• Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional
Rabu, Juni 10, 2026
  • Login
  • Register
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
No Result
View All Result
Warta Bianglala
Advertisement
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
No Result
View All Result
Warta Bianglala
No Result
View All Result
Home Sastra Cerpen

Cerpen Pilihan Karya S Prasetyo Utomo

Aan Jasudra by Aan Jasudra
2 Mei 2021
in Cerpen, Kabar Hari Ini, Sastra
0 0
0
Cerpen Pilihan Karya S Prasetyo Utomo
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

CAHAYA MATA PEMIKAT LEBAH

Oleh : S. Prasetyo Utomo
_________________________

“Jangan terima dia kerja di sini,” kata ibu mertua Ki Broto ketika melihat Seto, seorang lelaki kurus berkepala gundul yang baru dibebaskan dari penjara memasuki pedepokan.

Dari penjara Seto mencari Ki Broto. Dia memasuki pedepokan dengan langkah mantap. Sepasang matanya cemerlang, kukuh dalam kemauan. Ibu mertua yang lumpuh, berjemur matahari pagi di pelataran, mendengar percakapan Ki Broto dan Seto di ambang pendapa.

“Saya memerlukan seorang tukang kebun,” tukas Ki Broto santun. Ia sudah mengenal Seto di masa lalu, sebelum dipenjara karena tuduhan membunuh Glemboh, teman penambang pasir, dengan mantra pemikat lebah. Tak ada rencana sama sekali Seto akan membunuh Glemboh. Ia hanya menerima tantangan Glemboh untuk mendatangkan lebah-lebah. Mantra yang dirapalnya menggerakkan lebah-lebah dari berbagai penjuru, merubung tubuh Glemboh, lelaki gempal itu. Glemboh mati dengan tubuh penuh sengatan lebah. Lebam menghitam.

“Lagi pula banyak celeng mati belakangan ini. Saya memerlukan teman untuk menguburkan celeng-celeng yang mati di sekitar tempat ini,” kata Ki Broto, yang selama ini seorang diri menguburkan celeng-celeng yang turun gunung dan mati di sembarang tempat.

“Ia bekerja di sini sebagai pengganti Lik Kapir, tukang kebun yang sudah meninggal,” kata Laksmita, istri Ki Broto, mendukung suami. Ia anak tunggal ibunya.

Ibu mertua Ki Broto tampak tak berkenan. Tapi perempuan tua itu tak lagi menolak kehadiran Seto. Pagi itu Ki Broto meminta Seto untuk menempati salah satu kamar di pedepokan yang ditinggalkan para penari selama wabah celeng-celeng mati. Seto memilih tinggal di gubuk tengah ladang, tak jauh dari pedepokan, yang dulu ditempati Lik Kapir. Gubuk kusam itu dibersihkan, diperbaiki, dan Seto merasa tenang tinggal di dalamnya.

Menjelang sore Seto mengikuti Ki Broto mengubur bangkai celeng yang kedapatan mati di lahan sayuran. Tak seorang pun menguburkan celeng itu, takut bila mereka tertular penyakit. Mereka juga menghindar saat bertemu Ki Broto dan Seto, dengan pandangan curiga dan takut tertular wabah penyakit yang menjangkiti celeng-celeng.

Celeng-celeng terus bergelimpangan di lereng gunung, mati begitu rupa, tanpa diketahui penyebabnya. Tak ada tanda-tanda celeng-celeng itu terkena racun, atau ditembak pemburu. Tidak pula celeng-celeng itu diterkam binatang buas seperti harimau. Celeng jantan dan celeng betina bisa mati mendadak di semak-semak, terkapar menjadi bangkai.

*****

Sambil minum kopi pagi itu Ki Broto merenung di pendapa. Tak seorang penari pun tinggal di pedepokan. Setelah Lik Kapir dikubur, dan celeng-celeng masih terus ditemukan mati bergeletakan di tempat-tempat yang tak terduga, para cantrik mulai takut dan ngeri. Mereka meninggalkan pedepokan.

Dulu Lik Kapir yang selalu menguburkan celeng-celeng yang mati. Tapi sejak Lik Kapir meninggal, tak seorang pun bergerak menguburkan celeng-celeng itu. Orang-orang merasa jijik dengan bangkai celeng, dan tak mau menguburkannya. Mereka takut bila mengubur celeng itu akan tertular penyakit dan mati seperti Lik Kapir.

Dalam hidup Ki Broto sejak mendirikan pedepokan, belum pernah merasakan kesunyian seperti saat ini. Sebelum ini pedepokan selalu ramai dengan para penari, penabuh gamelan, dan pertunjukan-pertunjukan. Kadang ia melakukan latihan tari yang bakal dipentaskan hingga larut malam.

“Mau mengubur bangkai celeng?” tanya Laksmita, ketika pagi itu Ki Broto mengajak Seto bergegas meninggalkan pendapa.

“Seekor celeng mati di pesantren Gus Sarwi,” kata Ki Broto. “Aku akan ke sana.”

Memasuki gerbang pesantren, Ki Broto dan Seto tak melihat seorang pun santri. Mereka memasuki pelataran pesantren, dan saling berpandangan, seperti mengenang akan kebaikan Abah Ajisukmo, guru ngaji mereka yang telah meninggal dan digantikan Gus Sarwi. Tampak dalam mata Seto yang cemerlang itu genangan bening tipis. “Saya belum cukup berguru pada Abah Ajisukmo. Beliau sudah meninggal.”

Tak pernah diduga Ki Broto bila pesantren senyap, tanpa seorang santri pun. Ki Broto diikuti Seto memasuki pelataran pesantren yang kosong. Mereka mengambil bangkai celeng.

Bangkai celeng itu tampak agak membusuk. Lalat-lalat merubung bangkai celeng betina yang memisahkan diri dari kawanannya, memasuki pesantren dan mati. Tanpa rasa jijik Ki Broto dan Seto menyeret bangkai celeng ke ladang belakang pesantren. Mereka menggali liang dan memasukkan bangkai celeng ke dalamnya. Menimbuni liang itu.

Mereka tak bergegas pulang. Ziarah ke makam Abah Ajisukmo, ayah Gus Sarwi yang dulu memimpin pondok pesantren. Mereka berdoa, berdiam diri, merenung, dan menemukan ketenteraman. Ki Broto mencari kembali kenangan-kenangan bersama Abah Ajisukmo, yang sesekali hadir dalam mimpinya menjelang dini hari. Dalam mimpi yang paling akhir dialami Ki Broto, ia ditemui Abah Ajisukmo dengan serban putih jubah putih, memintanya, “Terimalah Seto bekerja di tempatmu.”

*****
Ke mana pun Ki Broto pergi menguburkan bangkai celeng, ia bersama Seto. Lelaki kurus itu mengikuti segala kemauan Ki Broto. Seto masih memiliki kekuatan mantra memikat lebah. Setiap kali ia melangkah, di atas kepalanya berdengung lebah-lebah. Ia bisa mengendalikan lebah-lebah untuk mengikuti perintah mantranya.

“Kamu tak ingin kembali kerja sebagai penambang pasir?” tanya Ki Broto.

“Tidak lagi. Lebih baik saya berada di pedepokan ini.”

Ki Broto menemukan pengganti Lik Kapir, tukang kebun yang setia mendampingi hidupnya. Seto memiliki kesetiaan sebagaimana Lik Kapir. Hanya saja, ia lebih memiliki keberanian untuk melawan orang-orang yang tak selaras dengan kemauannya.

*****
Sang juragan yang mendengar Seto sudah kembali dari penjara, datang ke pedepokan. Masih pagi, dan betapa sang juragan menampakkan ketuaannya. Hotel miliknya sepi. Hampir tak ada tamu yang singgah di hotelnya selama wabah mematikan celeng-celeng, dan penambangan pasir di lereng gunung kurang tenaga manusia. Hampir tak ada kuli yang mau menambang pasir di dasar sungai.

“Kembalilah bekerja padaku,” pinta sang juragan. Ia sangat mendambakan kembalinya Seto, yang diketahuinya rajin bekerja. “Akan kuberi kau upah yang tinggi.”

“Saya lebih tenteram bekerja di pedepokan.”

“Atau kau ingin jadi mandor?”

Seto menolak segala bujukan sang juragan. Ia lebih suka tinggal bersama Ki Broto, menguburkan celeng-celeng, membersihkan rerumputan di pedepokan, dan mengolah ladang. Sang juragan meninggalkan pedepokan dengan pandangan sayu.

Pagi itu Seto memperoleh kesempatan mencari madu lebah hutan. Tubuhnya lincah ketika mendaki lereng hutan dan kakinya kukuh memanjat pohon-pohon besar yang liar.

Memanen madu, dan menjelang sore tiba di pedepokan. Mempersembahkan sebotol madu murni pada Ki Broto.

Ki Broto memberikan sebotol madu murni itu untuk ibu mertua yang masih saja duduk di atas kursi roda. Ibu mertua meminum madu pemberian Seto dengan malu-malu. Ia mulai bisa berlatih berdiri, berjalan setapak dua tapak di pelataran pedepokan. Laksmita mendampingi ibunya berjalan tertarih-tatih. Ia melihat ibu kandungnya yang kini mulai mengangguk dan menyapa Seto. “Kalau medu ini habis, tolong carikan lagi untukku.” Tentu Seto membalas permintaan perempuan tua itu dengan senyum dan anggukan.

Hati Seto membisik: memang mungkin di pedepokan inilah tempat kehidupanku. Abah Ajisukmo selalu datang dalam mimpi dan meminta, “Bekerjalah pada Ki Broto, kalau hatimu ingin tenteram.” Dalam redup langit senja tampak sepasang mata lelaki kurus itu kian bercahaya.

Pandana Merdeka, April 2021

 

Tentang Penulis
_________________________

S. PRASETYO UTOMO, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Semenjak 1983 menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di media massa. Penerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Tergabung dalam antologi cerpen Kompas, seperti “Penyusup Larut Malam” yang dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian (Cerpen Kompas Pilihan 2009), diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris “The Midnight Intruder” (2018), juga “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel terbarunya Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen terbaru Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).

Aan Jasudra

Aan Jasudra

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Bupati Lahat Lantik Pejabat Baru dan Plt, Tegaskan Integritas serta Kinerja Nyata

Bupati Lahat Lantik Pejabat Baru dan Plt, Tegaskan Integritas serta Kinerja Nyata

21 April 2026
Mengenal Lebih Dekat Dr. Izromaita: Putra Daerah “Lulusan Terbaik” yang Kini Menakhodai Birokrasi Kabupaten Lahat

Mengenal Lebih Dekat Dr. Izromaita: Putra Daerah “Lulusan Terbaik” yang Kini Menakhodai Birokrasi Kabupaten Lahat

21 April 2026
Resmi Dilantik, Sekda Lahat Targetkan Evaluasi OPD Tuntas dalam Satu Bulan

Resmi Dilantik, Sekda Lahat Targetkan Evaluasi OPD Tuntas dalam Satu Bulan

21 April 2026
Dari Kapur Tulis hingga Kursi Kadis: Jejak Inspiratif Sang “ASN Inspiratif” Hasperi Susanto

Dari Kapur Tulis hingga Kursi Kadis: Jejak Inspiratif Sang “ASN Inspiratif” Hasperi Susanto

21 April 2026
Hadiri Panen Raya Jagung di OKU Selatan, Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Sumsel Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Hadiri Panen Raya Jagung di OKU Selatan, Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Sumsel Dukung Ketahanan Pangan Nasional

1
Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

0
Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
Gubernur Sumsel Tunjuk Wabup Sumarni Jadi Plt Bupati Muara Enim

Gubernur Sumsel Tunjuk Wabup Sumarni Jadi Plt Bupati Muara Enim

10 Juni 2026
Maling Bobol Rumah Tengah Malam, Tim Tarantula Rambang Niru Gerak Cepat Ringkus Pelaku

Maling Bobol Rumah Tengah Malam, Tim Tarantula Rambang Niru Gerak Cepat Ringkus Pelaku

10 Juni 2026
Panen Jagung Kuartal II 2026, Polsek Gunung Megang Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Panen Jagung Kuartal II 2026, Polsek Gunung Megang Dukung Ketahanan Pangan Nasional

9 Juni 2026
Bangun Ekonomi Lokal Berkelanjutan, PTBA Tingkatkan Kompetensi Kelompok Budidaya Itik Petelur

Bangun Ekonomi Lokal Berkelanjutan, PTBA Tingkatkan Kompetensi Kelompok Budidaya Itik Petelur

9 Juni 2026

Recent News

Gubernur Sumsel Tunjuk Wabup Sumarni Jadi Plt Bupati Muara Enim

Gubernur Sumsel Tunjuk Wabup Sumarni Jadi Plt Bupati Muara Enim

10 Juni 2026
Maling Bobol Rumah Tengah Malam, Tim Tarantula Rambang Niru Gerak Cepat Ringkus Pelaku

Maling Bobol Rumah Tengah Malam, Tim Tarantula Rambang Niru Gerak Cepat Ringkus Pelaku

10 Juni 2026
Panen Jagung Kuartal II 2026, Polsek Gunung Megang Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Panen Jagung Kuartal II 2026, Polsek Gunung Megang Dukung Ketahanan Pangan Nasional

9 Juni 2026
Bangun Ekonomi Lokal Berkelanjutan, PTBA Tingkatkan Kompetensi Kelompok Budidaya Itik Petelur

Bangun Ekonomi Lokal Berkelanjutan, PTBA Tingkatkan Kompetensi Kelompok Budidaya Itik Petelur

9 Juni 2026

Follow Us

Browse by Category

  • Agama
  • Apps
  • Artikel
  • Bali
  • Bandar Agung
  • Bandar Jaya
  • Banyuasin
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Business
  • Cerpen
  • Desa
  • E-Sport
  • Ekonomi & Bisnis
  • Empat Lawang
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Essay
  • Fashion
  • Feature
  • Food
  • Gadget
  • Gaming
  • Gumay Talang
  • Gumay Ulu
  • Gunung Gajah
  • Health
  • IPTEK
  • Jakarta
  • Japehan Kang Yardi
  • Jarai
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Kabar Hari Ini
  • Kaltim
  • Kecamatan
  • Kejadian besar hari ini
  • Kelurahan
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Kikim Barat
  • Kikim Selatan
  • Kikim Tengah
  • Kikim Timur
  • Kisah Inspiratif
  • KKN (Korupsi
  • Kota Agung
  • Kota Baru
  • Kota Jaya
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Lahat
  • Lahat
  • Lahat Selatan
  • Lahat Tengah
  • Lakalantas
  • Lampung
  • Lifestyle
  • Lingkungan
  • Literasi
  • Lubuklinggau
  • Malaysia
  • Merapi Barat
  • Merapi Selatan
  • Merapi Timur
  • Mobile
  • Movie
  • Muara Enim
  • Muara Payang
  • Mulak Sebingkai
  • Mulak Ulu
  • Musi Banyuasin (Muba)
  • Musi Rawas
  • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Music
  • Narkotika
  • Nasional
  • Nepotisme)
  • News
  • Obituari
  • Ogan Ilir (OI)
  • Ogan Komering Ilir (OKI)
  • Ogan Komering Ulu (OKU)
  • OKU Selatan
  • OKU Timur
  • Olahraga
  • Opini
  • Ormas dan Komunitas
  • Otomotif
  • Pagar Agung
  • Pagar Gunung
  • Pagaralam
  • Pajar Bulan
  • Palembang
  • Pali
  • pangkal Pinang
  • Pangkalpinang
  • Pariwisata
  • Parlemen – DPR
  • Pasar Baru
  • Pasar Bawah
  • Pasar Lama
  • Pembangunan
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Penukal Abab
  • Pertanian
  • Perusahaan
  • Pilkada Lahat 2024
  • Politics
  • Politik
  • Porprov XIV Kabupaten Lahat
  • Prabumulih
  • Profil
  • Pseksu
  • Puisi
  • Pulau Pinang
  • RD PJKA
  • Review
  • Riau
  • Sastra
  • Science
  • Seni & Budaya
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sports
  • Startup
  • Suka Merindu
  • Sumbar
  • Surat buat Cik Ujang
  • Surat Cinta buat Kak Wari
  • Talang Jawa Selatan
  • Talang Jawa Utara
  • Tanggerang
  • Tanjung Sakti PUMI
  • Tanjung Sakti PUMU
  • Tanjung Tebat
  • Tech
  • TNI & Polri
  • Travel
  • Uncategorized
  • World
  • Yogyakarta
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Karir
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan

© 2026 by Ricko Hazadi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional

© 2026 by Ricko Hazadi

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?