Oleh: Chichi Permata (Ketua FLP Cabang Lahat)
Bulan Ramadhan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain sebagai waktu untuk menahan diri dari lapar dan dahaga, Ramadhan juga menjadi bulan penuh keberkahan di mana setiap amal baik dilipatgandakan pahalanya. Di tengah kesibukan menjalani ibadah puasa, ada satu hal yang tak boleh kita abaikan, yaitu produktivitas dalam berliterasi.
Sebagai seorang pegiat literasi, saya meyakini bahwa menulis dan membaca bukan hanya sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW sendiri menerima wahyu pertama dengan kata Iqra’, yang berarti “Bacalah.” Ini menegaskan bahwa literasi memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Maka, tidak berlebihan jika kita menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk semakin giat membaca, menulis, dan berbagi ilmu melalui tulisan.
Berpuasa bukan alasan untuk mengurangi produktivitas dalam berliterasi. Justru, di bulan yang suci ini, kita memiliki kesempatan untuk lebih fokus karena hati dan pikiran lebih jernih. Mengisi waktu dengan membaca buku, merenungkan makna kehidupan, dan menulis refleksi spiritual bisa menjadi cara untuk memperkaya diri sekaligus berbagi inspirasi kepada orang lain.
Selain itu, Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kisah-kisah inspiratif. Banyak cerita tentang perjuangan, keikhlasan, dan keteguhan iman yang dapat kita jadikan bahan tulisan. Kita bisa menuliskan pengalaman pribadi dalam menjalani ibadah puasa, berbagi hikmah dari perjalanan spiritual, atau bahkan mengabadikan kisah-kisah kebaikan yang terjadi di sekitar kita.
Komunitas literasi, seperti Forum Lingkar Pena (FLP), juga memiliki peran penting dalam menjaga semangat berliterasi selama Ramadhan. Kegiatan seperti diskusi buku, bedah karya, atau tantangan menulis bertema Ramadhan dapat menjadi pemicu untuk tetap produktif. Dengan saling berbagi dan menginspirasi, kita bisa menjadikan literasi sebagai bagian dari ibadah yang bernilai pahala.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri dari haus dan lapar, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Mari jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk memperkuat keimanan dan menyalakan semangat literasi. Dengan membaca, menulis, dan berbagi ilmu, kita tidak hanya mengisi waktu dengan hal yang produktif, tetapi juga menghidupkan ruh intelektual yang berlandaskan keimanan.
Lahat, 3 Maret 2025









