Menelusuri Jejak Letda Abdul Karim dan Kolonel Barlian

Dalam Catatan Mario Andramartik

wartabianglala.com – Sejarah mencatat penyebaran agama Islam pertama kali di kabupaten Lahat ada di desa Pagar Batu kecamatan Pulau Pinang dan untuk agama Kristen di kabupaten Lahat ada di kecamatan Tanjung Sakti Pumi tepatnya di desa Pagar Jati. Disini masih berdiri dengan kokoh sebuah gereja berbahan kayu, akan tetapi gereja ini sudah jarang digunakan untuk ibadah karena telah dibangun gereja yang lebih besar yaitu gereja yang berada di desa Pajar Bulan.

Di kecamatan Tanjung Sakti Pumi juga mempunyai banyak sejarah masa lalu selain sebagai pusat penyebaran agama Kristen pertama di kabupaten Lahat bahkan di Sumatera Bagian Selatan juga ada sejarah pencetakan uang di masa perang kemerdekaan ketika Palembang diduduki Belanda dan pusat pemerintahan harus berpindah.

Tanjung Sakti Pumi juga mencatatkan sejarah sebagai lokasi bermukimnya etnis Cina dan Palembang. Di bawah tahun 1965 terdata di desa Tanjung Sakti bermukim 25% etnis Palembang dan 25% etnis Cina. Sebagai bukti hingga kini masih terlihat rumah bergaya Cina yang dibuat tahun 1930 dan pemakaman etnis Cina yang disebut oleh masyarakat setempat sekarang dengan nama kuburan Cina. Hal ini dituturkan tokoh masyarakat dusun Pasar Lama desa Tanjung Sakti kecamatan Tanjung Sakti Pumi Syaherman (70 tahun) dan Pance (32 tahun).

Dalam kunjungan Panoramic of Lahat pada lebaran ketiga Syaherman dan Pance membawa kami ke kuburan Cina yang berada di Selatan desa berjarak sekitar 1 km, dsini banyak dijumpai kuburan dengan motif nisan dan tulisan berhuruf Cina. Kami temukan kuburan dengan tahun wafat 1930,1946,1946 dan terbaru 2017. Etnis Cina yang dikuburkan disini bukan hanya yang meninggal di desa ini tetapi ada juga yang meninggal di Bengkulu, Jakarta dan Tangerang.

Di desa ini juga ada Makam Pahlawan, demikian menurut Syaherman. Kemudian kami menuju Makam Pahlawan yang dimaksud di pekuburan umum yang berlokasi diseberang jalan kuburan Cina. Disini Syaherman dan Pance menunjukkan sebuah makam dengan keramik berwarna biru. Tertulis di nisan kubur ini Letda Abdul Karim bin Mastanum wafat 18 – 08 – 1947 di front Kuba Lahat. Kemudian Syaherman menceritakan bahwa Letda Abdul Karim Bin Mastanum merupakan pahlawan asal Tanjung Sakti Pumi yang gugur di pertempuran di desa Kuba kecamatan Pulau Pinang dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Saya sangat bangga sebagai masyarakat Tanjung Sakti karena ada warga kami yang berperan melawan penjajahan,” tutur Syaherman bersemangat.

Kami juga menemui adik kandung Letda Abdul Karim yang masih hidup dan tinggal di dusun Pasar Lama desa Tanjung Sakti namanya Nasabin bin Mastanum yang sudah berusia 96 tahun. Nasabin bercerita tentang pertempuran di desa Kuba bersama kakak kandungnya yang telah gugur demi tanah air tercinta.

Hingga kini setiap peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus dan Hari Pahlawan 10 Nopember di area makam Letda Abdul Karim masih dilangsungkan upacara yang dihadiri unsur TNI, Polri, Tripika dan lainnya untuk menghormati jasa-jasa Letda Abdul Karim.

Selain pejuang kemerdekaan Letda Abdul Karim di Tanjung Sakti Pumi juga ada tokoh yang berjuang di masa kemerdekaan yaitu Kolonel Barlian. Nama tokoh Kolonel Barlian diabadikan dengan membuat monumen patung Kolonel Barlian yang ada di desa Masam Bulau kecamatan Tanjung Sakti Pumi dan simpang 3 perkantoran Pemkab Lahat juga menjadi nama jalan seperti di Lahat ada Palembang.

Baik Letda Abdul Karim maupun Kolonel Barlian kedua merupakan keluarga dari Pangeran Kenawas yang merupakan seorang Pesirah di marga Pumi dan tidak heran bila darah kepemimpinan mengalir kepada kedua pemimpin berikutnya.

Barlian beserta para pemuda dari Sumatra Selatan yang telah lulus seleksi pendaftaran Giyogun di daerah masing-masing dikirim ke Kota Pagaralam, Sumatra Selatan untuk mengikuti pendidikan militer di Giyogun Kanbu Kyoiku dari tanggal 12 Desember 1943 sampai dengan bulan April 1944. Selulusnya dari sana, Barlian memperoleh pangkat Giyu-Shoi (Letnan Dua) dan bertugas menjadi Komandan Seksi Mortir hingga Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Pasca proklamasi kemerdekaan, Barlian bergabung kedalam BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang kelak menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) sebagai Ketua BKR di Bengkulu dan tidak lama kemudian saat BKR berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) maka Barlian menjadi Komandan TKR Karesidenan Bengkulu dengan pangkat Mayor hingga pada puncaknya menjadi Panglima T&T II / Sriwijaya periode 1956—1958 dengan pangkat Kolonel serta pensiun pada tanggal 31 Desember 1958.

Kolonel Barlian, lahir di Tanjung Sakti, Lahat, Sumatra Selatan pada tanggal 23 Juli 1922. Tahun 1929 Kolonel Barlian dan kakaknya yang bernama Ramli, diantar oleh ayah mereka H.Senapi ke Bengkulu dan dimasukkan ke Sekolah HIS (Hollands Indlandsche School).

Setamat dari HIS, Barlian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Malang dan tamat pada tahun 1940.

(Mario Andramartik, 18 Mei 2021)

Pos terkait