Catatan Budaya: Kartini Masa Lalu dan Kini

Oleh : Soufie Retorika

wartabianglala.com – Jika Kartini, sosok pejuang feminis dari Jepara, perjuangan perempuan lainnya Cut Nyak Dhien, Cut Mutia yang dahulu tidak bisa kita hapus begitu saja dalam sejarah Indonesia. Tidak hanya segelintir perempuan saja yang membantu perjuangan masa lalu. Nyatanya dari beberapa informasi yang di dapat untuk ruang lingkup Sumatera Selatan dan terutama tanah Pasemah (Besemah) sejak jaman dahulu kala, perempuan memiliki peran penting sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkan, tapi lebih dari itu tentang pelajaran budi pekerti, pendidikan anak sejak dini di mulai oleh seorang ibu, seorang perempuan sebagai simbolisasi penebar kasih sayang.

Lalu teringat dengan sosok Dewi Sri, simbol kesuburan dan pertanian masa lalu, ternyata setelah menghubungi arkeolog perempuan dari Kantor Arkeologi Palembang, Retno Purwanti. Diperoleh informasi bahwa dari informasi yang didapatinya dari mantan Dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (almarhum) Marzuki yang merupakan putra Pagaralam. Bahwa di Pagaralam dan Lahat menurut penutur sosok Dewi Sri ada.

“Cuma sebutannya saya tidak tahu, almarhum pak Marzuki pernah cerita pada saya bahwa pembagian rumah tradisional di Pagaralam sama persis dengan di Jawa. Di mana ada tiga ruang, yang berderet dan yang tengah dikosongkan karena untuk menaruh sesaji untuk sosok Dewi Sri,” ungkap Retno Purwanti.

Yakni sosok perlambang kesuburan dan pertanian, temuan dari penuturan masyarakat Lahat pula meyakini penulis bahwa keterlibatan perempuan dalam pertanian dan kesuburan sudah ada sejak lampau
Tentang Kesultanan Palembang sendiri ditambahkan Retno, dari catatan JL Van Sevenhoven seorang Belanda bahwa perempuan Palembang secara ekonomi lebih mandiri dibandingkan kaum lelaki. Perempuan elit kala itu menenun songket dan membuat kerajinan lainnya, kemudian dijual oleh para pembantu para puteri-puteri tersebut. Hal ini terjadi saat Kesultanan Palembang dihapuskan Belanda dan para elit keraton tak punya kekuasaan apapun untuk mencukupi perekonomian keluarga, justru perempuan mereka menjadi kreatif dan mandiri menghidupi.

Perjalanan penulis selama ini dalam pandangan bahwa kaum lelaki yang sangat berperan utama dalam menopang keluarga itu tidak seluruhnya utuh dan benar.
Bahwa ibu hanya sebagai ibu rasanya tidak betul sekali, sekalipun di pedalaman, di dusun-dusun. Perjalanan penulis di Bumi Seganti Setungguan, Kabupaten Lahat tentu saja tidak bisa dipungkiri banyak penglihatan, pelajaran dan pengetahuan. Daya pesona Lahat, dari alam yang indah, budaya yang adiluhung dan sejuta potensi lainnya amat memberi inspirasi. Berkaitan dengan judul tulisan kali ini, bahwa betapa perempuan Lahat sangat memberi perannya dalam dunia kopi.

Sebut saja Santi (45) yang dijumpai kala itu di Desa Perangai, Kecamatan Merapi Selatan. Tumpukan-tumpukan kopi yang dijemur di depan rumah warga menjelang hari kalangan, mereka menjual hasil kebun antara lain kopi, karet, padi, kayu manis dan lada. Pemandangan bukit barisan yang menjulang di belakang mereka itu bersamaan dengan pemandangan ibu-ibu yang menatap lesung menumbukkan biji kopi yang masih berkulit buah lalu menawarkannya pada pedagang yang lewat untuk menampung kopi. Hasilnya dari menjual kopi mereka ke pasar kalangan yang buka seminggu sekali, berbelanja kebutuhan harus sesuai dengan perhitungan.

Biasanya mereka 3 hari menginap di talang (kebun di hutan) meninggalkan anak-anak bergantian atau dititipkan pada keluarga jauh dari dusun ditempat mereka tinggal. Membawa hasil dengan kinjar (keranjang rotan) dipanggul selama perjalanan 2 jam atau 3 jam rasanya berat, bercampur kopi dan puntung kayu api memasak mereka.

Desa Tanjung Sirih berjumpa Yudith (37) perempuan bertubuh kurus dan tengah mengendong anak balitanya menawarkan kopi untuk di beli. Sedap aroma kopi di lumbung kopi di rumah panggung orang tuanya yang setelah musim terkumpul baru mereka jual,hasilnya cukup untuk membangun rumah panggung, memulai bertanam padi di sawah. Istimewa mereka bahu membahu merawat sekitar 5ribu batang kopi

“Ai, berat mamak ni betanam kopi surangan dengan bapang saje. banyak pacetnya.”
Ungkap Yudith tentang kondisi kebun di talang, Talang adalah rumah kayu panggung kecil di tengah kebun yang jauh dari desa mereka, banyak pacet lembab dan naik turun jurang.
Nenek-nenek yang penulis jumpai di dusun-dusun terpencil di Desa Pajar Bulan dan Simpang Tiga, Tanjung Sakti Pumi bisa menghasilkan kopi yang nikmat dengan campuran jahe, kacang tanah dan beras.

“Nenek saya ahli meracik kopi untuk keluarga. Kiriman kopi darinya selalu diminati anak-anaknya sebagai kiriman istimewa. Oleh-oleh yang ditunggu,” kata Helfi (43) salah satu guru di Lahat.

Dirinya tidak memungkiri bahwa sang nenek yang mengajarkan untuk memperlakukan tanaman atau tumbuhan kopi itu dengan benar. Perawatan harus cukup pencahayaan matahari agar bunga yang menjadi buah lebih maksimal.

Lalu mulai dari petik kopi merah yang dilakukan sejak jaman lampau itu masih dilakukan hingga kini. Bohong kiranya perempuan tidak bisa menopang ekonomi keluarga. Kebanyakan yang ditemui penulis yang telaten merawat kebun kawe ini adalah perempuan. Pemberdayaan masyarakat desa bisa lebih maksimal jika saja perempuan-perempuan ini dibina dengan pengetahuan baik.

-Soufie Retorika-

Pos terkait