LAHAT — Niatnya mungkin mau “hepi-hepi santuy”, realitanya malah masuk episode polisi datang tanpa aba-aba. Begitulah nasib dua pria berinisial S (36) dan H (53) yang ke-gap lagi nongkrong sambil pegang “paket putih” di ruang tengah sebuah rumah di Desa Manggul, Kecamatan Lahat.
Rabu dini hari (1/4/2026), sekitar pukul 00.10 WIB, Satresnarkoba Polres Lahat mendarat ke lokasi yang—kata warga, sudah lama dicurigai jadi spot “transaksi senyap tapi rame order”. Bukan tongkrongan kopi, tapi tongkrongan yang kalau bahasannya sudah “barang”, obrolannya pasti pelan-pelan tapi tajam.
Pas digerebek, S dan H lagi duduk santai. Entah lagi nunggu “barang naik” atau baru selesai “nyicip tipis-tipis”. Tapi yang jelas, belum sempat bilang “aman bang”, polisi sudah duluan bilang: “nggak aman.”
Yang bikin makin nggak bisa ngeles: di depan mereka ada satu paket sabu 0,24 gram. Kecil, tapi efeknya bisa bikin orang ngerasa dunia slow motion—sampai akhirnya realita datang pakai seragam cokelat.
Dari interogasi awal, keduanya kompak kayak duo nongkrong: sabu itu hasil patungan. Modal Rp100 ribu, dibeli dari seseorang berinisial E. Istilahnya kalau di kalangan mereka: “joinan biar irit, yang penting bisa nge-fly bareng.” Sayangnya, yang ikut naik bukan cuma “feeling”, tapi juga risiko hukum.
Kasat Resnarkoba Polres Lahat, AKP L.A.E. Tambunan, S.H., M.H., memastikan kasus ini nggak bakal berhenti di level “user receh”.
“Kami sudah mengantongi identitas penyuplai. Tim sedang melakukan pengejaran. Ini tidak berhenti di pengguna atau pengedar kecil, tapi akan kami kembangkan sampai ke atas,” tegasnya.
Artinya: ini bukan sekadar nangkap yang lagi “pegang barang”, tapi juga ngejar yang main di belakang layar, yang biasanya cuma muncul pas transaksi dan hilang kayak sinyal di pelosok.
Sekarang, S dan H sudah diamankan di Mapolres Lahat. Selain barang bukti, keduanya juga jalani tes urine dan proses hukum lanjutan. Dari yang tadinya mungkin cuma pengen “enak sebentar”, sekarang harus siap hadapi proses panjang yang jelas nggak santuy.
Pelajaran pahitnya sederhana: dalam dunia “paket putih”, yang kelihatan receh sering kali ujungnya mahal. Dan “nge-fly tipis-tipis” itu sering berakhir dengan jatuh keras, langsung ke meja penyidik.






