KARYA SASTRA; SELAIN PUBLIKASI, BUTUH APA LAGI?

Catatan Redaktur Rubrik Sastra : Dee Hwang

Media-media online makin semarak, bergeliat. Tidak hanya di pusat, namun lahir dan gampang tergapai juga aksesnya di wilayah “pedalaman”. Sekiranya pada mereka jugalah, rubrik-rubrik sastra masih bisa ditemukan, bahkan cenderung lebih interaktif dan puspa ragam. Apalagi didukung perubahan perilaku masyarakat kini. Perilaku konsumsi dunia literasi yang terbentuk sebelum era digital melebur; kemudahan akses informasi memudahkan pembaca berinteraksi dengan berbagai karya, dan penulis dapat gampang mengirimkan karya ke mana pun mereka mau. Setidaknya dunia sastra masih boleh dikatakan bertahan, sekalipun yang mencolok satu dekade belakangan—menyoal ruang pemuatan karya-karya sastra di Indonesia—adalah berkurangnya juga umur media-media cetak.

Persoalan medium ini, Pendapat Sutan Iwan Soekri dalam artikelnya “Soal Eksplorasi Estetika Sastra Internet”, yang terbit dua puluh tahun lalu terasa masih relevan. Ia menyatakan internet tetap hanyalah sebuah medium dengan kelebihan maupun kekurangannya, tak lebih hebat dan buruk dibandingkan media konvensional lainnya. Dengan kata lain, baik cetak atau online memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Maka pertimbangan sehat atau tidaknya karya (izinkan saya meminjam istilah Abdul Wahid B.S), saya kira tetaplah dari bagaimana karya-karya sastra itu diperlakukan selanjutnya—bergandengannya karya sastra dan ruang kritik.

Urusan kualitas, apapun mediumnya, yang berlabel nasional tetap tak lepas dari anggapan paling seksi; selain selalu diisi sastrawan menara gading, mereka kadang dianggap legitimator kualitas. Dukungan fasilitas yang lengkap di pusat, juga berhamburannya ruang-ruang akademik dan berkesenian sebagai tempat output karya sastra itu sendiri, saya kira mendukung anggapan itu. Namun sesungguhnya di tiap meja redaksi mana saja, naskah-naskah tak luput dari seleksi. Tentu (dan semoga) tidak secara serampang dan subjektif. Maka bukanlah tidak mungkin naskah-naskah pernah dipertimbangkan karena berurusan dengan kebaharuannya (meski, masalahnya yang lahir itu boleh jadi memang segelintir, atau memang ada urusan-urusan lain yang menahannya naik).

Setelah dinyatakan layak terbit, karya-karya tetap diharuskan menghadapi pertarungan yang lain lagi. Bukanlah jaminan setelah dilepas ke publik naskah yang naik bisa menjadi naskah terbaik. Disitulah ia mulai bekerja. Perkara publikasi karya, memang perlu disokong pembaca yang sungguh-sungguh, mau di dalam atau di luar kamarnya. Karena kelangsungan hidup dunia sastra tak hanya bergantung pada ketersediaan wadah publikasi saja. Untuk memaknai muatannya, termasuk apakah ia memuat kebaharuan atau tidak, butuh banyak campur tangan dan kejelian tertentu dalam memetakan definisi.

*****

Apapun medium publikasi itu, itulah salah satu jembatan komunikasi penulis. Kehadirannya penting. Hari ini akses informasi tentang karya-karya sastra begitu mudah, membuat penulis-penulis dari daerah jauh lebih gampang dikenali. Meski tentu, akibat ini kita akan berhadapan dengan pertanyaan lain lagi : Dengan dikenalnya penulis-penulis dari daerah itu, dengan kemampuan cepat-akses pembaca, apakah iklim sastra di daerah-daerah mereka artinya akan turut terpelihara? Atau mari kita perjelas pertanyaan itu dengan, bagaimana dengan urusannya di wilayah pinggiran, daerah-daerah yang tak lagi pusing masalah konektivitas, gampang mengakses karya-karya penulis daerah mereka, namun tetap asing dengan dunia kesusastraan? Dukungan untuk itu saya kira tidak sekedar dari jumlah publikasi atau kemudahan akses karya saja. Karya-karya dapat menemukan jalan ke pembaca, melalui pembacaan yang, sekali lagi, sungguh-sungguh.

Karya-karya sastra yang terpublikasi ini lengannya masih perlu dibentangkan lebar-lebar; tak cukup dijadikan objek kajian untuk didiskusikan, namun mesti sampai ke tahap perenungan dan implementasi karya. Kegiatan lanjutan semacam apresiasi dan kritik sastra itu, tidak cuma terbatas pada tradisi tulis atau pemberian penghargaan di daerah-daerah saja. Ia bisa dibicarakan melalui kelas-kelas, atau ruang belajar sejenisnya. Bila selama ini basis diskusi karya sastra adalah kampus-kampus, setidaknya para pengajar bisa membicarakannya di tingkat pendidikan yang lebih rendah, lewat pendekatan kontekstual. Bahkan alih wahana oleh para pelaku kesenian daerah untuk interpretasi karya sastra, wajib dilakukan. Dengan demikian akan nampak representasi karya sastra penulis mereka, bagi mula garba kelahirannya sendiri—masyarakat setempat.

Karya-karya sastra perlu dikaji, didiskusikan, ditempatkan posisinya dengan mesti. Agar semakin semarak dan merambah ke daerah-daerah itulah, upaya ini mesti dilakukan oleh siapa saja, dari beragam latar belakang pendidikan. Semuanya diperbolehkan aktif mengambil tempat, selama muatan karya sastra itu dapat dimiliki utuh, tidak cuma jadi kemewahan yang dimiliki komunitas tertentu. Hal-hal yang disebutkan sebelumnya pun sifatnya tidak bisa tidak. Memang mesti saling melahirkan demikian adanya, demi menghasilkan karya yang lebih kreatif lagi.

Agar sehat, karya sastra membutuhkan lebih dari sekedar ruang publikasi untuk bertahan, dan selaiknya pertumbuhan-pertumbuhan yang pantas dianalogikan, kualitas satu karya sastra dan labelisasi kesastrawanan kreatornya tidak cukup didapat dari banyaknya karya terpublikasi. Entah terbit di media cetak ataukah online, mereka perlu diuji dengan banyak dibicarakan. Entah menjadi kawan ataukah lawan kemudian. Sehingga dapatlah terungkap kedalaman, kualitas, dan identitasnya, semacam menemukan langkah-langkah apa yang bisa diterapkan dari pembacaan karya-karya tersebut. Karena bukankah karya-karya sastra juga berangkat dari kebutuhan merespon sebuah hal?

Lantas bagaimana dengan keadaan dunia sastra di daerah kita hari ini? Berkenaan dengan menghasilkan karya-karya berkualitas dan memperjuangkan suaranya, setidaknya berkenanlah pula memeriksa isi dalam “tas” kita masing-masing. Pertanyaan terakhir kita akan seperti ini : Apa spirit sastra sudah terbagul di belakang punggung, atau yang memberati kita selama ini ternyata sesuatu yang lain? Bekerja di dunia sastra kadang tentang menggauli beberapa pilihan saja. Tetap riang meski berpeluang menggigiti keping kayu dan menggadaikan kancing-kancing logam guna membayar lapar—semacam tokoh Aku dalam Sult-nya Knut Hamsun—atau duduk manis bekerja, tak acuh pada urusan eksternal yang merepotkan. Semacam menulis lewat kesadaran, yang bikin tak sadar karena telah mengerdilkan pikiran. Produktif, betul. Namun karya-karyanya asyik dalam dunianya sendiri; mandul-suara.

*****

DEE HWANG, Kelahiran Lahat, 9 September 1991. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan online. Pernah menjadi ilustrator isi untuk buku puisi Pada Sayap Kuda Terbang – Saifa Abdillah (2017), buku tunggalnya Serunting (2019), dan Penulis yang Merancang Kematian Tokoh Utamanya (2019). Aktif sebagai pengisi suara dalam kanal youtube “Secarik Pesan di Saku Bajumu”. Kini dipercaya sebagai Redaktur untuk Rubrik Sastra Wartabianglala. Penulis bisa dihubungi melalui Instagram @secarikpesandisakubajumu atau email deedeehwang@gmail.com

Lahat, 09 April 2021

Pos terkait