• Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional
Senin, Juni 1, 2026
  • Login
  • Register
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
No Result
View All Result
Warta Bianglala
Advertisement
  • Berita Otomotif
  • Berita Olahraga
  • Kejahatan
  • Nissan
  • Bulutangkis
  • DKI Jakarta
  • gerindra
No Result
View All Result
Warta Bianglala
No Result
View All Result
Home Kabar Hari Ini

MENYIASATI JARAK TANPA MUDIK

Aan Jasudra by Aan Jasudra
29 April 2021
in Kabar Hari Ini, Opini
0 0
0
MENYIASATI JARAK TANPA MUDIK
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Dee Hwang
_______________________

Bicara karya sastra dan situasi kita hari ini, maka karya-karya Umar Kayam, bagi pembaca yang familiar dengan kekaryaannya, sebagian menempatkan diri di tema-tema berikut; puasa, menjelang hari raya, mudik. Ia menyorot ketimpangan orang kelas bawah dalam fenomena tersebut. Menjelang Lebaran (1998), misalnya, menggambarkan situasi krisis ekonomi yang dihadapi satu keluarga. Si suami kena PHK, harga-harga di pasar swalayan naik gila-gilaan. Keluarga ini terpaksa membatalkan keberangkatan mudik ke Jawa dan mengatur ulang gaji asisten rumah tangganya. Cerpennya yang lain, Ke Solo, Ke Njati (1991), membawa kita pada keruwetan fasilitas perjalanan yang disesaki pemudik. Tokoh utama dan anak-anaknya berencana melakukan mudik dari Jakarta ke Njati. Sayang perjuangan mereka sejak lebaran pertama dan kedua tak membawa hasil. Mereka tak kunjung mendapat kursi bis, sementara uang mereka menipis akibat karcis calo, ongkos bajaj, oleh-oleh yang remuk.

Dalam Lebaran Ini, Saya Harus Pulang (1999), Umar Kayam masih menggerakkan tokoh-tokohnya di keresahan serupa. Kebutuhan mudik itu ditempatkan dalam posisi terdesak. Nem, tokoh utama, adalah asisten rumah tangga yang membujuk majikannya agar memperbolehkan dirinya pulang kampung. Izin libur didapatkan, namun ia juga gelisah bila harta bendanya habis dijual keluarga karena desa-desa semakin rusuh dan melarat. Gagasan ini sebetulnya bersepakat dengan penjelasan di tengah cerita, bahwa tokoh utama ikhlas harta bendanya digunakan kemenakannya untuk pemenuhan hidup sehari-hari di desa. Buktinya, dalam rasa campur aduk itu, kisah diakhiri dengan “dalam tidur itu, ajaib, mulut Nem masih kelihatan menyungging senyum”. Mudik menjadi jembatan gap nilai-nilai, karena perkotaan menawarkan alienasi, individualisme, dan sifat-sifat berperhitungan.

Umar Kayam bukan satu-satunya sastrawan yang menyentil problema ini. Dalam novel bertajuk Dari Hari ke Hari (1975) karangan Mahbub Djunaidi, meski tak penuh, fenomena ini dijentik jua. Penulis mengangkat situasi bulan puasa di mata para pengungsi. “Pengungsi dewasa terisak-isak, teringat kampung dan beduk suraunya masing-masing”, mereka yang mengungsi oleh gejolak pasca kemerdekaan RI itu, melalui serangkai kepedihan atas kerinduan kampung halaman.

Kemudian, sebutlah Ahmad Tohari dan Putu Wijaya, yang masing-masing cerpennya dimuat bersama penulis Indonesia lain di Mudik (1996). Ahmad Tohari dalam Wangon-Jatilawang menguraikan kisah Sulam, lelaki kerdil keterbelakangan mental. Ia setiap hari melakukan perjalanan dari Wangon ke Jatilawang, dengan rumah tokoh utama sebagai persinggahan. Sementara Putu Wijaya dalam Eyang, menarik pembaca dalam pengisahan sama miris. Tersebutlah tokoh utama dan keluarganya yang tidak mudik, karena terhimpit ekonomi dan berpikir, kalau hati kami sudah di situ hambur-hambur duit aja!

Meski kedua cerita itu terkesan samar dalam menampilkan judul besarnya—merujuk pemilihan judul buku itu sendiri, Mudik milik Mustofa W. Hasyim yang mewakili betul pembahasan kita ini—keduanya tetap menyembulkan keterbatasan kaum marjinal dalam interaksi sosialnya, terkhusus menghadapi fenomena mudik tersebut.

Mudik (homecoming), bolehlah kita dekatkan keterjadiannya karena hadirnya ikatan-ikatan dalam realitas sosial. Dari hubungan sosiokultural yang khusus, ia menjelma kegiatan komunal atas kesamaan waktu-ide, dan bersifat sementara. Mudik menjelma tradisi, semacam jiplakan masa lalu yang dijadikan agenda berkala; paling tidak sekali seumur hidup, mudik telah kita saksikan bahkan pernah kita lakoni. Karena ia dihidupkan di berbagai perayaan bersama, seperti tahun baru, natal, libur semester kuliah, bahkan sebentar lagi, lebaran.

Di Indonesia, wilayah pusat dan daerah kentara perbedaan nilai-nilainya, sehingga mudik jadi opsi mewaraskan diri. Kegiatannya dimotivasi dari dalam, bisa jadi personal dan sentimentil, ia dihadirkan karena kesadaran-pemenuhan atas realitas antarpersonal manusia itu sendiri.

Boleh jadi buat menyudahi macetnya komunikasi, atau kesadaran atas posisinya dalam sistem sosial. Ia dilakukan dengan sukarela bukan sekedar karena ikatan emosional, namun juga menjadi wilayah bagi seseorang menentukan standar keunggulannya dalam prestasi-prestasi. Meski demikian, ia secara sadar dilakukan untuk mengisi semangat, refleksi diri, katakanlah dilakukan atas kesadaran identitas, baik melalui sejarah yang pernah ia lalui atau melalui pengakuan orang-orang yang memegang tali perkawanan-perkawinan.

Sapardi Djoko Damono dalam Sosiologi Sastra, menjelaskan sastrawan adalah anggota masyarakat; ia terikat status sosial tertentu. Sehingga sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat. Jadi meski ia tidak dapat dikatakan dengan jelas sebagai cermin masyarakat seutuhnya—karena juga mesti dipertimbangkan dari pandangan sosial pengarangnya sendiri—sastra jelas berurusan dengan masyarakat dan interaksinya. Oleh itulah kehirukpikukan mudik sering jadi tema dalam karya sastra.

Karya-karya sastra yang telah disebutkan di atas adalah sejumlah kecil, yang menggambarkan ketimpangan perilaku mudik. Kepasrahan keadaan, termasuk kenyataan bahwa dalam himpitan apapun mudik menjadi semacam keniscayaan buat dilakukan.

Apakah kenekatan itu akan berlaku di tahun ini? Indonesia masih menghadapi persoalan sama; perang melawan COVID-19. Masalah mudik atau tidak, pemerintah telah mengetatkan peraturan. Satgas Covid-19 mengeluarkan addendum Surat Edaran Nomor 13 tahun 2021, tentang peniadaan mudik hari raya Idul Fitri 1442 H. Kini urusan mudik tak hanya dipertimbangkan dari tingkat kesejahteraan pelaku, pelayanan fasilitas perjalanan, atau gejolak politik negara. Namun juga rangka pengendalian penyebaran virus corona. Kita telah melakukan upaya jaga jarak bahkan sebelum bulan puasa, dan ujian masih berlaku, untuk melihat apakah kita termasuk yang masih patuh tentang ini.

Peniadaan mudik seperti meniadakan warna-warna tertentu dalam perayaan. Terasa mengurangi kemeriahan. Namun sejatinya Indonesia dan dunia masih diuji. Dalam kelindan beban bulan ini, urusan menahan diri tidak lagi masalah lapar saja. Nafsu nyatanya makin harus ditekan, agar ego kita tak merugikan orang lain. Kita wajib meringankan beban sesama dengan menahan diri melakukan perjalanan, pilihan waras agar bisa saling menjaga satu sama lain.

Joko Pinurbo dalam puisinya, Mudik, memandang waktu sebagai sesuatu yang simpel dan sederhana, namun lengkap dengan kemuraman yang lekat padanya. Ia menyingkap hasil kerja waktu, yang bisa menimbulkan sedikit penyesalan. Begitu simpel dan sederhana sampai aku tak tahu, butiran waktu sedang meleleh dari mataku. Semacam menyingkap fakta bahwa sesungguhnya waktu bekerja terbalik, dari kegembiraan pertemuan-pertemuan. Tahun ini menawarkan pemaknaan pulang dari sisi berbeda—kita saling berjauhan, kehilangan banyak kawan. Maka menyambut lebaran kelak, bolehlah ingatan menyusupi pembicaraan jarak jauh.

Segembira atau sepahit apa pun kenangan, itu juga salah satu cara memelihara hidup.

_________________________

DEE HWANG, Kelahiran Lahat, 9 September 1991. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan online. Aktif sebagai pengisi suara dalam kanal youtube “Secarik Pesan di Saku Bajumu”. Bisa dihubungi melalui Instagram @secarikpesandisakubajumu atau email deedeehwang@gmail.com

Aan Jasudra

Aan Jasudra

Stay Connected test

  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Bupati Lahat Lantik Pejabat Baru dan Plt, Tegaskan Integritas serta Kinerja Nyata

Bupati Lahat Lantik Pejabat Baru dan Plt, Tegaskan Integritas serta Kinerja Nyata

21 April 2026
Mengenal Lebih Dekat Dr. Izromaita: Putra Daerah “Lulusan Terbaik” yang Kini Menakhodai Birokrasi Kabupaten Lahat

Mengenal Lebih Dekat Dr. Izromaita: Putra Daerah “Lulusan Terbaik” yang Kini Menakhodai Birokrasi Kabupaten Lahat

21 April 2026
Resmi Dilantik, Sekda Lahat Targetkan Evaluasi OPD Tuntas dalam Satu Bulan

Resmi Dilantik, Sekda Lahat Targetkan Evaluasi OPD Tuntas dalam Satu Bulan

21 April 2026
Dari Kapur Tulis hingga Kursi Kadis: Jejak Inspiratif Sang “ASN Inspiratif” Hasperi Susanto

Dari Kapur Tulis hingga Kursi Kadis: Jejak Inspiratif Sang “ASN Inspiratif” Hasperi Susanto

21 April 2026
Hadiri Panen Raya Jagung di OKU Selatan, Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Sumsel Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Hadiri Panen Raya Jagung di OKU Selatan, Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Sumsel Dukung Ketahanan Pangan Nasional

1
Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

0
Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
Kapolres Muara Enim Pererat Silaturahmi Lewat Olahraga Sepak Bola Bersama Klub Bola Muara Enim

Kapolres Muara Enim Pererat Silaturahmi Lewat Olahraga Sepak Bola Bersama Klub Bola Muara Enim

28 Mei 2026
Humanis Dan Peduli, Polres Muara Enim Sembelij 26 Hewan Kurban

Humanis Dan Peduli, Polres Muara Enim Sembelij 26 Hewan Kurban

27 Mei 2026

Sholat Adul Adha di Masjid Agung, Bupati Edison: Momentum Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian

27 Mei 2026
Hadiri RAT ke-39 KUD Panca Mulya, Kapolsek Rambang Apresiasi Kinerja Tertib dan Aktif

Hadiri RAT ke-39 KUD Panca Mulya, Kapolsek Rambang Apresiasi Kinerja Tertib dan Aktif

25 Mei 2026

Recent News

Kapolres Muara Enim Pererat Silaturahmi Lewat Olahraga Sepak Bola Bersama Klub Bola Muara Enim

Kapolres Muara Enim Pererat Silaturahmi Lewat Olahraga Sepak Bola Bersama Klub Bola Muara Enim

28 Mei 2026
Humanis Dan Peduli, Polres Muara Enim Sembelij 26 Hewan Kurban

Humanis Dan Peduli, Polres Muara Enim Sembelij 26 Hewan Kurban

27 Mei 2026

Sholat Adul Adha di Masjid Agung, Bupati Edison: Momentum Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian

27 Mei 2026
Hadiri RAT ke-39 KUD Panca Mulya, Kapolsek Rambang Apresiasi Kinerja Tertib dan Aktif

Hadiri RAT ke-39 KUD Panca Mulya, Kapolsek Rambang Apresiasi Kinerja Tertib dan Aktif

25 Mei 2026

Follow Us

Browse by Category

  • Agama
  • Apps
  • Artikel
  • Bali
  • Bandar Agung
  • Bandar Jaya
  • Banyuasin
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Business
  • Cerpen
  • Desa
  • E-Sport
  • Ekonomi & Bisnis
  • Empat Lawang
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Essay
  • Fashion
  • Feature
  • Food
  • Gadget
  • Gaming
  • Gumay Talang
  • Gumay Ulu
  • Gunung Gajah
  • Health
  • IPTEK
  • Jakarta
  • Japehan Kang Yardi
  • Jarai
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Kabar Hari Ini
  • Kaltim
  • Kecamatan
  • Kejadian besar hari ini
  • Kelurahan
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Kikim Barat
  • Kikim Selatan
  • Kikim Tengah
  • Kikim Timur
  • Kisah Inspiratif
  • KKN (Korupsi
  • Kota Agung
  • Kota Baru
  • Kota Jaya
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Lahat
  • Lahat
  • Lahat Selatan
  • Lahat Tengah
  • Lakalantas
  • Lampung
  • Lifestyle
  • Lingkungan
  • Literasi
  • Lubuklinggau
  • Malaysia
  • Merapi Barat
  • Merapi Selatan
  • Merapi Timur
  • Mobile
  • Movie
  • Muara Enim
  • Muara Payang
  • Mulak Sebingkai
  • Mulak Ulu
  • Musi Banyuasin (Muba)
  • Musi Rawas
  • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Music
  • Narkotika
  • Nasional
  • Nepotisme)
  • News
  • Obituari
  • Ogan Ilir (OI)
  • Ogan Komering Ilir (OKI)
  • Ogan Komering Ulu (OKU)
  • OKU Selatan
  • OKU Timur
  • Olahraga
  • Opini
  • Ormas dan Komunitas
  • Otomotif
  • Pagar Agung
  • Pagar Gunung
  • Pagaralam
  • Pajar Bulan
  • Palembang
  • Pali
  • pangkal Pinang
  • Pangkalpinang
  • Pariwisata
  • Parlemen – DPR
  • Pasar Baru
  • Pasar Bawah
  • Pasar Lama
  • Pembangunan
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Penukal Abab
  • Pertanian
  • Perusahaan
  • Pilkada Lahat 2024
  • Politics
  • Politik
  • Porprov XIV Kabupaten Lahat
  • Prabumulih
  • Profil
  • Pseksu
  • Puisi
  • Pulau Pinang
  • RD PJKA
  • Review
  • Riau
  • Sastra
  • Science
  • Seni & Budaya
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sports
  • Startup
  • Suka Merindu
  • Sumbar
  • Surat buat Cik Ujang
  • Surat Cinta buat Kak Wari
  • Talang Jawa Selatan
  • Talang Jawa Utara
  • Tanggerang
  • Tanjung Sakti PUMI
  • Tanjung Sakti PUMU
  • Tanjung Tebat
  • Tech
  • TNI & Polri
  • Travel
  • Uncategorized
  • World
  • Yogyakarta
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Karir
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan

© 2026 by Ricko Hazadi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Palembang
  • Lahat
  • Muara Enim
  • Empat Lawang
  • Pagaralam
  • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara (Muratara)
  • Lubuklinggau
  • Nasional

© 2026 by Ricko Hazadi

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?