubungan dengan rakyat dan menginspirasi mereka, sementara tutur kata yang sembarangan atau kasar dapat menciptakan jarak dan ketidakpercayaan.
Seorang pemimpin yang bijak paham bahwa kata-katanya memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. Kecakapan dalam berbicara bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang menciptakan suasana yang positif dan mendorong orang lain untuk tumbuh bersama.
Quotes dari pemimpin terkenal, Abraham Lincoln, menggambarkan hal ini dengan jelas: “Better to remain silent and be thought a fool than to speak out and remove all doubt (Lebih baik diam dan dianggap bodoh daripada bicara dan menghilangkan semua keraguan).” Ucapan ini mengingatkan kita bahwa ketenangan dalam berbicara adalah tanda kedewasaan dan kebijaksanaan. Seseorang yang mampu menahan diri akan lebih bijaksana dalam berbicara, sehingga terhindar dari kata-kata yang merugikan.
Dalam Islam, Al-Quran dan hadis juga menekankan pentingnya menjaga lisan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang beriman harus menjaga lisannya dan hanya mengucapkan kata-kata yang baik. Dengan menjaga lisan, seorang pemimpin akan lebih dihormati dan dicintai.
Pemimpin yang pandai menjaga lisan akan mampu membangun kepercayaan, mewujudkan keharmonisan, dan menginspirasi banyak orang. Sopan santun dalam berbicara bukan hanya mencerminkan etika, tetapi juga menunjukkan kedalaman karakter dan keteguhan dalam memimpin.
Teras Rumah, 11 November 2024









