Tradisi Pemanfaatan Tengkiang Terabaikan

Oleh : Soufie Retorika dan Amrita RH Terang

Peninggalan masa lalu tentang aktifitas masyarakatnya di Kabupaten Lahat banyak penulis lihat di wilayah wilayah terpencil, dan sayangnya pemanfaatan mulai diabaikan. Bumi Seganti Setungguan adalah julukan bagi Lahat, negeri elok yang kaya akan kekayaan sejarah serta budaya.

Tengkiang, kata ini penulis dapat sekitar tahun 2015 ketika berjalan-jalan ke area persawahan di desa yang dianggap masih memiliki banyak peninggalan. Antara lain seperti di Kecamatan Kota Agung dan Tanjung Tebat, Lahat. Tengkiang artinya lumbung padi seperti penuturan masyarakat setempat. Letak tengkiang biasanya tak jauh dari ladang atau sawah, dibuat seperti pondok panggung kecil tanpa jendela. Dinding yang menjadi khas tengkiang terbuat dari bambu yang dipipihkan yang dinamakan Pelupuh. Atapnya pada jaman dahulu terbuat dari kulit kayu yang dikeringkan, disusun dan dianyam rapi berwarna kehitaman. Di samping tengkiang barulah dibuat pondok oleh petani atau peladang.

Sayangnya saat ini sangat jarang dijumpai Tengkiang atau pondok di ladang atau sawah menggunakan atap kulit kayu. Kebanyakan sudah menggunakan seng yang dipaku ke kerangka atap. Ternyata keberadaan tengkiang tidak hanya di Lahat, tapi ada di Pagaralam, Muara Enim terutama daerah Semendo, dan Empat Lawang. Referensi yang penulis dapat tentang tengkiang juga tidak terlalu banyak. Dari cerita mulut ke mulut jika saat panen, pada jaman dahulu masyarakat mengumpulkan batang batang padi segerombolan bertumpuk tumpuk disusun dalam tengkiang yang beralas lantai papan.

Tak jauh dari sekumpulan batang padi yang terikat dan kering di lumbung, ada nyiru yang bentuknya seperti tampah dari anyaman bambu dan rotan untuk menampi gabah. Ada bake atau keranjang rotan yang anyamannya lebih rapat untuk menyimpan beras atau gabah yang sudah dipisahkan dari tangkainya, biasanya ukuran bake bisa menjadi patokan ukuran banyaknya hasil panen, sebelum masyarakat setempat mengenal ukuran berat. Ada lesung kayu untuk menumbuk padi dan antannya (penumbuknya), serta perkakas berkebun lainnya.

Saat ke Dusun III (Talang Gardu), Desa Tanjung Menang, Kecamatan Tanjung Tebat bertemu dengan Nenek Meti (sekitar 65 tahun) dirinya pemilik tengkiang yang dijumpai Tim Ini Lahat Nian, Irfan Witarto, Yardi, Aan Jasudra dan Amrita. Dari keterangan Nenek Meti dirinya diwariskan tengkiang ini dari orang tuanya yang sudah turun temurun.

“Tengkiang ini sudah tidak dipakai lagi, dulu memang dipinjam, dipakai untuk lumbung padi, sekarang kosong, hanya menyimpan peralatan kebun seadanya,” jelasnya

Tengkiang ini terletak di halaman rumah Ibu Meti sudah ada semenjak dusun ini dibuat dan hanya satu-satunya di dusun ini. Banyak dari dusun tetangga yang sering meminjam isinya tapi tidak dikembalikan, karena masih berhubungan keluarga, nenek Meti tidak mengabaikannya.

Di Dusun III (Talang Gardu) ini merupakan kawasan Situs Negeri Celeng atau Situs Talang Gardu. Menurut pengamatan penulis dan keterangan Kadus III Arifin bahwa dahulu di kawasan situs merupakan pemukiman kuno (Dusun Bughuk), lalu berpindah. Jika di Kawasan situs megalitik terdapat tengkiang,ada pemukiman kuno, lesung dan arca mungkinkah dahulu ada keterkaitan satu sama lain.

Menurut Arkeolog Retno Purwanti, bahwa jika dalam suatu pemukiman kuno, terdapat Situs megalitik, berupa arca, lesung dan tengkiang.

“Mungkin saja ada keterkaitan,sebab dalam satu kampung pasti ada rumah, sarana ibadah, tempat persediaan makanan untuk bertahan hidup sebagai satu kesatuan penting,” jelas Retno.

Dalam referensi Buku Etnoekologi Komunikasi Orang Semende Berarti Alam (yang ditulis Dr Yenrizal Tarmizi, Dr Agus Rahmat, dan Prof Johan Iskandar, halaman 107 dan 108 menjelaskan bahwa Tengkiang yang dimaksud masyarakat Semende, bangunan rumah yang memiliki fungsi seperti lazimnya. Akan tetapi warga masih mengelompokkannya sebagai rumah karena bentuk fisiknya seperti rumah, dan sebagian warga yang tidak memiliki dangau (rumah pondok di kebun,ladang, sawah) biasanya tinggal sementara di tengkiang.

Pengertian secara harfiah, Tengkiang diartikan sebagai lumbung padi. Fungsi dasarnya memang untuk tempat menyimpan padi hasil panen. Posisinya di dekat sawah dan dibangun bergandengan dengan rumah dangau.
Dan saat ini memang sudah tidak banyak masyarakat yang membangun atau menggunakan tengkiang. Lumbung padi yang dibuat masyarakat sendiri sudah dipindah ke area yang berdekatan dengan rumah penduduk.

Lahat, 16 Juni 2022

Pos terkait