Lahat — Kalau organisasi itu diibaratkan mesin, maka Rakerda adalah momen buka kap mesin: ngecek mana yang masih nyala, mana yang cuma bunyi doang. SMSI Lahat tampaknya paham betul soal itu. Makanya, alih-alih nunggu mesin berasap, mereka memilih duduk bareng lebih awal.
Bertempat di kediaman Ketua SMSI Lahat, Minggu malam (05/04/2026), para pengurus baru yang belum lama dilantik di Pendopoan Rumah Dinas Bupati (02 April lalu) akhirnya duduk satu frekuensi. Bukan buat bahas siapa paling sibuk atau siapa paling sering kirim berita telat, tapi untuk sesuatu yang lebih “berat”: masa depan organisasi.
Ketua SMSI Lahat, Muchtarim, tampaknya sadar betul bahwa organisasi tanpa arah itu mirip media tanpa verifikasi, cepat, tapi rawan salah. Makanya, Rakerda ini dijadikan titik awal buat merapikan barisan.
“Melalui Rakerda ini, kita ingin memperkuat sinergi antar anggota, meningkatkan kapasitas media siber di Kabupaten Lahat, serta memastikan peran pers tetap sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan pembangunan,” katanya.
Kalimatnya formal. Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi: “Kita ini harus kompak, jangan jalan sendiri-sendiri, dan jangan sampai media cuma jadi tukang share tanpa mikir.”

Di tengah zaman di mana semua orang bisa jadi “media” (cukup modal kuota dan keberanian bikin caption)SMSI tampaknya ingin mengingatkan satu hal penting: jurnalisme itu bukan sekadar cepat, tapi juga tepat.
Rakerda ini juga jadi semacam “introspeksi berjamaah”. Bahwa di tengah derasnya arus informasi digital yang kadang lebih kencang dari logika, insan media siber tetap punya tanggung jawab: menyaring, bukan sekadar menyebar.
Ngomongin program kerja, tentu saja ada. Mulai dari agenda tahunan, sampai upaya memperkuat hubungan dengan pemerintah daerah dan stakeholder. Karena di dunia nyata, idealisme tetap butuh relasi, biar nggak jalan sendirian sambil ngomel di pojokan.
Yang menarik, semangat yang diusung bukan cuma soal eksistensi, tapi juga soal integritas. Sebuah kata yang sering terdengar klise, tapi justru makin langka di era sekarang.
Di akhir acara, harapannya sederhana tapi nggak sederhana: SMSI Lahat bisa jadi organisasi yang adaptif terhadap teknologi tanpa kehilangan akal sehat.
Karena pada akhirnya, jadi media itu bukan cuma soal siapa paling duluan upload. Tapi siapa yang masih waras di tengah kebisingan.
Dan mungkin, itu yang sedang dicoba dibangun lewat Rakerda ini: waras berjamaah.






