Ketuhanan Yang Maha Esa Demi Kepemimpinan Berdampak

“kenapa negara-negara lain maju, karena mereka (negara) itu takut dengan negara pesaing. Kenapa Indonesia tidak maju-maju, tuhan saja tidak pernah ditakuti”

(Prof Salim Said).

Ketika menjelang wafatnya, Umar bin Khattab berpesan untuk tidak memasukkan nama Abdulah bin Umar sebagai calon pengganti kepemimpinan kaum muslimin ke depan.
Alasannya cukup satu Umar saja dari garis keluarganya yang berat menjawab pertanyaan pertanggung jawaban dari tuhannya kelak. “Apa yang akan dikatakan Umar di hadapan Rabb-nya” begitu kalimat yang selalu keluar dari mulut Amirul mukminin ini dalam setiap kebijakannya.

Dari awal masa kepemimpinan Umar dan juga khalifah pendahulunya dilandasi dengan konsep ketuhanan. Konsep itu adalah sebuah rasa takut akan pertanggung jawaban kepemimpinannya kelak diakhir kesudahan.

Ketika kita menafsirkan sila pertama dari pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Pertama; bahwa setiap kepemimpinan yang hadir bagi seseorang adalah bukan hanya sekedar dari upaya dan kuasanya semata. Sangat amat bermasalah ketika menafsirkan apa yang kuasakan atas energi dan upayanya sendiri. Menafikkan peran tuhan disana. Pada puncaknya nanti justru malah mempertuhankan kekuasaan. Padahal sejarah tidak akan pernah ramah dengan orang-orang yang mengambil peran tuhan.
Kedua; ketika kita memahami bahwa kepemimpinan dengan konsep ketuhanan. Maka, kita memilih untuk menjadi orang-orang yang memikul beban kepemimpinan itu. Kekuasaan yang dicita-citakan adalah semata-mata menjadi perwakilan tuhan atas setiap perintah-Nya.

Kita tidak mencari yang lain dengan kekuasaan itu selain kebaikan bagi diri kita diakhirat kelak. Bukan sekedar popularitas dunia atau arogansi atas kemewahan dan kekuasaan. Semakin besar beban kekuasaan semakin besar pertanggungjawaban nantinya. Semakin besar pula peluang posisi kita di akhirat kelak. Surga tertinggi atau neraka terdalam. Itu konsekuensinya, tak ada pilihan lain.

“Sungguh aku sangat takut dengan neraka” ini adalah kalimat yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz. Keturunan Umar sebelumnya. Takdir berkata lain. Yang dahulu Umar bin Khattab menolak dari kalangan keluarganya untuk kembali memikul beban kepemimpinan. Justru Allah swt lebih tahu kepada pundak siapa beban ini harus dipikulkan.

Dari kalimat Umar bin Abdul Aziz kita memahami bahwa lagi-lagi konsep kepemimpinannya adalah berdasarkan ketuhanan. Ia memulai kepemimpinannya dengan melompat jauh ke akhir kesudahan kekuasaan atau kehidupannya kelak.

Dari kalimat pembuka itu Umar bin Abdul Aziz mengambil langkah untuk merubah dirinya sendiri terlebih dahulu. Dari seorang yang begitu mewah dalam kehidupannya ketika menjadi gubernur menjadi begitu memprihatinkan ketika menjabat pemimpin tertinggi Bani Ummayah. Beliau mahfum bahwa akan banyak yang diubah dari warisan kepemimpinan Bani Ummayah sebelumnya. Dan itu sangat membutuhkan energi yang begitu besar. Kekhawatiran akan hari akhir kelak menjadi sebuah energi yang begitu besar bagi dirinya untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai pemimpin. Tidak kurang selama 2,5 tahun Umar bin Abdul Aziz berhasil melakukan perubahan-perubahan yang dicita-citakan tersebut.

Beliau wafat dengan usia yang relatif masih muda belum lagi genap 40 tahun. Dimana usia ini justru dianggap menjadi tahun-tahun awal kebijaksanaan atau kepemimpinan. Tetapi justru Umar bin Abdul Aziz sudah melampaui itu semua pada usia dibawah itu.

“Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dimuka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” ini adalah ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya. Apa maknanya. ?!

Pertama; catatan sejarah tidak sedikit tentang kehancuran orang-orang yang sombong dengan kekuasaan atau kekayaan yang mereka miliki. Mereka menafsirkan bahwa kekuasaan dan kekayaan yang mereka miliki adalah mutlak dari daya dan upaya mereka sendiri. Terlalu berat bagi seorang pemimpin atau raja pada masa lalu untuk menerapkan konsep ketuhanan. Begitu pula yang diungkapkan oleh Abu Jahal ketika diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi Wa salam tentang konsep bertuhan dengan mengucapkan syahadat.. “Sungguh wahai Muhammad” ujar Abu Jahal. “Itu adalah kalimat yang paling dibenci oleh para raja sebelum-sebelumnya”.

Kedua; kekhawatiran pada negeri akhirat itu menjadi sebuah motivasi sekaligus energi besar untuk menggerakkan setiap langkah dan kebijakkan kepemimpinannya. Ketakutan inilah yang ujar Ustadz Anis Matta menjadi sebuah “Semangat Pertanggung Jawaban” yang sedari awal menjadi pilihan kita untuk meraih kekuasaan. Konsekuensi negeri akhirat lagi-lagi menjadi syarat untuk kita tidak bermain-main dalam kepemimpinan.

Semangat pertanggung jawaban itu bisa saja didorong dari hajat kita bersama untuk menentukan atau memilih siapa pemimpin kedepan misal sosok Anis Baswedan atau
Raffi Ahmad. Titik temunya tentu saja adalah semangat personal masing-masing calon tersebut untuk memikul beban bersama. Ketika kita semua menemukan motif yang benar dan niat yang lurus dalan menentukkan pemilihan kedepan maka itu harus dituntaskan. Semangat ini bukan sekedar guyonan atau rasa putus asa, kecewa dan kemarahan. Kepemimpinan harus dilandasi kesadaran dan berketuhanan.. kesadaran akan beban besar untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia..

Hari-hari kedapan tidak ada yang bisa memprediksi. “bangsa yang tidak dapat menghadapi tantangannya sendiri dengan caranya sendiri dipastikan akan mudah bubar” ucap Prof Salim Said. Kapitalisme suka atau tidak suka setidak sudah mampu memberi kesejahteraan pada dunia dibanding ideologi lainnya walau dengan kurun waktu yang cukup lama untuk mewujudkan itu. Ujar ustadz Anis. Dibanding Umar bin Abdul Aziz yang hanya membutuhkan waktu 2,5 tahun dengan usia kepemimpinan yang relatif sangat muda. Tapi lagi-lagi, tantangan kedepan belum ada yang bisa memprediksi. Kita meyakini semangat berketuhanan ini adalah konsep awal untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan..

Semangat kepemimpinan yang berketuhanan ini menjadikan kita lebih energik dan lebih bebas untuk bersama-sama mewujudkannya dengan berlandas kepada Persatuan Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2022

(Catatan Hefra Lahaldi)

Pos terkait