Apriyudi Hardian: Sudah Saatnya Sekolah di Lahat Belajar Secara Tatap Muka

wartabianglala.com – Menindaklanjuti pernyataan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat, Drs. Suhirdin, M.M beberapa waktu lalu tentang rencana sekolah SD dan SMP yang akan belajar secara tatap muka seusai PPKM, Ketua MPD PKS Kabupaten Lahat yang juga sekaligus Ketua Satgas Covid 19 PKS Lahat, Apriyudi Hardian, S.T menyupport pernyataan Kadisdik Lahat tersebut.

“Ini semua tanggung jawab kita bersama, bukan Disdikbud Lahat saja. Tanggung jawabnya Agar di mulailah belajar tatap muka, yang kena virus covid 19 apalagi gejala rata-rata isolasi mandiri sembuh dengan sendirinya. Jangan dibuat seram. Terus berita covid ini menjadikan masyarakat takut. Kita harus beradaptasi. Sekali lagi saya katakan, kita semua tidak akan lepas dari kematian, jangan seolah-olah di Kabupaten Lahat ini yang orang meninggal disebabkan covid 19 semua. Saya contohkan anak saya saat ini sudah kelas 2 SD, sampai sekarang belum bisa membaca, akibat hampir 2 tahun ini tidak tatap muka,” ujar Apriyudi Hardian. Minggu (08/08/2021).

Menurut Apriyudi, kekhwatiran kita semua jangan terlalu berlebihan. Kalau sudah dimulai, bisa evaluasi kondisi sekolah. Paling Jam belajar dikurangi, jumlah murid dikurangi 50% sebagaimana dicanangkan Disdikbud Lahat.

“Kalau libur bertahun-tahun seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, harus berani mengambil tindakan. Sekali lagi, ini bukan tanggung jawab diknas saja, tanggung jawab kita bersama, baik orang tua murid, guru, dan Pemkab Lahat. Virus covid ini kalo gejalanya sudah kena, cepat diatasi dan akan sembuh sendiri. Kalau lambat penanganannya sudah 2 minggu ditambah ada bawaan penyakit lain ini yang cepat ngedrop,menyebabkan sesak nafas,” ungkapnya.

Lebih lanjut Apriyudi menganjurkan, jika sekolah tatap muka sudah berjalan, mari bersama-sama mengawasinya. Imunitas anak-anak masih stabil. Yang banyak ngedrop justru orang tua, karena sudah banyak komplikasi penyakit lain.

“Kita harus memandang banyak dari sudut sisi jangan dari kesehatan saja. Sekolah-sekolah swasta juga siapa yang mau bertanggung jawab membayar gaji guru kalo sudah hampir 2 tahun libur. Rata-rata dari bayaran orang tua murid bisa membayar gaji guru. Sisi lain, roda perekonomian sangat berpengaruh denyut nadi lahat, salah satunya tukang ojek yang rata-rata dari jemputan anak sekolah, mereka juga punya anak istri. Apakah Disdikbud dan Pemkab Lahat sanggup menghidupi kehidupan mereka?” tegasnya.

“Jangan sampai masalah covid 19 di Lahat dibawa ke ranah politik. Lain lagi ceritanya, kita kupas habis bahas anggaran rumah sakit, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan dinas-dinas lain yang berkaitan anggaran covid 19. Mari kita berbenah diri dan mari kita akomodir permintaan orang tua murid yang menginginkan tatap muka,” pungkasnya.

(Aan Kunchay)

Pos terkait