LAHAT — Di bawah temaram lampu glamping dan deru lirih aliran Sungai Lematang, sebuah kejutan manis tersemat dalam gelaran seni bertajuk “Berubah atau Punah”, Sabtu (07/03) malam lalu. Acara yang diinisiasi oleh para seniman Kabupaten Lahat ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas, namun juga melahirkan sebuah kisah unik yang melibatkan tokoh penting di Bumi Seganti Setungguan.
Puncak perhatian penonton tersita saat sesi lelang karya lukis dimulai. Di antara deretan karya yang dipajang, sebuah lukisan bernuansa alam dibalut pemandangan hijau yang asri, menjadi primadona. Ketua PGRI Lahat, Dr. Hasperi Susanto, yang hadir malam itu, tampak terpikat dan tanpa ragu memenangkan lelang lukisan tersebut dengan nilai Rp2.000.000.
Menariknya, selama proses lelang berlangsung, panitia sengaja menyimpan rapat identitas sang pelukis, membiarkan karya itu berbicara sendiri melalui goresan warnanya yang estetis.
Tabir misteri itu baru tersingkap dua hari kemudian. Bastian, perwakilan panitia, memberikan pernyataan mengejutkan pada Senin (09/03). Ia mengungkapkan bahwa lukisan yang kini sah menjadi milik Ketua PGRI tersebut bukanlah karya seniman biasa, melainkan buah tangan dari Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih.
“Karya yang dibawa pulang oleh Pak Hasperi adalah lukisan dari Ibu Wabup. Beliau melukisnya sehari sebelum acara di Rumah Dinas, namun memang belum sempat dibubuhi tanda tangan,” ungkap Bastian.
Ia menambahkan bahwa hasil lelang ini akan dikembalikan kepada pemilik karya dan sebagian disalurkan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan seni tersebut. “Ini adalah buah kolaborasi antara pegiat seni, UMKM, tokoh pemuda, hingga pemerintah. Kami ingin menciptakan ruang bagi kreativitas generasi mendatang dengan menjunjung tinggi nilai budaya dan pendidikan,” tuturnya.
Hasperi Susanto, yang baru mengetahui latar belakang lukisan tersebut, mengaku terkejut sekaligus merasa sangat beruntung. Baginya, lukisan itu memiliki daya tarik magis sejak pandangan pertama.
“Saya benar-benar kaget, sekaligus merasa mendapat kehormatan luar biasa. Sejak awal melihatnya, saya merasa lukisan bernuansa alam ini memiliki jiwa dan ketenangan yang luar biasa. Goresannya sangat halus dan artistik. Saya tidak menyangka jika ini adalah karya tangan dingin Ibu Wakil Bupati. Ini akan menjadi koleksi yang sangat berharga bagi saya,” ujar Hasperi dengan nada kagum.
Di sisi lain, Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih menyambut baik kabar suksesnya lelang tersebut dengan penuh syukur. Baginya, apresiasi ini adalah bentuk nyata dukungan terhadap ekosistem seni di Lahat.
“Alhamdulillah, semoga hasil lelang tersebut dapat membantu teman-teman panitia. Saya sangat mengapresiasi dan berharap acara seperti ini terus dilaksanakan secara rutin sebagai sarana untuk menyalurkan kreativitas anak muda kita,” singkat Widia saat dikonfirmasi.
Malam “Berubah atau Punah” di Lematang Riverside Glamping akhirnya tidak hanya menyisakan tawa dan musik reggae, tetapi juga sebuah catatan tentang bagaimana seni mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat, dari pejabat hingga pegiat jalanan, dalam satu harmoni dukungan yang tulus.






