KEPADA PENGARANG PANDIR; PUISI-PUISI ISBEDY STIAWAN Z.S

Ilustrasi : unsplash/Pruteanu
Ilustrasi : unsplash/Pruteanu

ORANG TAK TERCATAT

 

kadang perlu juga

jadi orang tak tercatat

orang yang tidak dikenal

 

ini, sore ini. tapi di mana,

bahkan ibuku tak usah tahu

 

tanpa kopi — juga rokok,

aku tutup sore di sini

sebagai bukan isbedy

 

lalu, kau mau datang

sekadar bawa senyuman?

 

segelas kopi + rokok

lainnya percakapan

(tambah perjanjian)

 

jika kau pamit

titip waktuku

di alamat yang pasti

 

2 April 2021

 

 

BURUNG PEMATUK BIJI

TELAH MEMBAWA PERGI PUISI

 

jangan minta puisiku pagi ini

burung pematuk bijian telah

membawa pergi

 

aku kalah dari matahari

 

tidak ada puisi pagi ini

burung telah membawa pergi

seperti mematuk bijibiji

 

habis pula hurufhurufku

lalu kupatuk apa?

 

hujankan lagi kalimat-Mu

agar basah tanah kering ini

 

dan kau menunggu?

 

 

DI PANGGUNG PERTUNJUKAN

 

ia hanya pemain di panggung itu

setiap kalimat dan gerak tubuhnya

sudah dia hapal di harihari latihan

bahkan, bagaimana ia pegang pisau

sampai tanganya mengepak ke atas

kemudian menancapkan senjata itu

dan penonton melihat seperti

tenggelam di dada lawan mainnya

 

 

DERMAGA

 

berdiri aku di pipi dermaga

tak ada kapal menyeberang

pulau kelam dalam pandang

kau gigil dihantam kesunyian?

 

di pipi dermaga, kuharap

ada kapal yang menyeberang

sampai malam tenggelam

di laut yang hitam

 

kini aku yang dipeluk sepi

 

menyeberang ke pulaumu

tak ada kapal mengantar

 

 

KEPADA PENGARANG PANDIR

 

kau tak akan pernah tahu

dari mana aku datang,

lalu menyimpan rahasia

dalam tubuhmu. sebelum

langit mengubur, matahari

padam — kota jadi lengang,

kita hanya saling pandang

: sebentar — “tak ada kisah

tentangku dari mana dan

ke mana, kecuali kau dengar

dari orangorang itu; pengarang

yang pandir,” bisikku. aku khawatir

ada yang mendengar lalu

ditenggelamkan makin dalam

 

pengarang yang pandir, piawai

sekali menyusun peristiwa. jadi

cerita, meski sesaat kemudian

dilupakan. kota kembali membuat

kejadiankejadian yang pekat

kita seperti mengenyut cokelat

 

dengan cara apa kita membaca

cerita yang ditulis pengarang

pandir?

 

susun pertanyaan demi pertanyaan

sampai kita lelah dan pingsan

 

 

SELEPAS SUBUH

 

selepas subuh tadi

aku tak melihatmu

padahal sudah kusiapkan

segala yang kujanjikan

 

— jam di lenganku, kalimat

yang tercipta di bibirku, jarak

dalam hitungan di langkahku

bahkan mataku ini yang lama

mengingat wajahmu —

 

tapi, aku kembali pulang

di semaksemak itu tak ada

jejakmu

di jalan yang kujejaki

tiada pula bekas langkahmu

 

di pasirpasir yang terbentang

hanya ada ombak pergi dan datang

 

ISBEDY STIAWAN ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di pelbagai media massa seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, dan lain-lain. Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020), dan Kau Kekasih Aku Kelasi (2021).

Pos terkait