Lahat – Di negeri yang katanya kaya sumber daya, urusan masak nasi saja bisa berubah jadi ujian mental. Itu yang lagi dirasakan warga Kecamatan Kikim Selatan, Sumatera Selatan. Gas LPG 3 Kg yang selama ini dielu-elukan sebagai “penolong rakyat kecil”, sekarang malah tampil kayak bos besar yang susah didekati, mahal pula.
Di Desa Tanjung Kurung, cerita soal gas melon ini bukan lagi sekadar keluhan, tapi sudah masuk level “ya sudahlah, mau gimana lagi”. Harga yang seharusnya ramah kantong justru naik kelas jadi Rp60 ribu per tabung. Iya, Rp60 ribu. Harga yang bikin orang mikir dua kali: ini mau beli gas atau cicilan hidup?
Seorang warga, yang memilih anonim (mungkin takut harga gas naik lagi kalau ngomong terang-terangan), bilang dengan nada pasrah:
“Kami terpaksa beli, kalau tidak bagaimana bisa masak untuk sehari-hari.”
Kalimat yang sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, ini semacam ultimatum dari hidup: mau makan, ya bayar mahal. Mau hemat, ya puasa.
Yang lebih ironis, di pangkalan resmi, yang harusnya jadi benteng terakhir kewarasan harga, situasinya nggak jauh beda. Harga masih nongkrong di angka Rp30 ribu per tabung. Itu pun dengan bonus antrean panjang yang lebih melelahkan daripada hubungan tanpa kepastian.
“Silakan aparat pemerintah Kabupaten Lahat dan aparat penegak hukum turun langsung ke Kikim Selatan. Di pangkalan saja kami sudah antre, harga masih Rp30 ribu,” kata warga tadi, yang tampaknya sudah lelah berharap tapi tetap berharap.
Nah, di titik ini, publik mulai mencium aroma yang bukan dari dapur. Ada dugaan rantai distribusi yang lebih berliku dari sinetron azab. Dari pangkalan ke pengecer, harga bisa lompat-lompat kayak lagi ikut lomba atletik. Yang di bawah cuma bisa jadi penonton, atau lebih tepatnya, korban.
Memang, katanya sekarang harga sudah “turun”. Dari Rp60 ribu jadi Rp40 ribu. Tapi turunnya ini bukan bikin lega, malah bikin bingung. Ini harga asli yang mana? Yang kemarin? Yang sekarang? Atau yang cuma ada di brosur pemerintah?
“Yang kami dengar tidak semahal ini,” tambah warga. Kalimat yang terdengar seperti mitos urban: harga murah itu ada, tapi entah di dimensi mana.
Di tengah ekonomi yang makin terasa kayak lari di treadmill, capek, tapi nggak ke mana-mana, mahalnya gas melon ini bukan sekadar soal angka. Ini soal bagaimana rakyat kecil dipaksa bernegosiasi dengan kebutuhan dasar. Mau masak atau mau hemat, dua-duanya sama-sama berat.
Warga jelas nggak minta banyak. Mereka cuma ingin satu hal sederhana: harga yang masuk akal dan distribusi yang nggak pakai drama. Tapi kalau gas subsidi saja sudah terasa seperti barang mewah, mungkin yang perlu diperiksa bukan cuma rantai distribusinya, tapi juga rasa empati yang entah nyasar ke mana.









